Saham TINS dan ANTM Diprediksi Paling Aman Hadapi Risiko Ekspor 2026

Saham TINS dan ANTM Diprediksi Paling Aman Hadapi Risiko Ekspor 2026
Foto: Saham TINS dan ANTM Diprediksi Paling Aman Hadapi Risiko Ekspor 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

PT Timah Tbk (TINS) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dinilai memiliki daya tahan yang cukup kuat dalam menghadapi kebijakan baru pemerintah. Kebijakan tersebut berkaitan dengan pembentukan badan ekspor satu pintu yang akan dikelola oleh PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Pandangan optimis ini disampaikan oleh Kartika Sutandi, yang akrab disapa Tjoe Ay, selaku Founder sekaligus Chief Marketing Officer & Partner Jarvis Asset Management. Menurutnya, skema transaksi ekspor yang beralih ke Danantara tidak akan membawa dampak buruk bagi kedua emiten tambang pelat merah tersebut.

Analisis Ketahanan TINS dan ANTM

Tjoe Ay menjelaskan bahwa status ANTM dan TINS sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi keunggulan tersendiri dalam transisi ini. Karakteristik bisnis keduanya dianggap sudah sangat selaras dengan birokrasi pemerintahan, sehingga tidak memerlukan penyesuaian yang rumit.

Hubungan dengan pelanggan di pasar mancanegara juga diprediksi tetap stabil meski ada perubahan jalur administratif. Hal ini dikarenakan pembeli produk Timah sudah sangat terbiasa bertransaksi dengan entitas yang terafiliasi langsung dengan negara.

Beberapa faktor utama yang membuat kedua emiten ini tetap kokoh adalah sebagai berikut:

  • Kesiapan Infrastruktur BUMN: Sebagai bagian dari perusahaan negara, sistem operasional mereka sudah terintegrasi dengan kebijakan pusat.
  • Kepercayaan Pelanggan Global: Para pembeli luar negeri sudah memiliki hubungan jangka panjang dengan entitas BUMN Indonesia.
  • Porsi Pasar Domestik: Khusus untuk ANTM, kontribusi pendapatan dari pasar dalam negeri masih jauh lebih besar dibandingkan pasar ekspor.
  • Minim Adaptasi: Tidak diperlukan perubahan strategi bisnis yang besar karena hanya terjadi peralihan pintu administrasi ekspor ke Danantara.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa fokus bisnis kedua perusahaan tetap terjaga meskipun regulasi perdagangan luar negeri mengalami pengetatan. Skema satu pintu melalui Danantara justru dipandang sebagai langkah formalitas yang tidak mengubah fundamental bisnis mereka.

Fokus Pasar Lokal dan Internasional

Dalam diskusi di acara Stock Idea Festival 2026 di Jakarta, Tjoe Ay menekankan bahwa porsi ekspor ANTM sebenarnya relatif kecil. Mayoritas pendapatan emiten ini bersumber dari penyerapan pasar domestik yang terus menunjukkan pertumbuhan stabil.

Kondisi ini memberikan perlindungan tambahan bagi Aneka Tambang dari potensi fluktuasi atau kendala logistik di pasar global. Dengan demikian, risiko yang dikhawatirkan pelaku pasar terhadap kebijakan ekspor satu pintu ini menjadi lebih terbatas.

Berikut adalah ringkasan perbandingan profil risiko ekspor antara TINS dan ANTM:

Aspek Penilaian PT Timah Tbk (TINS) PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
Status Perusahaan BUMN / Anggota Holding Tambang BUMN / Anggota Holding Tambang
Dampak Kebijakan DSI Relatif Rendah dan Terkendali Sangat Terbatas karena Pasar Lokal Kuat
Kesiapan Buyer Sangat Terbiasa dengan Relasi BUMN Terfokus pada Konsumen Domestik
Potensi Gangguan Minimal pada Proses Transaksi Hampir Tidak Berdampak Signifikan

Tabel di atas merangkum mengapa kedua perusahaan ini dianggap lebih unggul dibandingkan perusahaan tambang swasta lainnya. Stabilitas koordinasi antara emiten dan badan pengelola ekspor menjadi kunci utama kelancaran operasional mereka ke depan.

Sorotan Terhadap Kebijakan Danantara

Kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia merupakan bagian dari strategi besar untuk mengamankan pendapatan negara dari sumber daya alam. Langkah ini bertujuan untuk memastikan setiap transaksi sumber daya strategis terpantau dengan akurat dan efisien.

Meskipun pasar sempat menyoroti risiko terhadap defisit fiskal, pandangan dari praktisi pasar modal justru melihat sisi positif dari sisi emiten. Tjoe Ay berpendapat bahwa navigasi bagi investor kini harus diarahkan pada perusahaan yang memiliki kedekatan struktural dengan pemerintah.

Beberapa poin penting terkait dinamika pasar modal saat ini yang perlu diperhatikan investor:

  • Sentimen Ekspor Satu Pintu: Kebijakan ini mewajibkan pendaftaran dan tahapan ketat bagi seluruh komoditas yang akan dijual keluar negeri.
  • Efek PPN 12 Persen: Adanya kenaikan PPN diprediksi akan memengaruhi fee transaksi saham di masa mendatang.
  • Perubahan Indeks FTSE: Keputusan terbaru menunjukkan adanya empat emiten asal Indonesia yang harus keluar dari daftar indeks global tersebut.
  • Sektor Pendukung Indeks: Sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI) tetap menjadi penopang utama bursa global seperti S&P 500.

Poin-poin tersebut menggambarkan situasi pasar yang cukup dinamis dan penuh dengan penyesuaian regulasi baru. Investor diharapkan dapat lebih selektif dalam memilih instrumen investasi yang tahan terhadap perubahan kebijakan pemerintah di sektor energi dan pertambangan.

Penyelenggaraan Stock Idea Festival 2026 sendiri bertujuan untuk memberikan panduan baru bagi para investor dalam mengelola portofolio mereka. Di tengah ketidakpastian global, emiten seperti TINS dan ANTM tetap menjadi pilihan yang menarik karena posisinya yang strategis di mata negara.

Dengan dukungan infrastruktur dari Danantara, diharapkan tata kelola ekspor komoditas Indonesia menjadi lebih transparan. Hal ini pada akhirnya akan memberikan kepastian hukum bagi para pelaku usaha sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian nasional secara keseluruhan.

Artikel terkait

Rekomendasi