Rupiah Masih Tertekan di Pasar Luar Negeri, Ini Prediksi Terbaru 2026

Rupiah Masih Tertekan di Pasar Luar Negeri, Ini Prediksi Terbaru 2026
Foto: Rupiah Masih Tertekan di Pasar Luar Negeri, Ini Prediksi Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau masih tertahan dalam perdagangan di pasar luar negeri pada pagi hari ini. Kondisi mata uang Garuda ini cenderung bergerak stagnan di posisi Rp17.657 per dolar AS.

Pergerakan mendatar tersebut terjadi setelah rupiah sempat mencatatkan penguatan sebesar 0,56% pada hari sebelumnya. Di sisi lain, indeks dolar AS masih menunjukkan kekuatan dengan bertahan di level tinggi 99,13.

Tekanan Pasar Global dan Dinamika Harga Minyak Dunia

Selain indeks dolar yang perkasa, harga minyak mentah dunia juga masih berada di level yang cukup signifikan. Saat ini, minyak jenis Brent tercatat bertengger di posisi US$105,8 per barel.

Sebelumnya, pasar komoditas energi ini sempat mengalami guncangan hebat dengan penurunan harga mencapai 5,6% pada hari Rabu. Penurunan tajam tersebut dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai hubungan diplomatik dengan Iran.

Trump menyebutkan bahwa pemerintahannya sedang berada dalam tahap akhir proses negosiasi dengan pihak Iran. Namun, optimisme pasar sempat terus terusik akibat adanya laporan lain yang memberikan informasi berbeda mengenai status perundingan tersebut.

Ketidakkonsistenan informasi terkait kesepakatan damai ini membuat harga minyak kembali merangkak naik. Meskipun potensi perdamaian bisa menekan harga, namun ketidakpastian di pasar saat ini masih dianggap sangat tinggi.

Dampak Gangguan Pasokan Energi dari Timur Tengah

Joe DeLaura, seorang Global Energy Strategist di Rabobank, memberikan pandangannya mengenai situasi logistik minyak dunia. Ia menjelaskan bahwa proses pengiriman komoditas dari Teluk Persia memerlukan waktu yang cukup lama untuk sampai ke tujuan akhir.

Berikut adalah poin-poin penting mengenai kondisi logistik minyak saat ini:

  • Waktu pengiriman minyak dari wilayah Teluk Persia menuju destinasi akhir bisa memakan waktu hingga 55 hari perjalanan.
  • Selama masa pengiriman tersebut, stok persediaan global diperkirakan akan terus mengalami penyusutan.
  • Adanya potensi ketidakseimbangan antara ketersediaan barang dengan permintaan yang terus berjalan di pasar internasional.

Penjelasan di atas menggambarkan betapa rentannya ketahanan energi global jika terjadi hambatan di jalur distribusi utama dunia. Gangguan sekecil apa pun pada rute ini dapat berdampak panjang pada harga pasar secara keseluruhan.

Pandangan yang lebih mengkhawatirkan datang dari Sultan Al Jaber selaku CEO Abu Dhabi National Oil Co. Menurutnya, pemulihan pasokan minyak dari Timur Tengah tidak akan terjadi secara instan meski konflik berakhir sekarang.

Ia memprediksi arus pasokan minyak secara penuh kemungkinan baru bisa kembali normal pada tahun 2027 mendatang. Al Jaber menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz merupakan insiden gangguan pasokan yang paling fatal dalam sejarah industri minyak.

Kebijakan Moneter dan Proyeksi Rupiah ke Depan

Di dalam negeri, otoritas moneter telah mengambil langkah antisipatif untuk merespons dinamika pasar yang tidak menentu. Bank Indonesia (BI) baru saja memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate guna menjaga stabilitas ekonomi.

Rangkuman perkembangan pasar keuangan dan kebijakan terbaru:

Indikator / Instrumen Status / Kebijakan Terbaru
BI Rate (Suku Bunga Acuan) Naik 50 bps menjadi 5,25%
Proyeksi Rupiah 2027 Target kisaran Rp16.800 – Rp17.500/US$
Pasar Saham (IHSG) Tertekan akibat kenaikan suku bunga
Pasar Obligasi Menuntut imbal hasil (yield) yang lebih tinggi

Data di atas menunjukkan bagaimana berbagai sektor keuangan bereaksi terhadap penyesuaian kebijakan moneter yang diambil oleh bank sentral. Kenaikan BI Rate menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah fokus melindungi nilai tukar di tengah ketidakpastian global.

Meskipun kenaikan suku bunga membuat pasar saham dan obligasi harus menyesuaikan diri, langkah ini diharapkan mampu menopang rupiah. Pemerintah sendiri telah mematok target nilai tukar yang cukup konservatif untuk jangka menengah demi menjaga kepercayaan investor.

Keputusan kenaikan suku bunga ini juga langsung berdampak pada pergerakan saham perbankan besar yang mulai menunjukkan tren positif. Pelaku pasar kini tengah menantikan pidato Presiden Prabowo yang diharapkan memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai arah ekonomi nasional.

Salah satu poin penting yang menjadi perhatian adalah rencana pengelolaan ekspor sumber daya alam melalui sistem satu pintu di bawah kontrol negara. Kebijakan ini diprediksi akan mulai berdampak signifikan pada tahun 2027, di mana sebagian besar hasil ekspor akan dikelola langsung oleh BUMN.

Artikel terkait

Rekomendasi