Ruben Onsu Curhat Pilu Sulit Temui Anak: Ayah Terasa Asing, Orang Asing Serasa Ayah

Ruben Onsu Curhat Pilu Sulit Temui Anak: Ayah Terasa Asing, Orang Asing Serasa Ayah
Foto: Ruben Onsu Curhat Pilu Sulit Temui Anak: Ayah Terasa Asing, Orang Asing Serasa Ayah. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Ketegangan antara Ruben Onsu dan Sarwendah pasca perceraian kembali mencuat ke publik. Perselisihan ini berfokus pada sulitnya Ruben menemui buah hatinya serta persoalan nafkah yang kini menjadi perdebatan hangat.

Minola Sebayang, selaku kuasa hukum Ruben Onsu, mengungkapkan bahwa kliennya merasa dibatasi untuk bertemu anak-anaknya. Kondisi ini dirasa tidak adil mengingat hak asuh berada di tangan Sarwendah namun akses bagi sang ayah kandung seolah dipersulit.

Ketimpangan Akses Bertemu Anak

Pihak Ruben menyoroti kehadiran sosok "orang asing" yang justru memiliki keleluasaan lebih besar untuk berinteraksi dengan anak-anak. Sosok tersebut merujuk pada Giorgio Antonio, kekasih Sarwendah saat ini, yang dinilai lebih mudah menemui mereka dibanding ayah kandungnya sendiri.

Minola menegaskan bahwa masalah utama bukan terletak pada rasa cemburu. Ia merasa khawatir jika porsi interaksi yang tidak seimbang ini akan mengubah persepsi anak-anak terhadap orang tua kandung mereka.

Dampak yang dikhawatirkan pihak Ruben Onsu antara lain:

  • Anak-anak berpotensi merasa asing dengan ayah kandungnya sendiri karena kurangnya waktu kebersamaan.
  • Adanya risiko munculnya rasa benci akibat minimnya interaksi dan kemungkinan informasi yang salah.
  • Pihak luar yang tidak memiliki ikatan darah justru dianggap sebagai sosok ayah oleh anak-anak.
  • Kesepakatan awal mengenai pembagian waktu pertemuan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Menurut Minola, situasi di mana "ayah terasa orang asing dan orang asing terasa ayah" harus segera dicegah. Hal ini demi menjaga kesehatan mental dan hubungan emosional antara Ruben dan anak-anaknya di masa depan.

Persoalan Nafkah dan Biaya Pendidikan

Ruben Onsu secara terbuka mengakui bahwa dirinya memang menghentikan pengiriman uang nafkah selama enam bulan terakhir. Langkah ini diambil sebagai bentuk protes atas sulitnya mendapatkan akses bertemu anak sesuai kesepakatan pengadilan.

Berdasarkan keputusan hukum, Ruben seharusnya memiliki waktu 3 hingga 4 hari dalam sepekan untuk bersama anak-anak. Namun, ia merasa komunikasi yang diupayakan selama ini tidak membuahkan hasil yang mudah sehingga masalah ini dikembalikan ke kuasa hukum.

Berikut adalah ringkasan perbedaan klaim antara pihak Ruben Onsu dan Sarwendah:

Topik Perselisihan Versi Ruben Onsu Versi Sarwendah
Waktu Bertemu Anak Dibatasi meski sudah ada kesepakatan 3-4 hari per minggu. Tidak disebutkan secara spesifik (fokus pada pengasuhan mandiri).
Uang Nafkah Sengaja dihentikan sebagai bentuk protes akses anak. Sudah tidak menerima nafkah sejak akhir tahun 2025.
Biaya Pendidikan Siap mengambil alih hak asuh jika pihak ibu tidak sanggup. Ditanggung sepenuhnya oleh Sarwendah sejak akhir 2025.
Aset Kendaraan Tidak memberikan pernyataan mendalam terkait mobil. Diteror debt collector atas aset yang disebut milik Ruben.

Tabel di atas menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang cukup tajam antara kedua belah pihak terkait kewajiban dan hak masing-masing. Ruben bahkan sempat menegaskan agar anak-anak diserahkan kepadanya jika pihak Sarwendah merasa keberatan membiayai mereka.

Di sisi lain, Abraham Simon selaku pengacara Sarwendah membeberkan fakta bahwa kliennya telah membiayai seluruh kebutuhan anak secara mandiri. Mulai dari biaya sekolah, kursus tambahan, hingga biaya pengobatan medis ditanggung oleh Sarwendah sejak akhir 2025.

Selain masalah nafkah, pihak Sarwendah juga mengeluhkan gangguan dari penagih utang terkait mobil yang diklaim sebagai aset Ruben. Kejadian ini dilaporkan telah terjadi dua kali dan sangat mengganggu kenyamanan Sarwendah yang merasa tidak lagi berkaitan dengan aset tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi