Relawan GSF Tiba di RI, Waka Komisi I DPR Apresiasi Langkah Cepat Pemerintah yang Resmi dan Aman di 2026

Relawan GSF Tiba di RI, Waka Komisi I DPR Apresiasi Langkah Cepat Pemerintah yang Resmi dan Aman di 2026
Foto: Relawan GSF Tiba di RI, Waka Komisi I DPR Apresiasi Langkah Cepat Pemerintah yang Resmi dan Aman di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Anton Sukartono Suratto, memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya diplomasi pemerintah dalam memulangkan relawan Global Sumud Flotilla (GSF) 2026. Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang sebelumnya ditahan oleh otoritas Israel tersebut kini telah tiba dengan selamat di tanah air.

Anton menilai kementerian terkait telah bekerja cepat dalam memberikan perlindungan hukum dan pendampingan sejak awal penahanan. Keberhasilan ini dianggap sebagai bukti nyata kehadiran negara bagi warganya yang sedang menghadapi masalah di luar negeri.

Dukungan Diplomasi dan Misi Kemanusiaan

Politisi Partai Demokrat ini menegaskan dukungannya kepada pemerintah untuk terus memprioritaskan keselamatan setiap warga negara. Ia juga mendorong agar Indonesia konsisten menyuarakan penghentian kekerasan dan agresi militer yang terjadi di wilayah Gaza.

Menurut Anton, langkah yang diambil Menteri Luar Negeri sejalan dengan komitmen Indonesia dalam memperjuangkan nilai kemanusiaan. Diplomasi internasional tetap menjadi jalur utama bagi Indonesia untuk mendukung hak-hak rakyat Palestina secara damai.

Di sisi lain, Anton mengecam keras perlakuan otoritas Israel terhadap para aktivis kemanusiaan yang tergabung dalam misi GSF tersebut. Ia menekankan bahwa tindakan terhadap relawan seharusnya tetap menghormati hukum humaniter internasional yang berlaku secara global.

Segala bentuk solidaritas kemanusiaan menurutnya harus direspons dengan pendekatan yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Penahanan dan perlakuan kasar terhadap relawan dianggap sebagai tindakan yang melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan universal.

Kronologi Kepulangan Relawan GSF

Sembilan relawan asal Indonesia tersebut mendarat di bandara pada Minggu (24/5) sore dan langsung disambut oleh Menteri Luar Negeri Sugiono. Kepulangan ini mengakhiri masa penahanan mereka setelah sempat dicegat oleh pasukan militer Israel di perairan internasional.

Peristiwa penangkapan bermula pada Senin (18/5) saat armada kapal bantuan kemanusiaan GSF dihadang secara bertahap. Seluruh relawan, termasuk delegasi dari Indonesia, baru dibebaskan pada Kamis (21/5) dan sempat transit di Turki sebelum terbang ke Jakarta.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa para relawan mengalami pengalaman pahit selama masa penahanan di bawah otoritas Israel. Terdapat indikasi adanya perlakuan tidak manusiawi, mulai dari kekerasan fisik hingga tindakan intimidasi lainnya terhadap para peserta misi.

Daftar relawan WNI yang berhasil dipulangkan ke Indonesia adalah sebagai berikut:

  • Herman Budianto Sudarson (GPCI - Dompet Dhuafa, Kapal Zapyro)
  • Ronggo Wirasanu (GPCI - Dompet Dhuafa, Kapal Zapyro)
  • Andi Angga Prasadewa (GPCI - Rumah Zakat, Kapal Josef)
  • Asad Aras Muhammad (GPCI - Spirit of Aqso, Kapal Kasr-1)
  • Hendro Prasetyo (GPCI - SMART 171, Kapal Kasr-1)
  • Bambang Noroyono (Jurnalis Republika, Kapal BoraLize)
  • Thoudy Badai Rifan Billah (Jurnalis Republika, Kapal Ozgurluk)
  • Andre Prasetyo Nugroho (Jurnalis Tempo, Kapal Ozgurluk)
  • Rahendro Herubowo (Tim Media GPCI dan iNews, Kapal Ozgurluk)

Data di atas menunjukkan bahwa delegasi Indonesia terdiri dari gabungan aktivis kemanusiaan dan jurnalis dari berbagai media nasional. Mereka tersebar di beberapa kapal berbeda dalam satu konvoi kemanusiaan Global Sumud Flotilla.

Berikut adalah ringkasan singkat lini masa penahanan hingga pembebasan relawan:

Tanggal Peristiwa Penting
18 Mei 2026 Kapal bantuan kemanusiaan GSF mulai dicegat militer Israel.
21 Mei 2026 Sembilan relawan WNI resmi dibebaskan dan diterbangkan ke Turki.
24 Mei 2026 Seluruh relawan tiba di Indonesia dan disambut Menlu RI.

Tabel tersebut menggambarkan durasi kritis sejak penangkapan hingga para relawan berhasil kembali ke pelukan keluarga. Proses yang tergolong cepat ini tidak lepas dari tekanan diplomatik dan koordinasi intensif di level internasional.

Artikel terkait

Rekomendasi