Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara: Dilema Ekonomi dan Infrastruktur Terbaru 2026

Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara: Dilema Ekonomi dan Infrastruktur Terbaru 2026
Foto: Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara: Dilema Ekonomi dan Infrastruktur Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks
Reaktivasi Bandara Husein: Tantangan Ekonomi dan Infrastruktur

Jakarta - Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyatakan rencananya untuk mereaktivasi Bandara Husein Sastranegara di Bandung. Langkah ini dianggap sebagai tantangan baru oleh para ahli.

Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno, menilai rencana ini memicu dilema antara pertumbuhan ekonomi jangka pendek dan investasi jangka panjang. Menurut Djoko, rencana tersebut melibatkan tarik-ulur antara kenyamanan konsumen saat ini dan keberlanjutan infrastruktur di masa depan.

Dampak Pariwisata dan Ekonomi:

Reaktivasi Bandara Husein diharapkan dapat memberi dampak positif pada ekonomi dan pariwisata di wilayah Bandung Raya. Hal ini memberikan peluang bagi pelaku usaha serta memudahkan akses untuk wisatawan lokal maupun internasional.

Djoko, yang juga menjabat sebagai Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), menyatakan bahwa akan ada peningkatan di sektor-sektor seperti perhotelan, restoran, kafe, industri kreatif, dan UMKM. Semua ini karena kembalinya pasar wisatawan yang sempat menurun.

Nasib Bandara Kertajati:

Sementara itu, terkait Bandara Kertajati di Majalengka, yang sebelumnya digadang-gadang sebagai pengganti Bandara Husein. Bandara ini dibangun sebagai gerbang utama Jawa Barat dengan investasi besar.

Namun, jika pesawat jet kembali diizinkan beroperasi di Bandung, daya tarik Bandara Kertajati untuk masyarakat Bandung Raya bisa menurun drastis. Kondisi ini dikhawatirkan membuat Kertajati sepi penumpang, merugikan investasi dan mengganggu pengembalian investasi.

Efisiensi Waktu dan Biaya:

Menurut Djoko, bagi konsumen, reaktivasi ini akan menghemat waktu dan biaya perjalanan. Warga Bandung yang ingin terbang ke kota seperti Medan, Bali, atau Surabaya, tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke Kertajati atau Bandara Soekarno-Hatta.

Keterbatasan Teknis Bandara Husein:

Secara teknis, Djoko mengingatkan adanya keterbatasan di Bandara Husein. Lokasinya dikelilingi pegunungan dan padat penduduk, serta landasan pacu hanya 2.600 meter, tidak mendukung pesawat berukuran besar.

Peluang untuk memperluas fasilitas fisik sangat terbatas. Dengan kapasitas yang ada, Bandara Husein berpotensi menghadapi kepadatan jika frekuensi penerbangan ditingkatkan agresif.

Namun, meski menawarkan pertumbuhan ekonomi instan, keberadaan bandara di pusat kota menjadi penghalang untuk pengembangan lebih lanjut di Bandung. Oleh karena itu, menurut Djoko, keputusan ini perlu dipertimbangkan secara matang.

Artikel terkait

Rekomendasi