Pramugari Hawaiian Airlines Kecewa, Aturan Baru Larang Pakai Bunga di Rute Internasional 2026

Pramugari Hawaiian Airlines Kecewa, Aturan Baru Larang Pakai Bunga di Rute Internasional 2026
Foto: Pramugari Hawaiian Airlines Kecewa, Aturan Baru Larang Pakai Bunga di Rute Internasional 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Identitas sebuah maskapai penerbangan sering kali terpancar melalui seragam yang dikenakan oleh para awak kabinnya. Seragam tersebut bukan sekadar pakaian kerja, melainkan simbol budaya yang membuat sebuah maskapai mudah dikenali oleh masyarakat luas di seluruh dunia.

Namun, langkah mengejutkan justru diambil oleh maskapai Hawaiian Airlines baru-baru ini. Perusahaan penerbangan tersebut memutuskan untuk menghapus beberapa aksesori ikonik yang telah melekat pada seragam pramugarinya selama puluhan tahun.

Beberapa item yang kini dilarang penggunaannya meliputi hiasan bunga di rambut, kemeja aloha hasil rancangan desainer Sig Zane, serta kalung bunga tradisional. Padahal, ketiga elemen tersebut telah menjadi standar berbusana awak kabin sebagai bentuk penghormatan terhadap kekayaan budaya Hawaii selama berdekade-dekade.

Perubahan besar ini tentu terasa kontras bagi maskapai yang memiliki logo "bunga langit" atau Pualani. Logo yang telah digunakan sejak tahun 1973 tersebut menggambarkan sosok wanita dengan bunga yang terselip cantik di rambutnya.

Dampak Merger dan Perubahan Identitas Visual

Inspirasi dari logo Pualani sendiri berasal dari sosok Leina'ala Ann Teruya Drummond. Ia merupakan pemenang kontes kecantikan Miss Hawaii tahun 1964 yang kemudian berkarier sebagai pramugari di maskapai tersebut.

Kebijakan mengenakan bunga di rambut sebenarnya sudah menjadi tradisi resmi bagi pramugari Hawaiian Airlines sejak era 1950-an. Keputusan untuk menghapus elemen budaya ini memberikan dampak yang cukup signifikan bagi para staf di lapangan.

Perubahan ini terutama dirasakan oleh para awak kabin yang berbasis di Bandara Internasional Seattle-Tacoma. Sekitar 250 pramugari yang kini ditugaskan kembali untuk melayani rute internasional jarak jauh tidak lagi diperbolehkan memakai aksesori khas tersebut.

Langkah baru ini merupakan dampak langsung dari proses merger antara Hawaiian Airlines dengan Alaska Airlines yang berada di bawah naungan Alaska Group. Sebagai gantinya, para pramugari kini diwajibkan mengenakan pakaian dengan nuansa yang berbeda.

Kini, mereka harus memakai atasan berwarna netral dengan motif yang terinspirasi dari keindahan fenomena Aurora Borealis khas Alaska. Pergeseran estetika ini menandai babak baru dalam integrasi identitas kedua perusahaan tersebut.

Alasan di Balik Penyeragaman Identitas Maskapai

Eric Edge, selaku Wakil Presiden Bidang Merek dan Pemasaran untuk Alaska dan Hawaiian, memberikan penjelasan terkait kebijakan tersebut. Menurutnya, keputusan ini bertujuan untuk menciptakan pengalaman merek yang lebih padu dan kohesif bagi para penumpang.

Ia menekankan bahwa upaya menggabungkan dua perusahaan dengan identitas budaya yang sangat kuat merupakan tantangan yang unik. Edge juga mengklaim bahwa langkah integrasi semacam ini belum pernah dilakukan oleh maskapai penerbangan lain di Amerika Serikat sebelumnya.

Pihak manajemen mengakui bahwa mereka sedang merintis jalan sendiri dalam proses penggabungan identitas ini. "Kami tidak memiliki contoh yang bisa ditiru, jadi kami melakukannya dengan cara kami sendiri," ungkap Edge dalam sebuah pernyataan resminya.

Meski demikian, kebijakan ini tidak sepenuhnya diterima dengan tangan terbuka oleh seluruh karyawan. Alisa Onishi, yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Pemasaran untuk Hawaii, mengakui adanya ketidakpuasan di kalangan staf.

Poin penting mengenai penerapan kebijakan seragam baru ini adalah:

  • Aksesori khas Hawaii dilarang untuk rute internasional jarak jauh tertentu.
  • Penggunaan bunga dan kalung bunga tetap diperbolehkan pada penerbangan yang berkaitan langsung dengan rute Hawaii.
  • Pramugari Alaska Airlines yang bertugas di pesawat jenis 787 atau 737 menuju Hawaii juga diperkenankan memakai aksesori tersebut.
  • Seragam asli Hawaiian Airlines masih tetap digunakan pada rute-rute spesifik lainnya.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa meskipun ada penyeragaman untuk rute internasional, elemen budaya Hawaii tidak sepenuhnya dihilangkan dari seluruh operasional maskapai. Manajemen tetap berusaha menjaga nuansa lokal pada penerbangan yang memang memiliki keterkaitan geografis dengan kepulauan tersebut.

Terobosan Inklusivitas dari Maskapai AirAsia

Berbeda dengan kabar dari Hawaiian Airlines, maskapai AirAsia justru membawa angin segar melalui kebijakan yang mendukung keberagaman. Maskapai bertarif rendah asal Malaysia ini secara resmi mengumumkan kebijakan seragam baru bagi para pramugarinya.

Mulai kuartal pertama tahun 2026, tepatnya bertepatan dengan momen Ramadan, AirAsia mengizinkan pramugari muslim untuk mengenakan hijab saat bertugas. Langkah ini dipandang sebagai bentuk kemajuan dalam menjunjung tinggi nilai inklusivitas di lingkungan kerja.

Kebijakan ini memberikan kebebasan bagi para awak kabin perempuan untuk menjalankan keyakinan mereka tanpa harus mengesampingkan profesionalisme. Keputusan tersebut juga diambil setelah manajemen mendengarkan banyak aspirasi dan masukan dari para karyawan mereka sendiri.

Bo Lingam, selaku Group CEO AirAsia Aviation Group, menegaskan bahwa seragam maskapai selalu memprioritaskan faktor keselamatan dan kenyamanan. Dengan adanya ruang bagi hijab, ia percaya identitas AirAsia akan tetap kuat namun lebih representatif terhadap latar belakang karyawannya.

Berikut adalah beberapa poin utama terkait kebijakan hijab di maskapai AirAsia:

Aspek Kebijakan Detail Penjelasan
Waktu Pelaksanaan Dimulai pada kuartal pertama atau Ramadan tahun 2026.
Desain Seragam Terdiri dari setelan jas lengkap, lengan panjang, dan celana panjang.
Cakupan Wilayah Berlaku untuk seluruh jaringan penerbangan AirAsia secara global.
Tujuan Utama Mendukung keberagaman, inklusivitas, dan profesionalisme karyawan.

Data di atas menunjukkan komitmen maskapai dalam memberikan fasilitas yang setara bagi seluruh kru kabin mereka. Sebelumnya, penggunaan hijab hanya diwajibkan pada rute tertentu seperti penerbangan menuju Jeddah sesuai dengan regulasi lokal setempat.

Kini, fleksibilitas tersebut diperluas ke semua rute demi menjaga konsistensi identitas profesional maskapai di mana pun mereka terbang. Hampir 40 persen pramugari muslim di AirAsia Malaysia dan AirAsia X telah menyatakan ketertarikan mereka untuk mengenakan hijab.

Suhaila Hassan, yang menjabat sebagai Group Head of Cabin Crew Department, menyatakan bahwa semangat dinamika adalah jati diri AirAsia. Pihaknya akan terus berkomunikasi dengan para staf untuk mematangkan detail desain sebelum kebijakan ini benar-benar diimplementasikan secara penuh.

CEO Capital A, Tan Sri Tony Fernandes, turut memberikan apresiasi terhadap langkah berani ini. Ia menilai bahwa kekuatan utama AirAsia terletak pada keberagaman kru kabin mereka yang selalu vokal dalam menyuarakan aspirasi positif demi kemajuan perusahaan.

Artikel terkait

Rekomendasi