Pesulap Merah Bongkar Mitos Pesugihan Gunung Kawi, MUI Beri Penjelasan Mengejutkan 2026

Pesulap Merah Bongkar Mitos Pesugihan Gunung Kawi, MUI Beri Penjelasan Mengejutkan 2026
Foto: Pesulap Merah Bongkar Mitos Pesugihan Gunung Kawi, MUI Beri Penjelasan Mengejutkan 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Gunung Kawi kembali menjadi pusat perhatian publik setelah Marcel Radhival, yang lebih dikenal sebagai Pesulap Merah, mengunggah video yang membongkar mitos pesugihan di sana. Video tersebut mendadak viral karena menyeret nama-nama besar dari kalangan pejabat hingga pesohor tanah air.

Menanggapi kehebohan ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur memberikan pandangan tegas terkait praktik spiritual yang dilakukan di gunung tersebut. MUI menyoroti perbedaan antara ritual mencari kekayaan secara instan dengan cara berdoa yang benar sesuai tuntunan agama.

Pandangan MUI Jatim Mengenai Praktik Pesugihan

Sekretaris Umum MUI Jawa Timur, Hasan Ubaidillah, menjelaskan bahwa masyarakat harus memahami dengan jelas konteks pesugihan yang terjadi di Gunung Kawi, Malang. Ia menekankan bahwa status hukum dari kegiatan tersebut sangat bergantung pada bagaimana praktik ritual itu dijalankan oleh para pengunjung.

Jika praktik tersebut melibatkan ritual tertentu sebagai syarat, maka hal itu sudah masuk ke dalam kategori kemusyrikan. Gus Ubed, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa segala bentuk ritual pesugihan tersebut hukumnya adalah haram secara mutlak dalam pandangan Islam.

Beberapa poin utama yang ditekankan oleh MUI Jatim terkait fenomena ini:

  • Praktik pesugihan di Gunung Kawi sering kali melibatkan ritual khusus yang menyimpang dari akidah.
  • Penggunaan media tertentu seperti sesajen dalam meminta sesuatu dianggap sebagai perbuatan syirik.
  • Keyakinan bahwa ritual di lokasi tersebut bisa mendatangkan uang atau melancarkan pekerjaan adalah bentuk kesesatan.
  • Ada perbedaan mendasar antara melakukan wasilah (perantara doa) dengan praktik pesugihan.

Penjelasan di atas menggambarkan batasan tegas antara tradisi yang masih diperbolehkan dengan praktik yang sudah melanggar nilai-nilai tauhid. MUI berharap masyarakat tidak terjebak pada keyakinan yang salah demi mengejar harta duniawi.

Perbedaan Tipis Antara Wasilah dan Ritual Pesugihan

Gus Ubed mengamati bahwa banyak pengunjung datang ke Gunung Kawi dengan membawa sesajen untuk ritual khusus. Menurutnya, hal ini berbeda jauh dengan konsep tawassul atau wasilah yang merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT tanpa embel-embel ritual menyimpang.

Secara kasat mata, perbedaan antara wasilah dan pesugihan memang terlihat sangat tipis bagi orang awam. Namun, wasilah murni dilakukan sebagai perantara doa tanpa menggunakan media sesajen apa pun demi mengharap rida Sang Pencipta.

Tabel Perbedaan Wasilah dan Pesugihan Menurut Perspektif MUI:

Aspek Perbedaan Wasilah (Tawassul) Pesugihan (Ritual)
Tujuan Utama Mendekatkan diri kepada Allah SWT Meminta kekayaan atau kelancaran nasib
Media yang Digunakan Hanya doa tulus tanpa perantara benda Menggunakan sesajen atau tumbal tertentu
Landasan Keyakinan Berdasarkan tuntunan surat Al-Maidah Keyakinan pada kekuatan selain Tuhan
Hukum Agama Diperbolehkan dalam konteks tertentu Haram mutlak karena termasuk syirik

Tabel ini merangkum poin-poin yang disampaikan oleh Gus Ubed untuk memudahkan masyarakat dalam membedakan mana ibadah dan mana kemusyrikan. Pemahaman ini penting agar warga tidak salah langkah saat mengunjungi tempat-tempat bersejarah.

Lebih lanjut, Gus Ubed memberikan perumpamaan sederhana mengenai konsep wasilah yang sering dilakukan masyarakat Indonesia, seperti bertawassul kepada Rasulullah SAW. Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah adalah kekasih Allah, sehingga doa yang disambungkan melalui beliau diharapkan lebih mudah dikabulkan.

Ia mengibaratkan hal ini seperti seseorang yang ingin menyampaikan pesan kepada presiden melalui orang kepercayaan presiden tersebut. Melalui perantara yang dicintai, pesan atau permohonan tersebut diharapkan sampai dan dikabulkan oleh pihak yang memiliki otoritas tertinggi.

Saran Pesulap Merah dan Potensi Wisata Gunung Kawi

Sebelumnya, dalam video yang beredar luas, Pesulap Merah telah membedah praktik pesugihan yang selama ini dipercaya masyarakat di Gunung Kawi. Marcel mengimbau kepada masyarakat agar selalu memanjatkan doa sesuai dengan ajaran agama dan kepercayaan masing-masing tanpa bergantung pada ritual mistis.

Meskipun ia membongkar sisi gelap mitos pesugihan, Marcel tetap menyarankan masyarakat untuk mengunjungi Keraton Gunung Kawi. Namun, tujuannya bukan untuk melakukan ritual gaib, melainkan sebagai bentuk kunjungan wisata edukasi budaya yang bernilai sejarah.

Dengan demikian, Gunung Kawi tetap memiliki daya tarik sebagai destinasi wisata, asalkan niat pengunjung tetap terjaga pada koridor edukasi dan bukan praktik menyimpang. Edukasi mengenai perbedaan antara sejarah budaya dan kepercayaan mistis menjadi kunci penting bagi para wisatawan masa kini.

Artikel terkait

Rekomendasi