Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, memberikan arahan khusus kepada para guru yang mengikuti Program Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI). Pesan tersebut ditujukan bagi para tenaga pendidik yang dipersiapkan untuk mulai mengajarkan mata pelajaran bahasa Inggris kepada para siswa di jenjang kelas 3 SD.
Dalam kesempatan tersebut, Atip menekankan bahwa kebijakan pelatihan ini bertujuan membekali guru sekolah dasar agar memiliki kemahiran berbahasa yang mumpuni sebelum terjun ke kelas. Beliau menegaskan agar bahasa Inggris tidak hanya diperlakukan sebagai mata pelajaran formal di dalam kelas tanpa praktik nyata yang berkelanjutan bagi para siswa.
Atip berpendapat bahwa jika bahasa Inggris hanya dipandang sebagai materi pelajaran saja, maka sampai kapan pun siswa didik tidak akan pernah mencapai tahap mahir. Menurutnya, pemahaman mendalam tentang teori tanpa adanya pembiasaan penggunaan bahasa tersebut tidak akan membuahkan hasil maksimal dalam kemampuan berkomunikasi siswa.
Pentingnya Membiasakan Dialog dalam Bahasa Inggris
Berdasarkan pengalaman pribadinya, Atip mengungkapkan bahwa ia telah mempelajari bahasa Inggris sejak jenjang SMP hingga SMA, namun saat itu ia hanya sekadar belajar teori. Hal tersebut memunculkan rasa takut untuk melafalkan kata-kata sehingga kemampuannya terbatas pada aspek membaca tanpa memiliki keterampilan berbicara atau mendengar yang baik.
Keberanian Atip untuk mulai aktif berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris baru muncul setelah ia dinyatakan lulus seleksi untuk melanjutkan studi ke Australia. Ia mengikuti kelas persiapan yang dibimbing oleh pengajar warga negara asing, di mana ia akhirnya merasa nyaman untuk berbicara tanpa dibayangi ketakutan akan kesalahan tata bahasa.
Ia mengutip pendapat seorang rekannya yang merupakan pakar bahasa bahwa poin terpenting dalam berkomunikasi adalah ketika lawan bicara dapat memahami pesan yang disampaikan. Oleh karena itu, Atip kembali menekankan agar pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar tidak boleh hanya berhenti sebagai materi teoritis dalam buku teks semata.
Atip berpesan agar nantinya para guru dapat secara aktif berdialog dalam bahasa Inggris bersama para murid selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Ia meyakini bahwa dengan menempatkan bahasa sebagai alat komunikasi aktif, perasaan terpaksa yang mungkin dirasakan siswa akan perlahan berubah menjadi sebuah kebiasaan yang alami.
Wamendikdasmen juga memberikan kritik terhadap orientasi nilai rapor yang tinggi namun tidak sebanding dengan kemampuan aktual siswa dalam berkomunikasi. Baginya, nilai sembilan di dalam rapor menjadi tidak berarti jika sang murid tetap tidak memahami maksud pembicaraan saat diajak berkomunikasi menggunakan bahasa tersebut.
Data Persiapan dan Target Implementasi Kurikulum
| Kategori Data | Informasi Statistik |
|---|---|
| Jumlah Peserta Pelatihan Tahap Pertama | 5.777 Guru |
| Cakupan Wilayah Pelatihan | 34 Provinsi dan 177 Kabupaten/Kota |
| Target Total Peserta Pelatihan 2026 | 10.000 Guru |
| Target SD pada Tahun Ajaran 2027/2028 | 58.896 Sekolah (30% dari total nasional) |
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani, menjelaskan bahwa bahasa Inggris akan resmi ditetapkan sebagai mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD pada tahun ajaran 2027/2028. Pada tahap awal tersebut, direncanakan sekitar 30 persen dari total lebih dari 150 ribu sekolah dasar di Indonesia akan mulai menerapkan aturan baru ini.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menargetkan agar seluruh sekolah dasar di Indonesia sudah memiliki tenaga pendidik dengan kompetensi bahasa Inggris yang memadai pada tahun 2029. Nunuk berharap dalam jangka waktu tiga tahun ke depan, seluruh kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia sudah rampung sehingga semua sekolah bisa menjalankan kebijakan ini.