Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan secara resmi memperkenalkan lagu bertajuk "Bung Karno Bapak Marhaenisme". Karya ini diperkenalkan dalam agenda Pembekalan dan Bimbingan Teknis bagi Anggota DPRD PDIP periode 2024-2029 se-Indonesia.
Lagu tersebut bukan sekadar karya seni biasa, melainkan instrumen penting untuk meluruskan catatan sejarah bangsa. Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menyebut langkah ini sebagai upaya menyambung kembali mata rantai sejarah yang sempat terputus.
Hasto menjelaskan bahwa selama era Orde Baru, Indonesia mengalami masa kegelapan sejarah yang disengaja. Salah satu dampaknya adalah pelarangan peringatan lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945.
Kondisi tersebut dinilai membuat bangsa Indonesia sempat kehilangan arah dalam memahami cita-cita awal berdirinya negara. Oleh karena itu, pelurusan sejarah dan penguatan ideologi menjadi prioritas utama partai saat ini.
Peran Prananda Prabowo dalam Konsolidasi Ideologi
Sosok di balik aransemen ulang lagu ini adalah Prananda Prabowo, Ketua DPP PDIP Bidang Ekonomi Kreatif. Beliau merupakan cucu dari Bung Karno sekaligus putra dari Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri.
Prananda mengambil peran strategis dalam menghidupkan kembali semangat perjuangan melalui seni. Hasto menyampaikan bahwa keterlibatan Prananda sangat krusial dalam proses konsolidasi ideologi partai.
Selain lagu ini, Prananda juga dikenal sebagai pencipta Himne PDI Perjuangan. Beliau juga aktif memopulerkan kembali tradisi pembacaan "Dedication of Life" di lingkungan kader partai.
Melalui aransemen yang lebih segar, lagu ini diharapkan mampu membangkitkan kesadaran tentang esensi Pancasila. Fokus utamanya adalah merombak struktur sosial yang menindas demi mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat.
Menghapus Stigma Negatif Terhadap Marhaenisme
Salah satu misi utama lagu ini adalah membersihkan nama baik istilah "Marhaen" di mata masyarakat. Selama bertahun-tahun, istilah tersebut sering kali mendapatkan label negatif dan disalahartikan.
Hasto menekankan bahwa Marhaenisme sering kali dituding sebagai bagian dari komunisme oleh pihak-pihak tertentu. Padahal, Marhaenisme merupakan realitas sosial yang menjadi fondasi perjuangan Bung Karno dalam memerdekakan rakyat kecil.
Lagu ini menjadi media edukasi untuk menjelaskan identitas kaum Marhaen :
- Menegaskan bahwa Marhaen adalah kelompok rakyat kecil yang mandiri namun membutuhkan kesadaran politik.
- Menghilangkan stigma komunis yang selama ini melekat secara keliru pada istilah Marhaenisme.
- Mengingatkan kembali sejarah perjuangan rakyat yang terpinggirkan di masa penjajahan.
- Menekankan pentingnya persatuan rakyat di bawah satu komando perjuangan yang jelas.
Poin-poin di atas menunjukkan bahwa Marhaenisme adalah semangat kemandirian rakyat yang ingin diperjuangkan kembali. Fokusnya adalah membangun kesadaran kolektif untuk bebas dari penindasan ekonomi maupun politik.
Refleksi Politik untuk Masa Depan Bangsa
Ketika ditanya mengenai potensi lagu ini diputar dalam acara resmi kenegaraan, Hasto tidak memberikan jawaban langsung. Ia menegaskan bahwa yang terpenting bagi PDIP adalah penyerapan nilai-nilai di dalamnya.
Spirit lagu ini harus diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata yang berpihak pada rakyat kecil. PDI Perjuangan ingin memastikan bahwa politik nasional kembali pada tujuan dasarnya, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.
Hasto juga menyoroti kondisi Indonesia yang dinilai mulai tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Ia menyinggung penurunan kualitas pendidikan sebagai isu krusial yang harus segera diatasi.
Melalui semangat "Bung Karno Bapak Marhaenisme", PDIP berkomitmen memperkuat karakter politik yang membebaskan. Hal ini mencakup upaya konkret untuk menghapus belenggu kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan yang masih dirasakan masyarakat.
Berikut adalah ringkasan profil lagu baru yang diperkenalkan oleh PDI Perjuangan :
| Aspek Informasi | Detail Penjelasan |
|---|---|
| Judul Lagu | Bung Karno Bapak Marhaenisme |
| Aransemen | Prananda Prabowo |
| Tujuan Utama | Pelurusan sejarah dan konsolidasi ideologi bangsa |
| Momentum Perilisan | Bimtek Anggota DPRD PDIP se-Indonesia 2024-2029 |
| Nilai Filosofis | Kemerdekaan, keadilan sosial, dan politik untuk rakyat kecil |
Tabel di atas merangkum elemen penting dari karya musik yang kini menjadi bagian dari identitas perjuangan kader PDIP. Lagu ini pertama kali menggema dalam acara bimtek yang berlangsung di Jakarta Utara pada akhir Mei 2026.
Lirik lagu tersebut mengajak rakyat Marhaen untuk bersatu membangun tatanan dunia yang baru. Pesan penutupnya secara tegas mengagungkan sosok Bung Karno sebagai Bapak Marhaenisme yang abadi bagi Indonesia.