Seorang pemuda berusia 19 tahun asal Situbondo, Jawa Timur, menjadi korban tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oleh oknum anggota TNI Angkatan Laut. Korban yang bernama Dinar tersebut mengalami luka lebam cukup parah di bagian punggung dan tangan akibat serangan fisik yang brutal.
Peristiwa memilukan ini terjadi pada Sabtu (30/5) siang sekitar pukul 13.00 WIB di kediaman korban yang berlokasi di Kelurahan Dawuhan. Berdasarkan keterangan korban, pelaku menyerangnya menggunakan tangan kosong, kaki, hingga sebatang selang secara membabi buta.
Kronologi Aksi Kekerasan di Dalam Rumah
Dinar menceritakan bahwa saat kejadian dirinya sedang berada di dalam rumah dan tengah bersantai bersama dua orang rekannya. Secara tiba-tiba, oknum prajurit TNI AL tersebut datang menghampiri mereka tanpa memberikan penjelasan terlebih dahulu.
Setelah masuk ke area dalam rumah, pelaku langsung mengunci pintu sehingga korban tidak memiliki celah untuk menyelamatkan diri dari serangan tersebut. Di sanalah aksi penganiayaan dimulai, di mana korban dipukuli dan ditendang berulang kali oleh oknum yang mengaku sebagai aparat tersebut.
Korban mengaku tidak berdaya untuk melakukan perlawanan karena merasa terintimidasi oleh status pelaku sebagai anggota TNI. Selain melakukan serangan fisik, oknum tersebut bahkan sempat menantang Dinar untuk melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib.
Pemicu dugaan penganiayaan tersebut disinyalir karena masalah sepele yang melibatkan kesalahpahaman :
- Pelaku merasa tidak terima karena menganggap korban telah menyapa kekasihnya dengan cara yang tidak sopan.
- Dinar secara tegas membantah tuduhan tersebut karena ia merasa sama sekali tidak mengenal perempuan yang dimaksud oleh pelaku.
- Faktanya, rekan Dinar yang berada di lokasi merupakan pihak yang menyapa perempuan tersebut karena mereka memang sudah saling mengenal sebelumnya.
- Meskipun korban sudah berusaha memberikan penjelasan yang jujur, pelaku tetap tidak mau mendengarkan dan terus melanjutkan aksi kekerasannya.
Dinar mengungkapkan rasa kecewanya karena alasan yang ia sampaikan diabaikan begitu saja oleh pelaku saat kejadian berlangsung. Hal inilah yang memicu rasa trauma mendalam bagi pemuda tersebut setelah mengalami kekerasan tanpa alasan yang jelas.
Langkah Hukum dan Tuntutan Keluarga
Melihat kondisi putranya yang babak belur, Hafid Junaidi selaku orang tua Dinar segera mengambil tindakan medis dan hukum yang diperlukan. Ia membawa putranya ke Rumah Sakit Elizabeth untuk menjalani perawatan serta melakukan visum guna memperkuat bukti adanya penganiayaan.
Hafid menjelaskan bahwa pihak keluarga telah berupaya melaporkan kasus ini ke Mapolres Situbondo sesaat setelah kejadian berlangsung. Namun, karena terduga pelaku merupakan anggota aktif, pihak kepolisian mengarahkan laporan tersebut ke instansi militer yang berwenang.
Berikut adalah detail mengenai proses pelaporan dan penanganan kasus yang dijalani oleh keluarga korban :
| Langkah Penanganan | Detail Informasi |
|---|---|
| Tindakan Medis | Pemeriksaan luka dan visum di RS Elizabeth Situbondo. |
| Laporan Polisi | Awalnya melapor ke Mapolres Situbondo pada malam hari setelah kejadian. |
| Instansi Terkait | Laporan diarahkan ke Denpom Lanal Banyuwangi karena pelaku anggota militer. |
| Tuntutan Keluarga | Meminta hukuman sanksi tegas sesuai aturan hukum militer yang berlaku. |
Data di atas menunjukkan komitmen keluarga korban untuk menempuh jalur hukum secara resmi demi mendapatkan keadilan bagi Dinar. Pihak keluarga berharap tidak ada intervensi yang dapat menghambat proses penyelidikan terhadap oknum tersebut.
Sebagai orang tua, Hafid menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak terima dengan perlakuan kasar yang menimpa buah hatinya. Ia memastikan akan terus mengawal jalannya proses hukum hingga tuntas agar pelaku mendapatkan sanksi yang setimpal.
Secara tegas, Hafid juga menolak segala bentuk upaya perdamaian atau penyelesaian kasus secara kekeluargaan yang mungkin ditawarkan di kemudian hari. Ia menginginkan transparansi dari TNI AL dalam menangani laporan yang telah dilayangkan oleh pihak keluarga di Denpom Lanal Banyuwangi.
Ia berkomitmen untuk mengikuti seluruh prosedur hukum yang berlaku, meskipun harus menempuh perjalanan jauh ke Banyuwangi demi memperjuangkan hak anaknya. Kasus ini kini menjadi perhatian publik di Situbondo, sementara pihak TNI AL berjanji akan memberikan sanksi bagi prajurit yang terbukti melanggar aturan.