Nyeri Leher Belakang Pertanda Kolesterol Tinggi? Cek Fakta Medis Terbaru 2026 yang Mengejutkan

Nyeri Leher Belakang Pertanda Kolesterol Tinggi? Cek Fakta Medis Terbaru 2026 yang Mengejutkan
Foto: Nyeri Leher Belakang Pertanda Kolesterol Tinggi? Cek Fakta Medis Terbaru 2026 yang Mengejutkan. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nyeri di bagian belakang leher sering dianggap sebagai gejala kolesterol tinggi. Namun, benarkah anggapan ini? Mari kita telusuri lebih lanjut untuk mengetahui fakta sebenarnya.

Benarkah Nyeri Leher Belakang Tanda Kolesterol Tinggi?

Menurut dr BRM Ario Soeryo Kuncoro, SpJp(K), seorang spesialis jantung dan pembuluh darah, nyeri leher tidak ada hubungannya dengan kolesterol tinggi. Rasa sakit di leher biasanya disebabkan oleh postur tubuh yang salah.

"Mitos itu, muncul sakit di otot leher bukan karena kolesterol," ujar dr Ario kepada detikcom. Selaras dengan dr Ario, dr Diana F Suganda, spesialis gizi klinik, menambahkan bahwa kolesterol tinggi tidak menunjukkan gejala yang spesifik.

Untuk menentukan waktu yang tepat melakukan tes kolesterol, dibutuhkan pemeriksaan medis. "Jadi, jika ada yang berpendapat 'oh sakit di leher artinya kolesterol tinggi', itu belum tentu benar," jelas dr Diana.

Sementara itu, dr Muhammad Imanuddin, spesialis penyakit dalam, menjelaskan bahwa kadar low-density lipoprotein (LDL) yang tinggi biasanya tidak memberikan gejala jelas. Namun, pasien sering mengeluh bengkak, nyeri pada anggota tubuh, termasuk leher.

"Untuk memastikan apakah seseorang memiliki kolesterol tinggi, sebaiknya lakukan pemeriksaan kolesterol total, trigliserida, LDL, dan HDL di fasilitas kesehatan terdekat," tambah dr Imanuddin.

Obesitas Sebagai Faktor Risiko

Menurut dr Ray Ratu, SpPD, risiko kolesterol tinggi terkadang dapat terlihat secara fisik. Namun, obesitas tidak selalu menjadi acuan utama.

Obesitas, kondisi di mana terjadi penumpukan lemak yang berlebihan, bisa menjadi indikator risiko kolesterol tinggi. "Obesitas dikaitkan dengan sindrom metabolik, yang berhubungan dengan hipertensi, hiperkolesterolemia, diabetes, dan lainnya," ungkap dr Ray.

Meski begitu, dr Ray menegaskan bahwa tidak semua individu obesitas memiliki kolesterol tinggi. Namun, peluang mereka lebih besar untuk menderita penyakit metabolik lainnya.

"Jadi, tidak berarti orang gemuk selalu berkolesterol tinggi, tetapi risikonya lebih tinggi," tutur dr Ray.

Faktor Risiko Lain Kolesterol Tinggi

Beberapa faktor risiko lain untuk kolesterol tinggi meliputi:
  • Pola Makan: Konsumsi lemak jenuh dan trans tinggi bisa meningkatkan kolesterol.
  • Kurangnya Aktivitas Fisik: Kurang bergerak dapat mengurangi kadar kolesterol baik (HDL).
  • Konsumsi Alkohol: Minum alkohol berlebihan bisa meningkatkan kolesterol total.
  • Usia: Seiring bertambahnya usia, terutama setelah 40 tahun, kemampuan hati mengeliminasi kolesterol jahat menurun.

Mengetahui faktor risiko ini penting agar kita bisa melakukan upaya pencegahan lebih dini dan efektif.

Artikel terkait

Rekomendasi