Berbeda dengan komponen grafis biasa, RTX Spark merupakan sebuah "superchip" yang mengintegrasikan prosesor (CPU), unit grafis (GPU), dan memori terpadu ke dalam satu modul tunggal.
Konsep integrasi menyeluruh ini serupa dengan strategi chip Silicon milik Apple pada perangkat MacBook Pro, namun kini Nvidia menghadirkannya khusus untuk ekosistem laptop berbasis Windows.
Kolaborasi Raksasa di Balik Teknologi RTX Spark
Kehadiran RTX Spark merupakan hasil kolaborasi strategis antara tiga pemimpin industri semikonduktor dunia, yaitu Nvidia, MediaTek, dan TSMC.
Nvidia bertanggung jawab merancang arsitektur grafis dan kecerdasan buatan (AI), sementara MediaTek memasok inti prosesor berbasis desain Arm Cortex yang efisien.
Seluruh komponen fisik chip ini diproduksi oleh TSMC menggunakan teknologi fabrikasi 3 nanometer yang paling mutakhir saat ini.
Secara teknis, chip ini dikenal dengan nama N1X atau GB10 Grace Blackwell Superchip, yang merupakan turunan dari teknologi pada perangkat DGX Spark seharga Rp76 juta.
Jika sebelumnya teknologi ini hanya berjalan di sistem operasi Linux, melalui RTX Spark, Nvidia memboyong performa tingkat tinggi tersebut ke pengguna Windows.
Arsitektur CPU dengan DNA Smartphone Flagship
Struktur prosesor pada RTX Spark mengadopsi arsitektur Armv9, yang biasanya menjadi otak utama bagi ponsel pintar kelas atas atau flagship.
Chip ini dibekali total 20 inti CPU yang terdiri dari 10 inti performa tinggi Arm Cortex-X925 (4,0 GHz) dan 10 inti efisiensi A725 (2,85 GHz).
Penggunaan inti Cortex-X925 bukanlah tanpa alasan, karena komponen ini juga ditemukan pada chip MediaTek Dimensity 9400 yang populer di pasar ponsel tahun lalu.
Melalui kerja sama dengan MediaTek, Nvidia berhasil menciptakan chip yang memiliki basis genetik serupa dengan ponsel pintar, namun dalam skala performa yang jauh lebih masif.
Solusi Cerdas untuk Menjalankan AI Secara Lokal
Salah satu keunggulan utama yang ditonjolkan Nvidia pada RTX Spark adalah kapasitas unified memory atau memori terpadu sebesar 128 GB.
Kapasitas ini sangat krusial karena model AI canggih dengan parameter besar kini dapat dijalankan sepenuhnya langsung dari perangkat laptop tanpa bergantung pada server luar.
Berikut adalah perbandingan kapasitas memori yang dibutuhkan untuk berbagai kebutuhan teknologi AI:
- Model AI Smartphone: Membutuhkan kapasitas memori kurang dari 4 GB.
- Model GPT Open-Source (120 Miliar Parameter): Memerlukan memori sekitar 80 GB.
- Nvidia RTX Spark: Menyediakan kapasitas 128 GB yang mampu menampung model AI kelas server.
Data di atas menunjukkan bahwa RTX Spark memiliki ruang yang lebih dari cukup untuk menangani beban kerja kecerdasan buatan paling berat sekalipun di tingkat konsumen.
Kecepatan Transfer Data Tanpa Hambatan
Kehebatan superchip ini didukung oleh teknologi interkoneksi NVLink-C2C milik Nvidia yang memangkas hambatan komunikasi antar komponen.
Teknologi ini memungkinkan CPU dan GPU untuk mengakses memori 128 GB secara bersamaan dengan tingkat latensi atau jeda yang sangat minim.
Nvidia mengeklaim bahwa kecepatan transfer data (bandwidth) dua arah pada chip ini mampu mencapai angka fantastis, yakni 600 GB per detik.
Angka performa tersebut tercatat lima kali lebih kencang dibandingkan koneksi PCIe Gen5 yang umum digunakan pada laptop konvensional saat ini.
Dengan sistem arsitektur terpadu ini, tidak ada lagi sekat pemisah antara memori sistem utama dengan memori khusus kartu grafis.
Hasilnya, seluruh aplikasi harian, beban kerja game berat, hingga pemrosesan model AI dapat beroperasi dalam satu wadah memori yang sama dengan sangat lancar.