Keputusan mendadak Norwegia untuk melarang ekspor rudal canggih NSM ke Malaysia berdampak signifikan terhadap kapal perang negara tersebut. Analis menggambarkan langkah ini dapat menjadikan kekuatan angkatan laut Malaysia seperti "harimau tanpa taring". Kebijakan ini dapat mempengaruhi kemampuan Malaysia mempertahankan zona ekonomi eksklusif (ZEE) di Laut China Selatan.
Pihak Angkatan Laut Malaysia kini menghadapi tantangan baru setelah lebih dari satu dekade menunggu pengiriman kapal tempur pesisir (LCS) terbarunya. Kapal-kapal ini sebenarnya diharapkan dapat memperkuat kehadiran mereka di wilayah perairan yang menjadi sengketa. Keputusan Norwegia mencabut izin ekspor NSM ini muncul setelah Kuala Lumpur telah melakukan pembayaran hampir 95 persen dari kontrak senilai €126 juta atau sekitar USD146,4 juta.
Malaysia mulai mencari pengganti sistem rudal NSM ini. Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamed Khaled Nordin, menyatakan prioritasnya adalah menemukan sistem yang tidak memerlukan perombakan besar pada kapal yang sedang dibangun. "Saat ini, ada tiga hingga empat negara yang sudah mengajukan tawaran," ujar Khaled dalam kunjungan ke Turki. Dia menyebutkan, pembicaraan sudah dilakukan antara pejabat Malaysia dengan pihak-pihak terkait untuk mencari sistem pengganti yang cocok.
Khaled menambahkan bahwa Malaysia akan mempertimbangkan aspek kepercayaan, biaya, dan waktu pengiriman dalam mengevaluasi penawaran tersebut. Juga diperhatikan apakah dibutuhkan modifikasi besar terhadap kapal yang sudah ada. Namun, hingga kini, belum ada tanggapan lebih lanjut yang diberikan oleh Khaled mengenai rincian keempat tawaran itu.
Sementara itu, Norwegia membela keputusan mereka dengan alasan kontrol ketat terhadap teknologi pertahanan sensitif. Dalam pernyataannya, Norwegia mengatakan pembatasan ini akan diberlakukan terhadap sebagian teknologi pertahanan mereka untuk sekutu dan mitra terdekat. "Sangat disayangkan bahwa keputusan ini berdampak pada Malaysia," ujar Kementerian Luar Negeri Norwegia, dikutip dari Associated Press pada 15 Mei.
```