Libur Cuti Bersama Idul Adha 2026 menjadi kesempatan bagi banyak warga untuk menikmati waktu di tempat wisata. Beberapa warga mengunjungi lokasi wisata populer dalam dan sekitar Jabodetabek. Misalnya, Taman Margasatwa Ragunan di Jakarta Selatan dipadati oleh 16 ribu pengunjung hingga Kamis (28/5/2026) sore.
Kondisi di Taman Margasatwa Ragunan sekitar pukul 14.30 WIB menunjukkan bahwa tempat tersebut masih ramai didatangi, terutama oleh keluarga yang membawa anak-anak. Lokasi favorit pengunjung adalah habitat gajah yang menjadi sorotan banyak orang, baik untuk dilihat maupun difoto.
Menurut Kepala Humas Ragunan, Wahyudi Bambang, total pengunjung hari itu mencapai 16.810 hingga pukul 15.00 WIB. "Data Pengunjung libur Idul Adha dan Cuti bersama. Tanggal 28 Mei 16.810 (pengunjung) jam 15.00 WIB," ujar Bambang. Angka ini meningkat dari hari sebelumnya yang mencatat 15.484 pengunjung.
Lantas bagaimana pengalaman warga lain saat momen libur Idul Adha ini?
Pilih Monas karena Harga Murah
Salah satu pengunjung Monas, Siti Aisyah (38), warga Bekasi, memanfaatkan libur Idul Adha dengan mengunjungi Monas bersama keluarga besar. Mereka memulai perjalanan sejak pagi sambil membawa bekal makanan, termasuk hidangan dari daging kurban. "Karena anak-anak libur panjang, jadi sekalian jalan ke Jakarta. Monas itu dekat, murah juga untuk masuk, dan anak-anak sudah lama ingin ke sini," ungkap Siti.
Biasanya, keluarga Siti menghabiskan libur Idul Adha di rumah setelah penyembelihan hewan kurban. Tahun ini berbeda, mereka memutuskan rekreasi karena kegiatan kurban selesai sehari sebelumnya. "Biasanya kalau libur Idul Adha kami di rumah saja habis motong kurban, tapi sekarang karena sudah selesai semua dari kemarin, hari ini kami manfaatkan buat rekreasi keluarga," tambahnya.
Siti dan keluarganya berangkat pukul 07.00 WIB untuk menghindari keramaian dan tiba di Monas sekitar pukul 08.00 WIB. "Takut macet sama ramai, jadi sengaja pagi. Sampai sini sekitar jam 08.00-an. Ternyata memang sudah ramai, tapi masih nyaman buat cari tempat duduk sama gelar tikar," jelasnya.
Keluarga Siti tidak hanya bersantai tetapi juga menikmati bekal yang mereka bawa. Salah satu hidangan adalah semur daging dari daging kurban yang dimasak sebelumnya. "Iya, sengaja banget bawa bekal. Kalau ke Monas memang lebih enak bawa bekal sendiri. Ada nasi, semur daging, kerupuk, sambal, sama minuman dingin juga wajib karena panas banget cuacanya hari ini," jelasnya.
Tradisi membawa bekal saat liburan dijelaskan lebih hemat dan memenuhi selera keluarga. "Pertama hemat ya, apalagi kalau keluarga besar lumayan juga kalau beli semua. Kedua, kami memang pengin makan masakan rumah," tambah Siti.
Di sela-sela piknik, keluarga juga menyempatkan diri berfoto di sekitar Tugu Monas. Siti menyebut suasana Monas kali ini lebih santai dibanding liburan lainnya. "Sepi ya, nggak kayak liburan biasanya. Tapi malah enak begini. Anak-anak senang karena bisa lari-larian, foto-foto," ungkapnya.
Setelah dari Monas, mereka merencanakan perjalanan lainnya sebelum kembali ke rumah. "Mungkin cari es krim dulu buat anak-anak, pengin ke Lapangan Banteng, habis itu pulang. Soalnya besok sudah mulai aktivitas lagi. Yang penting hari ini anak-anak happy dan bisa quality time keluarga," tutup Siti.
TMII: Liburan Sekaligus Edukasi
Di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur, pengunjung menikmati lebih dari sekadar liburan. Tempat ini menawarkan berbagai atraksi budaya, salah satunya adalah lompat batu khas Nias. Salah seorang pengunjung, Dedi Saputra (41), memilih TMII untuk berlibur bersama keluarga.
"Karena momen libur Idul Adha ini lumayan panjang ya, jadi saya sama keluarga cari tempat yang bisa sekalian jalan-jalan tapi juga ada unsur edukasinya buat anak-anak. Tadinya pengin ke Bogor cuma ngeri macet kan," ungkap Dedi.
TMII dipilih karena menyediakan variasi kebudayaan dari beberapa daerah di Indonesia, yang juga membuat anak-anak Dedi antusias. "TMII kan lengkap ya, bisa lihat budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Kebetulan anak-anak juga belum pernah ke sini, jadi sekalian mengenalkan budaya Nusantara. Daripada cuma ke mal, saya pikir lebih bagus ke tempat yang ada nilai pengetahuannya," ujar Dedi.
Dedi dan keluarganya juga sempat menyaksikan atraksi lompat batu Nias di TMII. Awalnya, mereka tertarik setelah melihat keramaian di salah satu sudut taman. "Tadi kami nonton atraksi lompat batu dari Nias. Kebetulan pas lewat terus lihat ramai, akhirnya berhenti dan ikut nonton. Kan penasaran juga karena belum pernah lihat atraksi seperti itu secara langsung," katanya.
Atraksi ini meninggalkan kesan mendalam bagi Dedi dan keluarganya. "Seru banget sih, jujur kagum juga. Kalau lihat di TV atau media sosial mungkin biasa, tapi pas lihat langsung ternyata tinggi batunya lumayan dan butuh keberanian besar," cerita Dedi.
Anak-anak Dedi juga penasaran setelah menyaksikan atraksi tersebut dan mulai bertanya tentang teknik lompat batu. "Anak-anak juga sampai nanya itu gimana loncatnya, kok nggak jatuh," tambah Dedi.
Berkat pengalaman ini, Dedi yakin bahwa anak-anaknya mendapatkan pelajaran berharga tentang budaya Indonesia. "Senang banget. Mereka tadi malah minta direkam videonya buat dikirim ke kakek nenek di rumah. Setelah nonton, mereka jadi banyak tanya soal Pulau Nias dan tradisi di sana. Saya rasa ini bagus ya, jadi liburan nggak cuma senang-senang tapi anak juga belajar sesuatu," jelas Dedi.
Dedi berharap TMII terus menampilkan pertunjukan budaya seperti lompat batu Nias. "Bagus ya, karena nggak semua orang bisa datang langsung ke daerah asal budayanya. Kita kan jadi bisa tahu budaya Indonesia lebih dekat. Apalagi generasi sekarang kan lebih banyak lihat budaya luar, jadi budaya sendiri juga harus sering diperlihatkan supaya tetap dikenal," imbuhnya.