Modal Drum Bekas, Jamur Tiram Trisha Sukses Gerakkan Ekonomi Nias di 2026

Modal Drum Bekas, Jamur Tiram Trisha Sukses Gerakkan Ekonomi Nias di 2026
Foto: Modal Drum Bekas, Jamur Tiram Trisha Sukses Gerakkan Ekonomi Nias di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Perjalanan panjang menuju Pulau Nias, Sumatera Utara, sering kali dianggap sebagai tantangan karena jarak tempuhnya yang memakan waktu berjam-jam melewati lautan. Namun, bagi Hafsah Pohan, kondisi geografis ini justru menjadi inspirasi di balik berdirinya usaha Jamur Tiram Trisha di Gunungsitoli.

Kisah ini bermula pada tahun 2020 saat Hafsah masih berstatus sebagai mahasiswa di Medan. Kala itu, ia mencoba peruntungan sebagai penjual kembali atau reseller produk jamur tiram.

Melihat Peluang di Tengah Pandemi

Keputusan untuk memproduksi sendiri jamur tiram muncul karena kendala pengiriman dari Medan ke kampung halamannya yang terlalu jauh. Jarak tersebut sering kali membuat jamur rusak di perjalanan, padahal permintaan pasar di Nias tergolong sangat tinggi.

Situasi semakin mendesak ketika pandemi Covid-19 melanda dan Hafsah yang baru saja lulus kuliah kesulitan mendapatkan pekerjaan formal. Ia akhirnya memilih untuk memberanikan diri membangun bisnis sendiri demi menjawab kebutuhan pasar sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi dirinya.

Memulai Bisnis dengan Modal Terbatas

Perjalanan Jamur Tiram Trisha dimulai dengan langkah yang sangat sederhana dan keterbatasan dana. Hafsah mengungkapkan bahwa ia hanya mengandalkan sisa uang tabungannya untuk membeli perlengkapan dasar.

Rincian awal mula pembangunan usaha Jamur Tiram Trisha milik Hafsah:

  • Modal awal hanya sebesar Rp 600.000 yang diambil dari sisa tabungan kuliah.
  • Peralatan yang digunakan masih sangat konvensional dan belum memiliki teknologi modern.
  • Proses sterilisasi jamur hanya memanfaatkan drum bekas yang dimodifikasi.
  • Seluruh proses pengerjaan dilakukan di Pulau Nias dengan dukungan moral dari keluarga.

Meski dimulai dengan fasilitas seadanya, keyakinan dan dukungan keluarga membuat Hafsah tetap optimistis. Usaha ini pun perlahan mulai membuahkan hasil seiring dengan meningkatnya minat pembeli.

Menghadapi Tantangan Gagal Panen

Perjalanan bisnis Hafsah tidak selalu mulus, terutama saat memasuki pertengahan tahun pertama operasionalnya. Ia harus menghadapi kenyataan pahit berupa kegagalan panen yang terjadi berulang kali.

Budidaya jamur tiram sangat bergantung pada kondisi cuaca dan kelembapan lingkungan yang stabil. Selain faktor alam, masalah kontaminasi pada media tanam juga menjadi kendala utama yang menghambat produktivitasnya saat permintaan sedang tinggi.

Dukungan Strategis dari Elnusa Petrofin

Titik balik usaha Hafsah terjadi ketika ia mendapatkan dukungan dari PT Elnusa Petrofin melalui program pembinaan UMKM. Sejak Januari 2024, Hafsah resmi menjadi bagian dari mitra binaan perusahaan tersebut untuk mengembangkan kapasitas produksinya.

Kerja sama ini berawal dari kebutuhan Hafsah akan wadah budidaya jamur yang lebih memadai. Elnusa Petrofin membantu dengan menyediakan wadah sisa pakai layak guna yang sangat membantu efisiensi operasional usahanya.

Bentuk dukungan yang diterima Hafsah dari Elnusa Petrofin antara lain:

  • Pemberian wadah bekas pakai yang masih berkualitas untuk media tanam jamur.
  • Pendampingan sebagai UMKM binaan untuk meningkatkan standar kualitas produk.
  • Penyediaan fasilitas penunjang yang membantu stabilitas produksi jamur.

Dukungan ini memberikan dampak berganda bagi Hafsah dalam menjalankan bisnisnya secara lebih profesional. Kini, Jamur Tiram Trisha terus berkembang dan menjadi salah satu contoh keberhasilan UMKM lokal di pelosok Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi