Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, secara resmi mengumumkan bahwa Operasi Epic Fury yang melibatkan serangan gabungan AS-Israel ke Iran telah berakhir. Rubio menegaskan bahwa operasi militer tersebut telah berhasil mencapai seluruh target strategis yang ditetapkan sebelumnya.
Dalam keterangannya kepada BBC, Rubio menyampaikan bahwa pemerintahan di bawah Presiden Donald Trump tetap memprioritaskan jalur perdamaian dan kesepakatan diplomatik. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan baru di Selat Hormuz yang sempat memicu kekhawatiran akan runtuhnya kesepakatan gencatan senjata.
Pihak Amerika Serikat saat ini berfokus untuk memandu kapal-kapal yang terdampar agar dapat keluar dari wilayah Teluk melalui jalur air yang sempat tertutup sebagian. Meskipun Washington telah mengeluarkan pernyataan resmi, pemerintah Teheran hingga saat ini belum memberikan tanggapan langsung mengenai berakhirnya operasi tersebut.
Di sisi lain, Mohammad Ghalibaf selaku Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, sempat menyatakan bahwa negaranya tidak akan menoleransi kelanjutan status quo yang ada. Ghalibaf menuduh AS dan sekutunya telah mengancam keamanan pelayaran serta transit energi melalui blokade dan pelanggaran gencatan senjata.
Kondisi di lapangan semakin diperumit dengan laporan dari UK Maritime Trade Operations (UKMTO) mengenai adanya kapal kargo yang terkena proyektil tidak dikenal di Selat Hormuz. Meski rincian insiden Selasa malam tersebut belum tersedia sepenuhnya, Iran menegaskan bahwa upaya yang mereka sebut sebagai tindakan jahat AS akan mengalami kegagalan.
Data Dampak Konflik dan Operasi
| Kategori Dampak | Rincian Kerusakan/Status |
|---|---|
| Fasilitas Militer AS | 217 bangunan di pangkalan militer hancur |
| Peralatan Tempur | 11 unit peralatan tempur AS dilaporkan rusak |
| Status Operasi | Operasi Epic Fury dinyatakan resmi berakhir |
| Penangkapan Agen | 41 agen IRGC ditangkap untuk mencegah intervensi |