Mengenal Restraining Box Sapi Karya Dosen UGM, Alat Rebah Praktis yang Banyak Dicari 2026

Mengenal Restraining Box Sapi Karya Dosen UGM, Alat Rebah Praktis yang Banyak Dicari 2026
Foto: Mengenal Restraining Box Sapi Karya Dosen UGM, Alat Rebah Praktis yang Banyak Dicari 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Proses penyembelihan hewan kurban sering kali membutuhkan tenaga ekstra dan waktu yang cukup lama. Namun, inovasi terbaru dari akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) kini menawarkan solusi yang lebih efisien dan ramah terhadap hewan.

Dosen Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Panjono, S.Pt., M.P., Ph.D., bersama timnya mengembangkan alat perebah sapi portabel yang diberi nama Gama Abilawa. Alat ini dirancang untuk menggantikan metode tradisional yang sering kali membuat hewan stres atau kesakitan.

Mengenal Restraining Box Gama Abilawa

Restraining box adalah alat bantu khusus yang berfungsi untuk merobohkan sapi dengan cara yang lebih aman dan terkendali. Alat ini sangat berguna, terutama di lokasi penyembelihan komunal seperti saat hari raya Idul Adha.

Inovasi ini lahir karena metode konvensional menggunakan tali atau bambu sering kali memaksa sapi roboh dengan kasar. Dengan Gama Abilawa, aspek kesejahteraan hewan tetap terjaga karena sapi tidak mengalami penderitaan yang berlebihan sebelum disembelih.

Keunggulan utama penggunaan restraining box dalam proses penyembelihan sapi antara lain:

  • Proses Lebih Singkat: Waktu yang dibutuhkan untuk merobohkan sapi hanya sekitar 3 menit saja.
  • Minim Tenaga Kerja: Jika biasanya butuh banyak orang, alat ini cukup dioperasikan oleh sekitar lima personel.
  • Keamanan Terjamin: Risiko kecelakaan kerja akibat sapi mengamuk dapat diminimalisir secara signifikan.
  • Kualitas Daging: Tingkat stres sapi yang rendah membantu menjaga kualitas daging tetap optimal setelah dipotong.
  • Operasional Mudah: Sapi cukup dimasukkan ke dalam kotak, lalu alat diputar secara manual hingga posisi siap sembelih.

Penggunaan teknologi ini terbukti memberikan dampak positif bagi panitia kurban maupun hewan ternak itu sendiri. Selain mempercepat durasi, alat ini memastikan prosesi kurban berjalan lebih khidmat dan profesional.

Efisiensi dan Penerimaan di Masyarakat

Berdasarkan kajian mendalam oleh tim Fapet UGM, penggunaan alat ini mampu meningkatkan efisiensi waktu pemotongan hingga 52,5 persen. Prof. Panjono menjelaskan bahwa efisiensi ini terjadi karena berkurangnya hambatan saat penanganan sapi di lapangan.

Meskipun alat ini sudah dikembangkan sejak 2019, masih banyak masyarakat yang mengandalkan cara lama dalam merobohkan hewan. Hal ini biasanya disebabkan oleh keterbatasan biaya pengadaan alat atau kurangnya informasi mengenai teknologi peternakan terbaru.

Berikut adalah ringkasan perbandingan antara metode tradisional dan penggunaan restraining box:

Aspek Perbandingan Metode Tradisional Restraining Box (Gama Abilawa)
Tenaga Manusia Membutuhkan banyak orang Cukup ditangani 5 personel
Waktu Persiapan Relatif lama dan tidak menentu Sangat cepat (sekitar 3 menit)
Kesejahteraan Hewan Risiko stres dan cedera tinggi Tingkat stres rendah dan nyaman
Keamanan Petugas Risiko tinggi terkena sepakan Lebih aman dan terkendali

Tabel di atas menunjukkan bahwa modernisasi alat pemotongan sangat membantu meningkatkan standar pelaksanaan kurban di Indonesia. Alat ini tidak hanya mempermudah pekerjaan manusia, tetapi juga menghargai hak hewan ternak.

Setiap tahunnya, minat masyarakat terhadap alat ini terus meningkat, bahkan beberapa kelompok mulai membuat modifikasi sendiri. Prof. Panjono menyebutkan banyak panitia kurban yang meminjam atau mempelajari desain alat ini untuk diterapkan di lingkungan mereka.

Dengan terus dilakukannya evaluasi lapangan, Gama Abilawa diharapkan menjadi standar baru dalam penyembelihan hewan kurban. Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi sederhana dapat memberikan perubahan besar pada tradisi yang sudah berlangsung lama.

Artikel terkait

Rekomendasi