Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, memberikan sorotan tajam terhadap kasus perundungan yang masih menghantui lingkungan sekolah. Ia mengakui bahwa praktik bullying saat ini semakin beragam, baik dari sisi bentuk tindakan maupun profil pelakunya.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena keberhasilan proses belajar sangat bergantung pada lingkungan yang kondusif. Menurut Mu'ti, sekolah harus mampu menjamin keamanan murid tidak hanya secara fisik, tetapi juga dari sisi sosial dan psikologis.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Seminar Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang berlangsung di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat. Ia menekankan bahwa banyak sekolah saat ini masih belum sepenuhnya aman bagi para siswa secara sosial.
Faktor Pemicu Perundungan di Lingkungan Pendidikan
Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa salah satu akar masalah perundungan adalah persaingan antar-murid yang dipicu oleh pengaruh gaya hidup. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu, terkadang berubah menjadi ajang pamer status sosial atau kekayaan.
Fenomena pamer kemewahan ini sering kali menciptakan suasana yang tidak nyaman bagi sebagian siswa. Dari sinilah gesekan sosial bermula yang kemudian berkembang menjadi tindakan perundungan di antara teman sebaya.
Berdasarkan hasil riset dan pengamatan Mendikdasmen, berikut adalah beberapa faktor utama penyebab terjadinya bullying di sekolah:
- Ketimpangan Relasi Kuasa: Perundungan sering kali melibatkan pihak yang merasa kuat (the powerful) menindas pihak yang lemah (the powerless).
- Kondisi Fisik: Siswa dengan keterbatasan fisik atau anak berkebutuhan khusus kerap menjadi sasaran empuk tindakan perundungan.
- Faktor Gender: Data menunjukkan bahwa murid perempuan memiliki risiko lebih tinggi menjadi korban perundungan dibandingkan laki-laki.
- Kondisi Ekonomi: Perbedaan strata ekonomi yang terlihat dari penampilan fisik atau pakaian sering kali memicu tindakan diskriminatif.
- Kemampuan Akademik: Siswa yang memiliki capaian nilai rendah sering kali mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari lingkungan sekitarnya.
- Perbedaan Ciri Fisik: Murid yang memiliki tampilan fisik berbeda dari mayoritas sering kali mengalami stigmatisasi yang berujung pada bullying.
Selain faktor-faktor tersebut, kebijakan sekolah seperti sistem perankingan juga disebut berperan dalam memicu persaingan tidak sehat. Sikap guru yang membanding-bandingkan kemampuan akademik murid tanpa disadari memberikan dampak psikologis yang berat bagi siswa.
Pentingnya Keamanan Intelektual dan Nilai Penghormatan
Menghadapi tantangan ini, Menteri Mu'ti menekankan pentingnya keamanan secara intelektual di sekolah. Hal ini berkaitan erat dengan bagaimana tenaga pendidik menyampaikan pengetahuan kepada para siswa.
Ia berpendapat bahwa metode pengajaran tidak boleh dilepaskan dari nilai-nilai kemanusiaan dan penghormatan. Setiap murid harus dipandang sebagai individu yang layak dimuliakan tanpa melihat latar belakang mereka.
Sebagai solusi nyata, Kemendikdasmen kini mulai menggaungkan konsep deep learning dengan nilai-nilai utama sebagai berikut:
| Prinsip Utama | Tujuan Implementasi |
|---|---|
| Memuliakan Guru | Menciptakan rasa hormat terhadap pendidik sebagai teladan karakter. |
| Memuliakan Murid | Menjamin setiap siswa merasa dihargai dan aman di lingkungan sekolah. |
| Memuliakan Ilmu | Menjadikan proses belajar sebagai kegiatan yang bermartabat dan bernilai. |
Penerapan konsep deep learning ini diharapkan mampu mengubah budaya sekolah menjadi lebih humanis. Fokus utamanya adalah memastikan institusi pendidikan benar-benar menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi seluruh elemen di dalamnya.
Dengan memadukan keamanan fisik, sosial, dan intelektual, pemerintah berharap angka perundungan dapat ditekan secara signifikan. Langkah ini krusial demi mendukung perkembangan mental dan akademik generasi muda Indonesia ke depan.