Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, memberikan sorotan khusus terhadap cara guru membangun suasana kelas yang kondusif. Menurutnya, ilmu pengetahuan saat ini tidak hanya bersumber dari buku teks atau materi di dalam kelas saja.
Pembelajaran berharga bisa datang dari berbagai media, termasuk melalui karya film yang relevan dengan realitas sosial. Abdul Mu'ti kemudian mengambil inspirasi dari sebuah film klasik berjudul "Freedom Writers" sebagai referensi bagi para pendidik.
Film tersebut menggambarkan perjuangan seorang guru muda yang harus menghadapi kelas dengan latar belakang murid yang sangat bermasalah. Konflik yang terjadi tidak hanya melibatkan perundungan antar sesama siswa, tetapi juga tindakan kasar murid terhadap guru mereka sendiri.
Dalam situasi yang penuh tekanan itu, sang guru mencoba berbagai strategi unik agar proses belajar-mengajar dapat berjalan efektif. Ia menerapkan dua metode utama yang dinilai masih sangat relevan untuk diterapkan oleh para guru di Indonesia saat ini.
Dua Strategi Menciptakan Kelas yang Aman dan Nyaman
Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa langkah pertama yang dilakukan adalah mengajak para murid untuk rajin menulis jurnal harian. Jurnal tersebut berfungsi sebagai wadah bagi murid untuk menuangkan segala isi pikiran, perasaan, dan keinginan mereka tanpa rasa takut.
“Guru tersebut meminta murid menuliskan apa yang ada di hati dan pikiran mereka secara bebas setiap harinya,” ujar Mu'ti. Pernyataan ini disampaikan dalam Seminar Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, pada Senin (25/5/2026).
Setiap jurnal tersebut kemudian disimpan dalam loker masing-masing siswa dengan aturan kerahasiaan yang sangat ketat. Sang guru hanya akan membaca isi jurnal tersebut jika si pemilik memberikan izin, dan tidak akan menyentuhnya jika murid melarang.
Melalui tulisan-tulisan tersebut, sang guru akhirnya memahami akar penyebab perilaku menyimpang yang dilakukan oleh murid-muridnya. Selain itu, ia juga menjadi tahu apa sebenarnya harapan para siswa terhadap proses pendidikan yang mereka jalani.
Langkah kedua yang diambil adalah menyusun aturan main yang disepakati bersama di dalam lingkungan kelas. Aturan ini memberikan kebebasan bagi murid untuk berbicara secara terbuka mengenai apapun, namun dengan batasan tegas pada aspek fisik.
Dua poin utama dalam strategi membangun suasana kelas :
- Penyediaan Jurnal Pribadi: Memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan emosi, harapan, dan keresahan mereka secara tertulis tanpa tekanan.
- Aturan Komunikasi Tanpa Kekerasan: Mengizinkan kebebasan berbicara namun melarang keras adanya kontak fisik atau tindakan pemukulan di dalam kelas.
Setelah aturan ini diterapkan, para murid mulai berani mengeluarkan pendapat mereka secara vokal. Meskipun bahasa yang digunakan terkadang mencerminkan latar belakang keluarga atau lingkungan sosial yang bermasalah, komunikasi tetap terjaga tanpa kekerasan fisik.
Pentingnya Ruang Ekspresi bagi Siswa
Menteri Mu'ti menilai bahwa perilaku bermasalah pada anak seringkali dipicu oleh ketiadaan ruang untuk mengekspresikan diri. Ketika guru mampu menyediakan ruang tersebut, secara perlahan perilaku siswa yang dianggap nakal akan mulai menunjukkan perubahan positif.
Siswa yang sering mendapatkan label negatif biasanya merasa terpojok karena tidak memiliki sarana untuk didengar. Kondisi ini seringkali membuat mereka melakukan tindakan menyimpang yang justru berujung pada pemberian sanksi atau hukuman tambahan.
“Selama ini mereka terhambat karena tidak adanya ruang ekspresi yang terbuka bagi mereka,” ungkap Menteri Mu'ti. Ia juga mengkritik penggunaan label tertentu atas nama pendidikan yang justru membuat murid merasa semakin tidak nyaman di sekolah.
Ketika lingkungan sekolah mampu menghadirkan rasa aman, murid akan merasa keberadaannya diakui dan suaranya didengarkan. Meskipun prosesnya tidak mudah, pendekatan ini terbukti mampu melahirkan perubahan besar, sebagaimana yang diceritakan dalam film Freedom Writers.
Berikut adalah ringkasan mengenai dampak positif pemberian ruang ekspresi bagi siswa yang bisa dipelajari dari kisah tersebut.
| Aspek Perubahan | Kondisi Awal (Tanpa Ruang Ekspresi) | Kondisi Akhir (Setelah Ruang Tersedia) |
|---|---|---|
| Perilaku Siswa | Sering melakukan penyimpangan dan kekerasan fisik. | Lebih tenang dan mampu mengomunikasikan masalah secara verbal. |
| Hubungan Guru-Murid | Penuh jarak, saling tidak percaya, dan ada perundungan. | Terjalin rasa saling menghargai dan keterbukaan komunikasi. |
| Suasana Belajar | Kelas terasa tegang, tidak aman, dan penuh konflik. | Tercipta lingkungan yang mendukung pertumbuhan karakter. |
Tabel di atas menunjukkan betapa krusialnya peran guru dalam mengalihkan energi negatif murid menjadi aktivitas yang lebih produktif. Hal ini selaras dengan tujuan besar Kemendikdasmen dalam membangun budaya sekolah yang lebih manusiawi.
Implementasi Kebijakan Budaya Sekolah Aman
Sebagai langkah konkret, Kemendikdasmen telah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 yang mengatur tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Penggunaan istilah 'budaya' dipilih secara sengaja untuk menekankan perubahan mendasar pada perilaku kolektif.
Menteri Mu'ti menjelaskan bahwa merujuk pada UU Sisdiknas, tujuan utama pendidikan adalah membentuk karakter yang mencakup pola pikir, nilai, dan perilaku. Perilaku yang diharapkan bukan hanya bersifat individu, melainkan juga harus menjadi gerakan kolektif di sekolah.
Aturan terbaru ini tidak hanya menyasar interaksi di dalam sekolah, tetapi juga mengatur pola komunikasi antara pihak sekolah dengan wali murid. Selain itu, jalinan hubungan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat luas juga turut menjadi poin penting yang diatur.
Pendekatan yang dikedepankan dalam kebijakan ini adalah sisi humanis, di mana setiap individu diperlakukan dengan penuh martabat. Hal ini berarti memanusiakan dan memuliakan setiap murid tanpa memandang latar belakang atau kondisi awal yang mereka miliki.
Dengan adanya landasan hukum ini, diharapkan setiap sekolah mampu bertransformasi menjadi tempat yang benar-benar melindungi siswanya. Fokus utamanya adalah membangun ekosistem pendidikan yang memprioritaskan rasa aman demi masa depan generasi muda Indonesia.