Kabar duka menyelimuti Universitas Hasanuddin setelah salah satu mahasiswinya, Princess Jenifer Tjiang, dilaporkan meninggal dunia pada Senin, 18 Mei 2026. Mahasiswi dari Departemen Teknik Arsitektur angkatan 2024 tersebut diduga mengakhiri hidupnya dengan melompat dari salah satu gedung di area kampus.
Peristiwa tragis ini mengejutkan seluruh civitas akademika, terutama rekan sejawat korban di Fakultas Teknik. Pihak universitas pun bergerak cepat dengan menyampaikan belasungkawa resmi melalui kanal media sosial mereka.
Ungkapan Duka Cita dari Pihak Universitas
Melalui akun Instagram resminya, Universitas Hasanuddin menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam atas kepergian mahasiswi berbakat tersebut. Unggahan itu menjadi ruang bagi pihak kampus untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang.
Rektor beserta seluruh jajaran akademika mendoakan agar almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Mereka juga berharap keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kekuatan dalam menghadapi masa sulit ini.
Pernyataan resmi dari pihak kampus Unhas sebagai berikut:
- Menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya mahasiswi Teknik Arsitektur angkatan 2024 tersebut.
- Mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan ketenangan jiwa.
- Menghargai jasa dan keberadaan almarhumah selama menempuh pendidikan di lingkungan kampus.
Ucapan duka ini pun langsung dipenuhi komentar dari mahasiswa dan masyarakat umum yang turut merasa kehilangan. Kepergian Princess Jenifer Tjiang di usia yang masih sangat muda tentu meninggalkan luka mendalam bagi banyak pihak.
Isyarat Terakhir Melalui Pesan Suara
Di tengah suasana duka, sebuah rekaman pesan suara atau voice note yang diduga dikirimkan oleh mendiang kepada temannya mulai beredar di media sosial. Isi pesan tersebut menjadi sorotan karena berisi isyarat kuat mengenai rencana korban sebelum insiden terjadi.
Dalam rekaman itu, suara yang diduga milik Princess terdengar sangat emosional saat menitipkan pesan terakhirnya. Ia menyatakan kemungkinan besar dirinya sudah tiada ketika temannya mendengarkan pesan suara tersebut.
Beberapa poin krusial yang terdapat dalam rekaman suara yang beredar:
- Permintaan bantuan kepada temannya untuk mencari keberadaannya di area parkir belakang Gedung Arsi.
- Keinginan agar temannya menghubungi pihak lain bernama Tila untuk membawa dirinya pulang.
- Penegasan bahwa tindakan tersebut merupakan keputusan pribadi yang diambil tanpa tekanan dari pihak luar.
Pesan suara ini memicu reaksi haru dari para warganet yang menyimak betapa berat beban yang mungkin sedang dipikul korban. Ungkapan "purely ada karena keinginanku sendiri" dalam rekaman tersebut memperjelas kondisi psikologis korban di saat-saat terakhirnya.
Hingga saat ini, pihak berwenang dan universitas masih mendalami kejadian ini lebih lanjut. Kasus ini juga menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental di lingkungan pendidikan tinggi.