Lifting Minyak RI Terancam, Target 2027 Sulit Tercapai Akibat Natural Decline

Lifting Minyak RI Terancam, Target 2027 Sulit Tercapai Akibat Natural Decline
Foto: Lifting Minyak RI Terancam, Target 2027 Sulit Tercapai Akibat Natural Decline. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Target lifting minyak bumi yang dipatok pemerintah untuk tahun 2027 dinilai terlalu ambisius oleh pengamat industri. Dalam asumsi dasar ekonomi makro, angka produksi siap jual tersebut ditargetkan mencapai kisaran 602.000 hingga 615.000 barel per hari (bph).

Kondisi lapangan minyak di Indonesia yang terus mengalami penurunan produksi secara alami atau natural decline menjadi faktor utama keraguan tersebut. Praktisi senior industri minyak dan gas bumi (migas), Hadi Ismoyo, memberikan pandangan yang lebih realistis terkait proyeksi ini.

Hadi memproyeksikan bahwa realisasi produksi minyak nasional pada tahun depan kemungkinan besar akan meleset dari target yang dicanangkan. Menurut perhitungannya, angka produksi yang lebih masuk akal untuk dicapai pada 2027 hanya berada di kisaran 580.000 bph.

Hadi mengungkapkan pendapatnya secara jujur bahwa target sebesar 615.000 bph merupakan angka yang sangat berat untuk direalisasikan. Ia memperkirakan hasil akhir produksi hanya akan menyentuh angka 580.000 bph saja.

Bahkan, angka proyeksi Hadi tersebut sudah mencakup sekitar 20.000 LPG equivalent liquid di dalamnya. Namun, ia secara pribadi merasa kurang tepat jika komponen tersebut dimasukkan sebagai bagian dari lifting minyak dan kondensat.

Dalam penjelasannya, Hadi menekankan bahwa industri hulu migas merupakan sektor usaha yang membutuhkan komitmen jangka panjang. Hasil produksi yang dinikmati hari ini bukanlah proses instan yang terjadi dalam waktu singkat.

Minyak bumi yang berhasil diproduksi saat ini adalah buah dari investasi besar dan program eksplorasi intensif. Kegiatan tersebut biasanya sudah dilakukan sejak sepuluh tahun yang lalu sebelum lapangan bisa berproduksi secara optimal.

Tantangan Produksi Minyak Nasional

Kondisi perminyakan di Indonesia saat ini memang tengah menghadapi tantangan serius yang sering disebut sebagai fase "sedang sakit". Penurunan produksi dari sumur-sumur tua menjadi beban berat yang sulit diimbangi oleh penemuan lapangan baru.

Pemerintah menetapkan target lifting 615.000 bph ini bertepatan dengan fluktuasi harga minyak mentah Indonesia (ICP). Pada periode ini, harga ICP sendiri sempat menyentuh angka US$117,31 per barel di pasar internasional.

Di sisi lain, terdapat laporan kinerja positif dari salah satu pemain utama di sektor hulu migas nasional. PT Pertamina Hulu Energi (PHE) tercatat berhasil mencatatkan angka produksi migas sebesar 1,03 juta barel setara minyak per hari (BOEPD) sepanjang tahun 2025.

Berikut adalah ringkasan target dan proyeksi lifting minyak bumi untuk tahun 2027:

  • Target Pemerintah (Batas Bawah): 602.000 barel per hari (bph).
  • Target Pemerintah (Batas Atas): 615.000 barel per hari (bph).
  • Proyeksi Realistis Praktisi: 580.000 barel per hari (bph).
  • Komposisi Proyeksi: Termasuk 20.000 LPG equivalent liquid.
  • Faktor Utama Penghambat: Penurunan produksi alami atau natural decline di berbagai lapangan.

Daftar di atas menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup signifikan antara target yang ditetapkan otoritas dengan kondisi riil di lapangan. Para ahli melihat perlunya penyesuaian strategi agar target yang dicanangkan tidak terlalu jauh dari realita industri.

Perbandingan antara target resmi pemerintah dan estimasi praktisi migas disajikan dalam tabel berikut:

Kategori Proyeksi Volume Produksi (Bph) Status Realistis
Target Makro 2027 (Maksimal) 615.000 Sangat Berat
Target Makro 2027 (Minimal) 602.000 Optimistis
Estimasi Praktisi (Hadi Ismoyo) 580.000 Realistis

Tabel tersebut merinci perbedaan pandangan antara pemerintah dan praktisi mengenai kemampuan produksi minyak Indonesia pada tahun 2027. Terlihat bahwa terdapat selisih sekitar 35.000 bph antara target tertinggi pemerintah dengan prediksi ahli.

Faktor Eksternal dan Operasional

Selain masalah internal produksi, faktor geopolitik internasional juga ikut memengaruhi kondisi ketahanan energi Indonesia. Sebagai contoh, konflik atau perang di wilayah Timur Tengah berdampak langsung pada operasional perusahaan migas nasional di luar negeri.

Pertamina dilaporkan kehilangan potensi produksi sebesar 100.000 barel akibat situasi keamanan di aset mereka yang berada di Irak. Hal ini menambah daftar panjang tantangan dalam menjaga stabilitas pasokan minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri.

Sementara itu, harga minyak global tetap tertahan di tengah upaya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi pasar global ini terus dipantau karena berpengaruh pada nilai ICP dan anggaran belanja negara.

Untuk mengejar target produksi, langkah eksplorasi terus didorong, termasuk di wilayah-wilayah strategis seperti Blok East Natuna. PHE memastikan bahwa kegiatan eksplorasi di blok tersebut akan mulai berjalan pada tahun ini untuk mencari cadangan baru.

Pemerintah juga sedang menyiapkan aturan baru melalui Perpres untuk mempermudah impor minyak, termasuk kemungkinan dari Rusia. Skema impor ini nantinya akan dikelola melalui Badan Layanan Umum (BLU) dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Di tengah dinamika ini, perubahan peta kepemilikan aset migas di Asia oleh perusahaan global seperti Eneos juga menjadi sorotan. Publik kini menunggu apakah raksasa migas seperti Chevron masih memiliki minat besar untuk berinvestasi di sektor hulu migas Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi