Rencana pengelolaan Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo kini memasuki babak baru dengan nilai lelang yang sangat fantastis. Meski banyak peminat, proses ini ternyata menghadapi tantangan serius terkait kesepakatan nilai kerja sama.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa tingginya nilai aset menjadi faktor utama dalam alotnya negosiasi. Calon pengelola kabarnya terus mengajukan proses tawar-menawar agar angka yang disepakati bisa lebih realistis.
Kendala Nilai Kerja Sama dan Prosedur Administrasi
Tantangan utama dalam proses lelang ini adalah penetapan nilai Kerja Sama Pengelolaan (KSP) yang dianggap sangat besar. Berdasarkan hasil audit, potensi pendapatan dari tiket Bandung Zoo saja bisa menyentuh angka Rp26 miliar per tahun.
Kondisi inilah yang membuat kalkulasi nilai kontrak untuk durasi 26 tahun ke depan mencapai angka triliunan rupiah. Farhan menyebut bahwa nilai aset yang sangat tinggi membuat calon pengelola bersikap sangat hati-hati dalam berhitung.
Proses negosiasi yang berulang kali terjadi berdampak langsung pada kelancaran administrasi lelang di lapangan. Jika calon pengelola ingin mengubah angka penawaran, maka prosedur lelang harus dimulai kembali dari awal sesuai aturan yang berlaku.
Keterbatasan waktu menjadi kendala tambahan karena administrasi lelang ulang membutuhkan tahapan yang cukup panjang. Farhan menegaskan bahwa Pemerintah Kota Bandung harus mengikuti aturan dari Kementerian Dalam Negeri dalam menyikapi perubahan dokumen lelang tersebut.
Daftar Calon Pengelola Potensial
Meskipun prosesnya cukup rumit, tercatat ada tiga lembaga konservasi besar yang menunjukkan ketertarikan kuat. Ketiga kandidat ini bersaing ketat untuk mendapatkan hak kelola kebun binatang kebanggaan warga Bandung tersebut.
Berikut adalah daftar calon mitra pengelola yang masuk dalam tahap seleksi:
- Gembira Loka Zoo: Lembaga konservasi ternama yang berbasis di Yogyakarta.
- Taman Safari Indonesia: Jaringan taman safari internasional yang sudah sangat berpengalaman.
- Faunaland: Pengelola taman margasatwa populer yang berlokasi di Jakarta.
Ketiga calon kuat tersebut saat ini sedang melewati tahapan verifikasi dokumen dan penyesuaian penawaran. Farhan berharap proses administratif ini segera tuntas agar pengelolaan Bandung Zoo bisa berjalan lebih optimal.
Jadwal dan Tahapan Lelang Ulang
Berdasarkan dokumen resmi, rangkaian lelang ulang ini sebenarnya sudah dimulai sejak akhir Mei 2026. Pemerintah telah menyusun jadwal ketat guna memastikan penetapan mitra pengelola tidak meleset dari target.
Berikut adalah rincian jadwal pelaksanaan tender pengelolaan Bandung Zoo:
| Tahapan Agenda | Waktu Pelaksanaan |
|---|---|
| Dimulainya Lelang Ulang | 26 Mei 2026 |
| Penjelasan Tender (Anwijzing) | 3 Juni 2026 |
| Pemasukan Dokumen Penawaran | 4 Juni 2026 |
| Pelaksanaan Tender Resmi | 8 Juni 2026 |
| Penetapan Mitra Pengelola | 9 Juni 2026 |
| Penandatanganan Kerja Sama | 12 Juni 2026 |
Jadwal di atas menunjukkan bahwa pengumuman pemenang dan penandatanganan kontrak dilakukan dalam waktu yang sangat berdekatan. Pemerintah berharap seluruh proses ini selesai tepat waktu agar kepastian hukum pengelolaan Bandung Zoo segera terwujud.
Farhan optimis bahwa meskipun penuh dengan tantangan administratif, Bandung Zoo akan segera mendapatkan pengelola terbaik. Harapannya, kerja sama ini akan membawa perubahan positif bagi kelestarian satwa dan daya tarik wisata di Kota Kembang.