Pertemuan puncak antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada pertengahan Mei 2026 menjadi sorotan dunia. KTT yang berlangsung selama dua hari ini dianggap sebagai babak baru dalam dinamika hubungan kedua negara adidaya tersebut.
Robert Manning, pakar China dari Stimson Center, memberikan perspektif menarik terkait perkembangan hubungan ini melalui kacamata psikologis. Ia menganalisis interaksi AS-China menggunakan lima tahap siklus duka cita, yaitu penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan.
Menurut mantan pejabat intelijen dan Departemen Luar Negeri AS tersebut, hasil KTT kali ini menandakan bahwa hubungan bilateral telah memasuki tahap ketiga. Tahap tawar-menawar ini tercermin dari upaya kedua negara mulai menetapkan batas dalam persaingan serta mengatur regulasi perdagangan.
Manning menjelaskan bahwa pada periode 1990-an hingga awal abad ke-21, Amerika Serikat berada dalam tahap penyangkalan. Saat itu, Washington yakin bahwa China akan melakukan liberalisasi ekonomi dan politik seiring dengan keterbukaan mereka kepada dunia luar.
Namun, harapan tersebut sirna setelah krisis keuangan global tahun 2008 yang memicu tahap kemarahan bagi pihak AS. Melalui pertemuan di Beijing ini, Trump dinilai mulai berpindah ke fase tawar-menawar dengan mencoba menyusun kerangka kompetisi yang lebih terukur.
Minim Kesepakatan Konkret Meski Berlangsung Mewah
Berbeda dengan KTT tingkat tinggi pada umumnya, pertemuan di Beijing ini justru tidak menghasilkan pengumuman kesepakatan besar yang bersifat konkret. Informasi mendalam mengenai detail kesepakatan perdagangan yang sempat diklaim fantastis oleh Trump ternyata masih sangat terbatas.
Sekembalinya ke Washington, Trump hanya mengeklaim secara lisan bahwa China memiliki komitmen kuat untuk membeli komoditas dari AS. Ia menyebutkan adanya rencana pembelian kedelai senilai miliaran dollar serta ratusan unit pesawat terbang dari Boeing.
Berikut adalah daftar komitmen pembelian produk AS yang dilaporkan setelah kunjungan tersebut:
- Pembelian produk hasil pertanian dalam skala besar.
- Pengadaan mesin pesawat dari perusahaan GE.
- Komitmen ekspor minyak dan berbagai alat kesehatan.
- Pemulihan kembali jalur perdagangan daging sapi AS ke pasar China.
Meski terdapat daftar rencana pembelian tersebut, banyak pihak merasa hasil pertemuan ini masih jauh di bawah ekspektasi awal. Hal yang paling mengejutkan bagi banyak pengamat adalah absennya pembahasan mengenai isu tarif dagang dalam meja perundingan.
Wendy Cutler, mantan pejabat perdagangan AS, menilai hasil kunjungan ini cukup mengecewakan bagi publik Amerika. Menurutnya, Trump biasanya selalu menempatkan kepentingan ekonomi dan penyelesaian masalah tarif sebagai prioritas utama dalam setiap negosiasi.
Para analis menduga bahwa China sengaja menahan diri untuk tidak membuat pengumuman besar saat ini. Langkah ini diduga berkaitan dengan ancaman tambahan tarif dari AS yang masih membayangi akibat proses investigasi kepabeanan yang sedang berjalan.
Kebuntuan Isu Iran dan Status Taiwan
Selain masalah ekonomi, KTT Beijing ini juga gagal melahirkan solusi baru terkait dua isu geopolitik yang sangat sensitif bagi kedua negara. Masalah ketegangan di Iran serta status kemerdekaan Taiwan tetap menjadi poin yang sulit untuk disepakati.
Walaupun Trump dan Xi Jinping sepakat bahwa Iran dilarang memiliki senjata nuklir, China tampak enggan bertindak lebih jauh. Sebagai mitra strategis utama Teheran, Beijing lebih memilih jalur retorika diplomatik daripada melakukan tekanan nyata secara fisik atau ekonomi.
Ringkasan perbandingan fokus pembahasan dalam KTT Beijing:
| Aspek Pembahasan | Status Hasil Pertemuan |
|---|---|
| Perdagangan & Komoditas | Komitmen pembelian produk pertanian dan pesawat Boeing. |
| Tarif Dagang | Tidak dibahas sama sekali dalam pertemuan. |
| Senjata Nuklir Iran | Kesepakatan retorika tanpa langkah nyata di lapangan. |
| Keamanan Taiwan | Tidak mencapai terobosan atau kesepakatan baru. |
Tabel di atas menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan dalam hal belanja komoditas, isu-isu fundamental lainnya masih menemui jalan buntu. Hubungan kedua negara kini berada di persimpangan jalan yang penuh dengan negosiasi tanpa kepastian hasil yang cepat.