Kritik Pendidikan di Jogja: Saat Sistem Sekolah Dinilai Lupa Memanusiakan Manusia

Kritik Pendidikan di Jogja: Saat Sistem Sekolah Dinilai Lupa Memanusiakan Manusia
Foto: Ilustrasi Kritik Pendidikan di Jogja: Saat Sistem Sekolah Dinilai Lupa Memanusiakan Manusia.
Ukuran teks

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) baru saja menyelenggarakan sebuah forum diskusi mendalam bertajuk "Ngkaji Pendidikan: Membaca? See the Unseen". Acara ini berlangsung di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya Yogyakarta pada Sabtu, 9 Mei 2026.

Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi dengan kehadiran sekitar 500 guru dan pegiat pendidikan dari berbagai penjuru Nusantara. Peserta datang dari wilayah Kalimantan Selatan, Bontang, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, DI Yogyakarta, hingga Bali.

Menilik Kembali Esensi Kemanusiaan dalam Pendidikan

Forum ini tampil beda karena tidak terjebak pada pembahasan kaku mengenai kurikulum, urusan administrasi sekolah, ataupun strategi teknis mengajar. Fokus utama diskusi justru diarahkan pada aspek yang lebih fundamental, yakni manusia dan kesadaran dalam proses belajar.

Para peserta diajak untuk melatih kemampuan melihat hal-hal yang selama ini sering terabaikan atau tidak terlihat secara kasat mata di dalam ruang kelas. Pendekatan ini diharapkan mampu mengembalikan marwah pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia.

Muhammad Nur Rizal, pendiri GSM yang juga merupakan dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM), mengungkapkan kegelisahan yang dirasakan oleh para pendidik saat ini. Ia menyoroti fenomena di mana jumlah sekolah terus bertambah, namun kemampuan berpikir kritis siswa justru tampak tidak berkembang.

Berikut adalah data perkembangan kuantitas institusi dan lulusan pendidikan di Indonesia dalam beberapa dekade:

Kategori Data Tahun / Periode Jumlah / Kapasitas
Jumlah Sekolah 1970 - 2020 Naik dari 100 ribu menjadi 300 ribu unit
Jumlah Universitas 1950 - 2022 Naik dari 20-an menjadi 4.000+ kampus
Jumlah Mahasiswa 1975 - 2025 Naik dari 200 ribu menjadi 9,9 juta jiwa
Lulusan Sarjana 1980 - 2025 Naik dari 50 ribu menjadi 1,3 juta orang

Data tersebut menunjukkan adanya lonjakan drastis pada sisi kuantitas infrastruktur dan jumlah lulusan di tanah air. Namun, pertumbuhan angka-angka ini dinilai belum sejalan dengan peningkatan kualitas intelektual yang diharapkan.

Tantangan Kualitas Berpikir di Tengah Ledakan Kuantitas

Ketertinggalan kualitas pendidikan Indonesia terlihat jelas dalam laporan internasional yang dirilis baru-baru ini. Berdasarkan data PISA 2022 dari OECD yang dipublikasikan pada 2023, skor Indonesia masih jauh di bawah standar global.

Beberapa poin penting mengenai posisi pencapaian pendidikan Indonesia saat ini adalah sebagai berikut:

  • Skor literasi, matematika, dan sains Indonesia tertinggal sekitar 100 hingga 120 poin dari rata-rata negara OECD.
  • Sebagian besar siswa di Indonesia terdeteksi belum mampu mencapai tingkat kompetensi minimum pada tiga bidang utama tersebut.
  • Adanya kesenjangan antara pesatnya pembangunan fisik sekolah dengan pertumbuhan kemampuan berpikir kritis siswa.
  • Pendidikan dinilai mulai kehilangan fondasi kemanusiaannya karena terlalu fokus pada angka dan administrasi.

Kondisi ini menjadi peringatan bagi dunia pendidikan bahwa keberhasilan tidak bisa hanya diukur dari banyaknya ijazah yang diterbitkan. Dibutuhkan perubahan paradigma agar sekolah kembali menjadi tempat yang menumbuhkan daya pikir dan kesadaran manusia secara utuh.

Rizal menegaskan bahwa pendidikan seharusnya mampu menyentuh sisi terdalam manusia, bukan sekadar mencetak lulusan untuk kebutuhan industri. Forum Ngkaji Pendidikan ini diharapkan menjadi awal bagi para guru untuk mulai membawa perubahan nyata di sekolah masing-masing.

Artikel terkait

Rekomendasi