Ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah berdampak signifikan pada mobilitas udara internasional. Meskipun sempat ada upaya gencatan senjata, serangan Israel ke Lebanon memicu kekhawatiran baru bagi sektor penerbangan global.
Kondisi ini memaksa banyak maskapai internasional untuk mengubah rute penerbangan mereka, terutama rute yang menghubungkan Eropa dan Asia. Langkah ini diambil guna menghindari wilayah udara yang dianggap berbahaya, seperti Irak, Iran, Suriah, dan Israel.
Meskipun beberapa maskapai lokal di wilayah Teluk mulai memulihkan kapasitas operasional secara bertahap, gangguan arus lalu lintas udara masih terasa luas. Banyak maskapai besar dari luar kawasan kini memilih rute memutar yang lebih jauh demi menjamin keamanan penumpang.
Daftar Penyesuaian Penerbangan Maskapai Global
Konflik berkepanjangan ini mengakibatkan penangguhan dan pembatalan jadwal terbang di berbagai maskapai dari berbagai benua.
Berikut adalah detail penyesuaian operasional dari maskapai Eropa dan Mediterania:
- Aegean Airlines: Menghentikan rute ke Tel Aviv sampai 26 Juni, Dubai hingga 31 Agustus, serta wilayah Erbil dan Baghdad hingga awal Juli.
- Air France & KLM: Air France menunda penerbangan ke Tel Aviv, Beirut, dan Dubai hingga pertengahan Juni, sementara KLM menghentikan rute ke Riyadh dan Dubai hingga Agustus.
- Air Europa & airBaltic: Air Europa membatalkan jadwal ke Tel Aviv hingga 28 Juni, sedangkan airBaltic menunda rute ke Dubai hingga 24 Oktober.
- Finnair & LOT: Finnair menghindari wilayah udara konflik dan membatalkan rute Doha hingga Oktober, sementara LOT Polandia menunda rute Riyadh dan Beirut hingga akhir Juni.
- Wizz Air & Norwegian Air: Wizz Air menangguhkan rute ke Dubai dan Amman hingga September, sementara Norwegian menunda pembukaan rute baru ke Beirut dan Tel Aviv.
Kebijakan tersebut diambil sebagai respons cepat terhadap dinamika keamanan di lapangan yang tidak menentu. Maskapai berupaya meminimalisir risiko sambil terus memantau perkembangan situasi politik di Timur Tengah.
Kebijakan Lufthansa Group dan Aliansinya
Lufthansa Group, yang membawahi beberapa maskapai besar, juga mengambil langkah tegas dalam mengatur jadwal penerbangan mereka.
Rincian penangguhan jadwal terbang maskapai di bawah naungan Lufthansa Group:
| Maskapai | Destinasi Terpengaruh | Status Penangguhan |
|---|---|---|
| Lufthansa & ITA Airways | Tel Aviv, Dubai, Riyadh | Hingga September 2026 |
| SWISS & Brussels Airlines | Tel Aviv, Beirut | Hingga akhir Oktober 2026 |
| Eurowings | Dubai, Abu Dhabi, Erbil | Hingga 24 Oktober 2026 |
| Austrian Airlines | Teheran, Amman, Muscat | Hingga 24 Oktober 2026 |
Tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar penangguhan dilakukan hingga akhir musim panas atau memasuki bulan Oktober. Hal ini dilakukan untuk memberikan kepastian jadwal di tengah situasi konflik yang masih sangat cair.
Penyesuaian Maskapai IAG dan Amerika
British Airways yang berada di bawah naungan IAG juga melakukan pemangkasan rute secara signifikan di wilayah tersebut. Maskapai ini menunda perjalanan ke Doha dan Riyadh hingga Agustus, serta menghentikan rute ke Amman dan Bahrain sementara waktu.
Saat beroperasi kembali nanti, kapasitas kursi untuk destinasi seperti Dubai dan Tel Aviv akan dikurangi menjadi hanya satu kali sehari. Selain itu, destinasi Jeddah secara resmi telah dihapus dari daftar rute maskapai asal Inggris ini.
Di belahan dunia lain, maskapai asal Amerika Utara seperti Air Canada membatalkan penerbangan ke Tel Aviv dan Dubai hingga September. Delta Air Lines bahkan menunda rute dari Boston ke Tel Aviv tanpa batas waktu yang ditentukan.
Dampak pada Maskapai Asia dan Australia
Maskapai di kawasan Asia Pasifik juga tidak luput dari dampak konflik ini dan harus menyesuaikan operasional mereka agar tetap aman.
Beberapa penyesuaian penting dari maskapai di kawasan Asia dan Australia meliputi:
- Singapore Airlines: Memperpanjang pembatalan rute ke Dubai hingga Agustus dan mengalihkan kapasitas pesawat ke rute aman seperti London dan Melbourne.
- Qantas: Menambah frekuensi terbang ke Roma dan Paris guna melayani penumpang yang menghindari transit di Timur Tengah.
- Cathay Pacific: Menghentikan sementara semua layanan penerbangan menuju Dubai dan Riyadh hingga akhir Agustus 2026.
- Japan Airlines: Membatalkan rute Tokyo-Doha pulang-pergi yang berlaku hingga awal Agustus mendatang.
- Malaysia Airlines: Berencana untuk mencoba membuka kembali rute ke Doha secara terbatas mulai awal Juli.
Strategi pengalihan rute ini bertujuan untuk menjaga konektivitas antara Asia dan Eropa tanpa harus melintasi zona berbahaya. Penambahan frekuensi ke kota-kota besar di Eropa menjadi solusi bagi lonjakan permintaan rute yang lebih aman.
Hingga saat ini, pelaku industri penerbangan global terus memantau situasi di Lebanon dan sekitarnya. Keamanan penumpang tetap menjadi prioritas utama di atas segala kepentingan operasional komersial.