Kondisi Terkini Lokasi Viral yang Kini Sepi Bak Kota Mati, Publik Terkejut di 2026

Kondisi Terkini Lokasi Viral yang Kini Sepi Bak Kota Mati, Publik Terkejut di 2026
Foto: Kondisi Terkini Lokasi Viral yang Kini Sepi Bak Kota Mati, Publik Terkejut di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kecamatan Porong di Sidoarjo kini mengalami perubahan drastis sejak bencana semburan lumpur panas Lapindo melanda wilayah tersebut pada tahun 2006 silam. Kawasan yang dahulunya dikenal sebagai pusat keramaian ekonomi masyarakat Sidoarjo bagian selatan, kini justru tampak sunyi dan mencekam layaknya kota mati.

Dampak bencana ini tidak hanya menenggelamkan ribuan pemukiman warga, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi secara menyeluruh di wilayah Porong lama. Penurunan aktivitas perdagangan terlihat sangat mencolok di sepanjang Jalan Raya Porong yang kini sepi dari hiruk pikuk pembeli.

Sebelum bencana terjadi, area ini merupakan pusat belanja yang dipenuhi oleh deretan pertokoan, pedagang kaki lima, hingga berbagai rumah makan yang beroperasi hampir 24 jam. Namun saat ini, pemandangan yang tersisa hanyalah bangunan-bangunan kosong yang tertutup rapat dan terbengkalai tanpa penghuni.

Kondisi ini dipicu oleh terputusnya akses jalan utama setelah luapan lumpur merendam belasan desa di tiga kecamatan, yaitu Porong, Jabon, dan Tanggulangin. Ribuan penduduk terpaksa melakukan eksodus ke wilayah lain, yang secara otomatis menghilangkan basis konsumen di pusat keramaian tersebut.

Pedagang yang Berjuang di Tengah Kesunyian

Rio, pemilik Toko Cendrawasih, merupakan salah satu pelaku usaha yang masih mencoba bertahan di tengah kondisi sulit di Jalan Raya Porong lama. Toko sepatu dan sandal miliknya menjadi segelintir tempat usaha yang masih membuka pintu untuk melayani pembeli di kawasan tersebut.

Ia mengenang masa kejayaan kawasan ini di mana ratusan toko berjejer dan buka hingga larut malam karena ramainya permintaan konsumen. Rio mengungkapkan bahwa kini situasinya sangat berbeda, dengan banyak toko yang memilih tutup permanen karena sudah tidak ada lagi pelanggan yang datang.

Menurut Rio, penurunan jumlah pengunjung terjadi secara drastis sesaat setelah semburan lumpur Lapindo pertama kali muncul ke permukaan. Banyak rekan sesama pedagang yang akhirnya terpaksa gulung tikar akibat menderita kerugian yang terus menerus setiap harinya.

Suasana malam hari di lokasi ini pun digambarkan Rio sangat sepi dan menyeramkan layaknya sebuah kota mati yang ditinggalkan penghuninya. Di bagian utara jalan tersebut, praktis hanya toko miliknya yang masih beroperasi, sementara toko material dan pakaian hanya tersisa beberapa di sisi selatan.

Iswan Christanto, seorang pemilik toko bahan bangunan, juga memberikan kesaksian serupa mengenai penurunan omzet yang dialaminya secara signifikan. Ia menyebutkan bahwa hilangnya pusat keramaian membuat banyak pengusaha lain tidak sanggup lagi menahan beban operasional dan memilih menyerah.

Beberapa kerugian besar yang melanda masyarakat akibat dampak lumpur Lapindo antara lain:

  • Hilangnya ribuan tempat tinggal warga secara permanen.
  • Lumpuhnya aktivitas perdagangan di pusat ekonomi strategis.
  • Kerusakan luas pada lahan pertanian produktif milik penduduk.
  • Anjloknya nilai jual tanah dan aset properti di kawasan terdampak.

Kehancuran infrastruktur dan sosial ini menjadikan Porong yang dulunya merupakan pilar ekonomi Sidoarjo kini berubah menjadi wilayah yang terpuruk. Dampaknya tidak hanya menyentuh sektor ritel, namun juga merambah hingga ke sektor pariwisata lokal yang kini mulai meredup.

Penghasilan Pemandu Wisata Turun Tajam

Sektor pariwisata yang sempat tumbuh di lokasi semburan lumpur pun kini tengah berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ula Muanisa, salah satu pemandu wisata setempat, mengeluhkan jumlah kunjungan wisatawan yang semakin menipis setiap harinya.

Pendapatannya sebagai pemandu wisata mengalami penurunan yang sangat tajam jika dibandingkan dengan masa awal fenomena lumpur ini menjadi daya tarik. Dulu ia bisa mengantongi uang hingga Rp300 ribu per hari, namun kini untuk mendapatkan Rp50 ribu saja terasa sangat sulit.

Ketidakpastian jumlah kunjungan tamu membuat para pemandu wisata sering kali pulang dengan tangan hampa tanpa penghasilan sama sekali. Bahkan dalam sepekan, terkadang Ula hanya mendapatkan kesempatan satu kali saja untuk memandu wisatawan berkeliling lokasi semburan.

Situasi semakin sulit karena banyak pengunjung yang kini langsung turun ke lokasi secara mandiri tanpa menggunakan jasa pemandu lokal. Demi menjaga kelangsungan hidup keluarganya, Ula pun terpaksa mencari pekerjaan sampingan sebagai tukang ojek di luar kawasan wisata tersebut.

Mustofa, rekan sesama pemandu wisata, menambahkan bahwa masa sulit ini mulai terasa kian parah sejak pandemi COVID-19 melanda beberapa tahun lalu. Hingga saat ini, kondisi kunjungan wisatawan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan ke tingkat yang normal seperti sedia kala.

Rincian estimasi pendapatan harian para pekerja wisata di kawasan Lumpur Lapindo saat ini:

Kategori Waktu Estimasi Pendapatan per Hari
Hari Biasa (Senin - Jumat) Rp0 - Rp50.000
Akhir Pekan (Sabtu - Minggu) Tidak menentu (sedikit lebih ramai)
Masa Awal Semburan (Dulu) Rp200.000 - Rp300.000

Tabel tersebut menunjukkan adanya penurunan kesejahteraan yang sangat drastis bagi warga yang menggantungkan hidupnya di sektor jasa wisata. Meskipun sesekali terdapat rombongan besar dari luar kota, hal itu tidak menjamin peningkatan pendapatan bagi para tukang ojek dan pemandu lokal.

Harapan Bangkitnya Kembali Ekonomi Warga

Warga terdampak seperti Sastro dari Desa Jatirejo menaruh harapan besar kepada Pemerintah Daerah untuk membantu mempromosikan kembali wisata ini. Ia menilai campur tangan pemerintah sangat diperlukan agar denyut ekonomi di kawasan Porong bisa kembali berdenyut dan memberikan harapan bagi warga.

Banyak warga korban lumpur yang kehilangan mata pencaharian sebelumnya telah beralih menjadi pemandu wisata untuk bertahan hidup. Namun dengan kondisi saat ini, profesi tersebut sudah tidak lagi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga mereka yang kian mendesak.

Sastro berharap melalui promosi pariwisata yang lebih masif, kawasan Lumpur Lapindo bisa kembali menarik minat wisatawan dari berbagai daerah. Harapannya sederhana, yakni agar ekonomi masyarakat sekitar bisa bangkit kembali dan kemuraman "kota mati" di Porong bisa segera berakhir.

Artikel terkait

Rekomendasi