Kisah Ruskandar Sukses Bangun Usaha Ikan Bioflok Berkat Pemberdayaan BRI di 2026

Kisah Ruskandar Sukses Bangun Usaha Ikan Bioflok Berkat Pemberdayaan BRI di 2026
Foto: Kisah Ruskandar Sukses Bangun Usaha Ikan Bioflok Berkat Pemberdayaan BRI di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Di tengah suasana hujan gerimis, terdengar suara desis gelembung udara dari kolam bioflok di halaman rumah Ruskandar di Desa Purwasari, Dramaga, Bogor. Gelembung-gelembung kecil itu berasal dari aerator yang terus menerus menyuplai oksigen untuk ribuan ikan nila dalam kolam tersebut.

Di tengah cuaca mendung sore itu, Ruskandar mengenalkan detikcom pada delapan kolam ikan yang dikelolanya dengan sistem bioflok. Pria berusia 63 tahun ini tampak bersemangat menjelaskan usaha yang ditekuninya sejak pensiun dari pekerjaan di sebuah perusahaan BUMN. Setelah puluhan tahun bekerja dengan jam kantor yang teratur, dia memutuskan untuk memanfaatkan lahan depan rumahnya guna meningkatkan pendapatan keluarga.

Pada 2019, Ruskandar memulai budidaya ikan secara konvensional, namun hasilnya kurang memuaskan. Produksi ikan yang tidak optimal dan keterbatasan air di daerahnya membuat Ruskandar mencari alternatif lain. Pada 2025, ia beralih ke sistem bioflok, yang mengoptimalkan pasokan oksigen serta penggunaan mikroorganisme. Informasi mengenai metode ini diperolehnya dari internet serta masukan dari teman-temannya di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Menurut Ruskandar, sistem tersebut mampu menampung lebih banyak ikan per meter kubik air dibandingkan metode konvensional. "Kalau sistem konvensional per meter kubik itu hanya mampu menampung 25 ekor, kalau ini satu kubik air bisa menampung 150 sampai 200 ekor dengan syarat memang harus ada kecukupan parameternya," jelas Ruskandar. Parameter yang dimaksud termasuk oksigen, pH, suhu, dan penanganan zat amoniak, nitrat, dan nitrit.

Saat ini, Ruskandar mengelola delapan kolam, yang terdiri dari enam kolam pembesaran, satu kolam pemijahan, dan satu kolam untuk ikan siap panen. Setiap kolam memiliki ukuran sekitar 20 meter persegi dengan kapasitas antara 2.500 hingga 3.000 ekor ikan. Peralihan ke metode bioflok tidak berjalan mulus sejak awal. Pada awalnya, Ruskandar mengalami kesulitan dalam memperoleh bibit ikan yang berkualitas.

Karena jarak tempat pembelian bibit yang jauh, tingkat kematian ikan cukup tinggi pada masa-masa awal. "Mungkin handling-nya kurang bagus sehingga dari 8.000 ekor itu yang tersisa cuma 1.250 ekor," ujarnya. Dari pengalaman tersebut, ia belajar untuk memperbaiki cara pengambilan dan perawatan bibit ikan hingga layak dibudidayakan di kolam depan rumah. Proses pembesaran ikan berlangsung sekitar empat bulan hingga siap panen dengan ukuran besar.

Pada panen satu kolam, hasil bisa mencapai enam kuintal. Jika semua kolam pembesaran digabungkan, produksi ikan dapat mencapai tiga ton lebih setiap panen. "Mudah-mudahan aja pasarnya bisa terus bagus," harap Ruskandar.

Untuk saat ini, pemasaran ikan dilakukan langsung dari rumah tanpa menggunakan platform online. Pembelinya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pedagang eceran, pemilik rumah makan, hingga koperasi ikan di Bogor, Jakarta, dan Tangerang. Harga ikan yang ditawarkan juga bervariasi, umumnya lebih murah bagi pembeli dari Bogor dibandingkan dengan pembeli dari luar kota. "Karena biasanya pembeli dari Jakarta tidak membawa perlengkapan sendiri dan kita yang harus menyediakannya," tambah Ruskandar.

Usaha ini baru stabil pada awal 2026 dan mendapat banyak respons positif. Konsumen memberikan testimoni bahwa ikan yang dibudidayakan dengan metode bioflok terasa lebih enak dibandingkan sistem konvensional. "Alhamdulillah, mungkin dari testimoni pelanggan bahwa ikan hasil kolam bioflok itu tidak bau lumpur, dagingnya lebih enak, dan lebih tebal," katanya.

Dari setiap kolam, keuntungan per panen dapat mencapai Rp 2 juta, sehingga total bisa meraih sekitar Rp 12 juta dari semua kolam. Selain itu, usaha ini juga memberi dampak positif dengan membuka kesempatan kerja bagi satu orang sebagai pegawai temporer sesuai kebutuhan. "Saat panen, pemeliharaan, atau sortir, itu aja. Jadi nggak tiap hari," ujar Ruskandar.

Usaha ikan ini memberikan tambahan pendapatan yang berguna bagi keluarganya selama masa pensiun. Ruskandar menegaskan bahwa kebutuhan keluarga tetap harus terpenuhi meskipun dirinya sudah pensiun. "Secara ekonomi membantu menambah nilai untuk kebutuhan keluarga. Berbeda pendapatan dulu ketika kerja dengan sekarang sudah pensiun," katanya.

Dampak positif lain dari usaha budi daya ikan ini juga dirasakan tetangganya. Warga sekitar kini dapat membeli ikan dengan harga lebih terjangkau daripada di pasar. "Alhamdulillah, terutama bagi yang berdagang, seperti penjual nasi. Mereka bisa pesan langsung tanpa harus jauh-jauh ke pasar," jelas Ruskandar.

Modal dari BRI Membantu

Untuk mengembangkan usahanya, Ruskandar mengajukan pinjaman Rp 15 juta melalui program Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) dari BRI. Bantuan modal ini sangat membantu dalam meningkatkan hasil produksi. "Alhamdulillah, terbantu, menjadi teratasi," ungkapnya. Dia pun berterima kasih kepada BRI atas respons cepat yang diberikan dalam pengajuan kreditnya.

Jexon Markus, Kepala Unit BRI Sindang Barang, memuji langkah inovatif Ruskandar yang beralih ke metode bioflok. Menurutnya, penggunaan teknologi dalam usaha budi daya ikan tersebut sangat tepat sasaran. "Penggunaannya memang tepat guna dan membantu nasabah dalam mengelola usahanya," kata Jexon dalam wawancara terpisah.

Komitmen BRI Dukung Ekonomi Warga

Proses pengajuan pinjaman modal Ruskandar juga didukung oleh pendampingan dari BRI, guna memastikan kelancaran penyediaan modal yang dibutuhkan. Jexon menegaskan komitmen BRI dalam mendukung perekonomian masyarakat melalui sebuah ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. "Kami ingin membantu masyarakat, menjadi ekosistem baru di BRI yang sudah berjalan dari bibit, pakan, hingga penyaluran dan penjualan," tandasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi