Kisah Arif: Pernah Ditolak 2 SD dan Tanpa Les TOEFL, Kini Lolos Beasiswa LPDP 2026

Kisah Arif: Pernah Ditolak 2 SD dan Tanpa Les TOEFL, Kini Lolos Beasiswa LPDP 2026
Foto: Kisah Arif: Pernah Ditolak 2 SD dan Tanpa Les TOEFL, Kini Lolos Beasiswa LPDP 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Dunia bagi Arif Prasetyo adalah sebuah bentang sunyi tanpa warna yang menyertainya. Baginya, langit tidak pernah terlihat biru dan kegelapan malam bukan sekadar warna hitam pekat.

Arif mengenali waktu hanya melalui perubahan suhu di kulit serta suara di sekelilingnya. Ia terlahir tanpa kesempatan melihat wajah kedua orang tuanya maupun rona fajar di tanah kelahirannya, Ngawen.

Kegelapan tersebut bukanlah hal yang menakutkan karena ia telah akrab dengannya sejak lahir. Kondisi disabilitas netra ini merupakan warisan dari kedua orang tuanya yang juga mengalami hal serupa.

Dalam keluarganya, hampir semua saudara kandung Arif mengalami kondisi fisik yang sama. Tercatat hanya satu saudaranya yang lahir dengan kondisi penglihatan normal.

Masa kecilnya di Ngawen dilalui dengan penuh keterbatasan bersama orang tua yang bekerja keras. Ayahnya menyambung hidup sebagai pengamen di Malioboro, sementara ibunya bekerja sebagai tukang pijat.

Kehidupan keluarga ini semakin kompleks karena ayah dan ibunya harus tinggal secara terpisah. Meski situasi terasa pelik, Arif tetap memegang teguh keyakinan bahwa mimpi harus terus dikejar.

Ia mengibaratkan perjuangan hidupnya seperti upaya membuka kaleng kue yang sulit. Meski penuh hambatan, ia tetap berharap bisa menikmati hasil yang manis di dalamnya.

Perjuangan Menembus Pendidikan Formal

Perjalanan pendidikan Arif tidak berjalan mulus karena ia sempat ditolak oleh dua Sekolah Dasar (SD) di lingkungannya. Alasan penolakan tersebut adalah pihak sekolah belum siap menerima siswa disabilitas.

Kondisi ini memaksanya untuk menempuh pendidikan di SDLB yang berlokasi di Kota Yogyakarta. Ia pun harus belajar mandiri dan tinggal di asrama, jauh dari pelukan keluarga tercinta.

Setiap kali kembali ke Ngawen, Arif selalu membawa piala prestasi untuk dipajang di ruang tamu rumahnya. Hal ini ia lakukan untuk membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi.

“Saya pajang di ruang tamu supaya setiap orang yang datang bisa mengetahui bahwa hanya fisik saya yang mengalami hambatan, tetapi dalam belajar, semua orang memiliki kesempatan yang sama,” ungkapnya melalui laman resmi LPDP.

Kegigihan tersebut membawanya berhasil lulus dari program S1 Sosiologi di UIN Sunan Kalijaga. Selama kuliah, ia mendapatkan dukungan biaya pendidikan melalui program KIP Kuliah.

Namun, dana bantuan tersebut tidaklah cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup sehari-hari. Arif pun berinisiatif mencari penghasilan tambahan dengan cara yang mandiri.

Ia mulai berjualan parfum laundry dari kamar kosnya di tengah kesibukan menempuh pendidikan tinggi. Usaha sederhana ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan tidak mematikan semangatnya untuk berjuang.

Melangkah Menuju Jenjang Magister

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ambisi Arif untuk terus belajar tidak berhenti begitu saja. Ia memutuskan untuk mendaftar Beasiswa LPDP Afirmasi Disabilitas guna melanjutkan studi lanjut.

Rencana pendidikan yang ingin ditempuh Arif saat ini:

  • Memilih program Magister Manajemen Pendidikan Islam untuk jenjang S2.
  • Memanfaatkan jalur Beasiswa LPDP Afirmasi yang dikhususkan bagi penyandang disabilitas.
  • Berupaya meningkatkan kualifikasi akademik demi masa depan yang lebih baik.

Langkah ini diambil sebagai kelanjutan dari perjuangannya yang panjang dalam menghadapi berbagai penolakan. Kini, Arif terus melangkah maju demi membuktikan kapasitasnya di dunia pendidikan nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi