Kisah Ariel Adhidevara, Lulusan IPS yang Sukses Tembus Arsitektur di AS 2026

Kisah Ariel Adhidevara, Lulusan IPS yang Sukses Tembus Arsitektur di AS 2026
Foto: Kisah Ariel Adhidevara, Lulusan IPS yang Sukses Tembus Arsitektur di AS 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kisah inspiratif datang dari Ariel Adhidevara, seorang pemuda asal Indonesia yang berhasil menembus ketatnya persaingan di Harvard University. Perjalanannya meraih mimpi tidaklah instan, melainkan penuh lika-liku sejak masa sekolah menengah di tanah air.

Melalui unggahan media sosial yang viral, Ariel berbagi cerita bahwa dirinya bukanlah siswa dengan prestasi akademik yang mencolok. Ia bahkan harus memulai pendidikan tingginya dari tingkat dasar di Amerika Serikat sebelum akhirnya mencapai puncak prestasi di salah satu universitas terbaik dunia.

Awal Mula dari Jurusan IPS dan Dunia Wirausaha

Sejak duduk di bangku SMP, Ariel mengakui bahwa fokus utamanya bukanlah sekadar mengejar nilai akademik di sekolah. Ia justru lebih aktif mengeksplorasi minat di luar kelas, seperti membangun toko peralatan sulap hingga mencoba peruntungan berjualan pulsa.

Kondisi ini berlanjut hingga ia bersekolah di SMA Regina Pacis Bogor, di mana performa akademisnya sempat mengalami penurunan signifikan. Hal tersebut membuatnya tidak berhasil masuk ke jurusan IPA yang menjadi syarat umum untuk mengambil studi arsitektur kala itu.

Ariel akhirnya harus menerima kenyataan untuk masuk ke jurusan IPS meskipun memiliki cita-cita menjadi seorang arsitek. Ia merasa pada masa itu dirinya memang belum benar-benar serius dalam belajar dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk hobi.

Titik Balik Melalui Green Card Lottery

Kehidupan Ariel berubah drastis saat keluarganya mendapatkan keberuntungan besar melalui program green card lottery dari pemerintah Amerika Serikat. Fasilitas ini memberikan izin tinggal tetap bagi keluarganya secara cuma-cuma melalui sistem seleksi acak.

Ariel menyadari bahwa kesempatan ini merupakan faktor eksternal yang sangat membantunya untuk menata ulang masa depan di luar negeri. Program resmi yang dikenal sebagai Diversity Immigrant Visa Program ini memang disediakan bagi warga dari negara dengan tingkat imigrasi rendah ke AS.

Berjuang Empat Tahun di Community College

Setelah pindah ke Amerika Serikat pada tahun 2014, perjuangan Ariel berlanjut di Diablo Valley College, sebuah community college. Di tempat ini, ia harus menghabiskan waktu hingga empat tahun untuk mengejar ketertinggalan materi pelajarannya.

Waktu studi tersebut dua kali lebih lama dari durasi normal yang biasanya hanya ditempuh dalam dua tahun saja. Ariel menganggap masa-masa sulit ini sebagai konsekuensi atas kurangnya keseriusan belajarnya di masa lalu yang harus ia bayar dengan kerja keras.

Masa di community college menjadi fondasi penting bagi Ariel untuk membangun kembali kemampuan akademiknya dari nol. Pengalaman ini membentuk disiplin dirinya sebelum akhirnya mampu melakukan transfer ke universitas yang lebih besar.

Membangun Karier Arsitektur dari Cal Poly hingga Harvard

Pada tahun 2018, Ariel memutuskan untuk melanjutkan pendidikan sarjananya di California Polytechnic State University atau dikenal sebagai Cal Poly. Ia memilih kampus ini karena kurikulumnya yang sangat menekankan pada aspek praktis dan kesiapan di dunia kerja.

Selama berkuliah, Ariel sangat tekun membangun portofolio desainnya dan terlibat dalam berbagai proyek arsitektur yang menantang. Dedikasi tersebut membuahkan hasil manis ketika ia berhasil lulus dengan predikat Magna Cum Laude pada tahun 2021.

Beberapa pencapaian utama Ariel dalam perjalanan akademiknya antara lain adalah:
  • Menyelesaikan studi sarjana arsitektur di Cal Poly dengan predikat kehormatan tinggi.
  • Membangun portofolio profesional yang kuat melalui berbagai proyek desain arsitektur.
  • Diterima di program Master in Design Studies di Harvard Graduate School of Design.
  • Memperoleh beasiswa bergengsi Dean's Merit Scholarship untuk studi magisternya.

Pencapaian Ariel ini membuktikan bahwa latar belakang jurusan saat SMA tidak membatasi seseorang untuk meraih profesi impian. Dengan kerja keras dan pemanfaatan peluang yang ada, hambatan masa lalu bisa diubah menjadi pijakan menuju kesuksesan yang lebih besar.

Kini, Ariel tengah menempuh pendidikan S2 di Harvard, membuktikan bahwa seorang "anak IPS" pun mampu bersinar di bidang teknik dan desain kelas dunia. Kisahnya menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki waktu dan jalannya masing-masing untuk mencapai keberhasilan.

Artikel terkait

Rekomendasi