PT Sepatu Bata Tbk. (BATA) masih menghadapi tantangan finansial yang cukup berat sepanjang tahun buku 2025. Perusahaan legendaris ini melaporkan kerugian bersih yang mencapai Rp116,23 miliar akibat penurunan kinerja operasional secara signifikan.
Meskipun angka kerugian tersebut menyusut sekitar 21,4% jika dibandingkan dengan tahun 2024, kondisi fundamental perusahaan tetap menjadi sorotan. Penurunan penjualan yang drastis menjadi faktor utama yang membebani neraca keuangan emiten alas kaki ini.
Penurunan Penjualan dan Kinerja Keuangan BATA
Berdasarkan laporan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (8/6/2026), pendapatan neto BATA anjlok hingga 35,2%. Penjualan perusahaan tercatat sebesar Rp298,25 miliar, turun jauh dari posisi tahun 2024 yang mencapai Rp459,98 miliar.
Kondisi tersebut secara langsung berdampak pada perolehan laba bruto perusahaan yang kini hanya tersisa Rp105,45 miliar. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun sebelumnya, BATA masih mampu mengantongi laba bruto sebesar Rp197,15 miliar.
Selain penurunan pendapatan, BATA juga masih mencatatkan rugi usaha sebesar Rp106,34 miliar di sepanjang tahun 2025. Terdapat pula kerugian dari pelepasan aset tetap senilai Rp4,34 miliar serta beban operasional lainnya yang menyentuh angka Rp7,8 miliar.
Tekanan berat ini terlihat jelas dalam posisi keuangan perusahaan, di mana total aset menyusut menjadi Rp282,56 miliar dari sebelumnya Rp405,66 miliar. Sementara itu, liabilitas atau kewajiban perusahaan masih tergolong tinggi di angka Rp414,21 miliar.
Hal ini mengakibatkan BATA mengalami defisiensi modal atau ekuitas negatif sebesar Rp131,65 miliar pada akhir Desember 2025. Angka ini memburuk secara signifikan jika dibandingkan dengan defisiensi modal pada akhir 2024 yang sebesar Rp15,93 miliar.
Analisis Auditor Mengenai Kelangsungan Usaha
Auditor independen dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Purwanto, Susanti dan Surja memberikan catatan khusus atas laporan keuangan tahunan tersebut. Auditor menyoroti kerugian grup yang mencapai Rp116,5 miliar serta posisi liabilitas jangka pendek yang sangat tinggi.
Diketahui bahwa total kewajiban jangka pendek perseroan telah melampaui total aset lancarnya dengan selisih mencapai Rp197,9 miliar. Kondisi ini dianggap sebagai indikasi adanya ketidakpastian material yang sangat serius bagi perusahaan.
Auditor menegaskan bahwa situasi ini dapat menimbulkan keraguan signifikan mengenai kemampuan grup untuk terus mempertahankan kelangsungan usahanya di masa depan. Evaluasi terhadap aset non-keuangan di gerai ritel juga menjadi fokus utama audit.
Hingga akhir tahun 2025, nilai tercatat aset non-keuangan di toko ritel berada di angka Rp83,86 miliar atau sekitar 29,7% dari total aset. Fokus ini muncul karena operasional gerai ritel perusahaan terus mengalami kerugian yang berulang secara periodik.
Dampak Operasional dan Pengurangan Tenaga Kerja
Krisis keuangan yang berkepanjangan ini turut berdampak langsung pada struktur organisasi dan jumlah tenaga kerja yang dimiliki perusahaan. Hingga penghujung tahun 2025, tercatat hanya tersisa 68 karyawan tetap maupun kontrak di PT Sepatu Bata Tbk.
Jumlah ini menunjukkan pengurangan tenaga kerja dibandingkan tahun 2024 yang saat itu masih mempekerjakan sebanyak 74 orang. Di sisi lain, beban liabilitas untuk imbalan kerja jangka panjang justru mengalami kenaikan menjadi Rp8,14 miliar.
Perusahaan juga mengambil langkah drastis dengan mengajukan pembubaran Dana Pensiun PT Sepatu Bata pada tanggal 24 Juni 2025. Keputusan ini telah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan mulai efektif sejak 31 Juli 2025.
Saat laporan keuangan ini disusun, proses likuidasi terhadap dana pensiun tersebut dikabarkan masih terus berlangsung. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya efisiensi besar-besaran yang dilakukan manajemen di tengah situasi sulit.
Langkah Restrukturisasi dan Transformasi Bisnis
Selama empat tahun terakhir, manajemen BATA sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk menghadapi perubahan perilaku konsumen dan dampak pandemi. Strategi yang dijalankan meliputi restrukturisasi besar pada unit produksi dan jaringan distribusi retail perusahaan.
Berikut adalah poin-poin utama langkah strategis yang dilakukan oleh BATA sepanjang masa restrukturisasi:
- Penutupan Gerai Tidak Produktif: Manajemen menutup lebih dari 200 toko yang terus merugi guna memastikan jaringan ritel yang tersisa benar-benar menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.
- Penghentian Operasional Pabrik: Penutupan pabrik dan gudang pusat di Purwakarta yang menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal bagi para karyawan di fasilitas tersebut pada Mei 2024.
- Pembersihan Stok Persediaan: Melakukan penghapusan persediaan lama dengan cara menjualnya kepada pengepul dengan harga rendah atau menggelar obral besar-besaran di gerai yang masih beroperasi.
- Alih Fokus Bisnis: Mengubah model bisnis utama dari semula sebagai produsen alas kaki menjadi perusahaan yang fokus pada sektor perdagangan dan distribusi retail.
- Penyelesaian Kewajiban Lisensi: Adanya penghapusan utang lisensi senilai US$4,86 juta yang sebelumnya tercatat dalam laporan beban keuangan perusahaan.
Langkah-langkah di atas diambil demi menjaga napas perusahaan agar tetap bisa bertahan di tengah persaingan industri sepatu yang semakin kompetitif. Perusahaan kini berusaha lebih ramping dengan model bisnis yang lebih fleksibel tanpa beban operasional pabrik sendiri.
Rangkuman Data Keuangan BATA Periode 2024-2025
Berikut adalah perbandingan beberapa indikator keuangan utama PT Sepatu Bata Tbk. yang diambil dari laporan keuangan tahunan per 31 Desember 2025.
| Indikator Keuangan | Tahun 2024 | Tahun 2025 |
|---|---|---|
| Penjualan Neto | Rp459,98 Miliar | Rp298,25 Miliar |
| Laba Bruto | Rp197,15 Miliar | Rp105,45 Miliar |
| Rugi Tahun Berjalan | Rp147,97 Miliar | Rp116,23 Miliar |
| Total Aset | Rp405,66 Miliar | Rp282,56 Miliar |
| Total Liabilitas | Rp421,59 Miliar | Rp414,21 Miliar |
| Defisiensi Modal | Rp15,93 Miliar | Rp131,65 Miliar |
Data tabel di atas menunjukkan penurunan drastis pada sisi aset dan pendapatan, sementara kewajiban perusahaan tetap berada pada level yang tinggi. Defisiensi modal yang membengkak mengonfirmasi kondisi keuangan yang sedang tidak sehat bagi perseroan.
Secara keseluruhan, perjalanan PT Sepatu Bata Tbk. di tahun 2026 ini akan sangat bergantung pada efektivitas model bisnis barunya sebagai pedagang. Ketidakpastian mengenai kelangsungan usaha masih menjadi bayang-bayang yang menyelimuti masa depan salah satu merek sepatu tertua di Indonesia ini.