Sebanyak 15 aktivis asal Italia yang tergabung dalam misi armada kemanusiaan Flotilla menuju Gaza akhirnya kembali ke Roma pada Jumat (22/5/2026). Kepulangan mereka terjadi setelah otoritas Israel melakukan deportasi menyusul penahanan yang dilakukan terhadap para relawan tersebut.
Setibanya di tanah air, para aktivis ini membawa kesaksian mengejutkan mengenai dugaan penganiayaan yang mereka alami selama berada di tangan otoritas Israel. Menanggapi laporan ini, pihak kejaksaan di Italia dikabarkan mulai melakukan penyelidikan terkait dugaan tindak pidana penculikan dan pelecehan seksual.
Kesaksian Mengenai Kondisi Penahanan yang Tidak Manusiawi
Salah satu relawan, Antonella Bundu, mengungkapkan bahwa prosedur penangkapan dilakukan dengan cara yang sangat kasar. Ia menyebutkan bahwa beberapa rekan aktivis sempat disetrum sebelum akhirnya dipindahkan ke kapal penjara milik Israel.
Bundu menyamakan kondisi kapal tersebut dengan sebuah kamp konsentrasi terapung yang dipenuhi kawat berduri di berbagai sudutnya. Menurutnya, para tahanan dipaksa tidur di dalam kontainer dalam kondisi tangan terikat tali.
Daftar perlakuan buruk yang dilaporkan oleh para aktivis selama masa penahanan:
- Penggunaan alat kejut listrik atau setrum terhadap sejumlah relawan.
- Penahanan dalam ruang sempit menyerupai kontainer yang tidak layak huni.
- Pembatasan komunikasi dan penolakan akses untuk bertemu dengan penasihat hukum.
- Perlakuan kasar berupa tendangan dan paksaan untuk tetap dalam posisi berlutut atau menunduk.
Berbagai tindakan tersebut dilaporkan terjadi secara berulang selama para aktivis berada dalam kendali pihak keamanan Israel di perairan internasional maupun di darat.
Dugaan Pelecehan Seksual dan Kekerasan Psikologis
Selain kekerasan fisik, para aktivis juga melaporkan adanya tindakan pelecehan seksual yang dialami oleh beberapa anggota rombongan. Aktivis Luca Poggi memberikan pengakuan bahwa mereka dipaksa menanggalkan pakaian dan dijatuhkan ke lantai dengan kasar.
Ilaria Del Mastro, aktivis lainnya, memperkuat laporan mengenai perlakuan buruk tersebut dengan menceritakan kondisi fisik yang mereka hadapi. Ia menyebutkan bahwa alas kaki mereka disita sehingga para relawan terpaksa berjalan tanpa alas kaki di atas tanah yang basah dan dingin.
Tekanan psikologis juga menjadi bagian dari upaya isolasi yang dilakukan terhadap kelompok aktivis ini. Mastro menjelaskan bahwa mereka dilarang berbicara sama sekali dan selalu dipaksa untuk menundukkan kepala di bawah ancaman isolasi lebih lanjut.
Ringkasan poin utama terkait kasus pemulangan aktivis Flotilla Italia:
| Aspek Informasi | Detail Kejadian |
|---|---|
| Jumlah Aktivis | 15 orang warga negara Italia. |
| Lokasi Pemulangan | Roma, Italia, setelah deportasi dari Israel. |
| Tuduhan Utama | Penganiayaan, penyetruman, dan pelecehan seksual. |
| Status Hukum | Sedang dalam penyelidikan jaksa Italia terkait penculikan. |
| Respon Israel | Membantah seluruh tuduhan kekerasan dan pelecehan. |
Tabel di atas merangkum rincian dasar mengenai pemulangan para relawan dan isu hukum yang kini sedang berkembang di tingkat internasional.
Bantahan dari Pihak Otoritas Israel
Di sisi lain, pihak layanan penjara Israel secara tegas menepis segala tuduhan penganiayaan yang dilayangkan oleh para aktivis tersebut. Mereka menyatakan bahwa prosedur penanganan tahanan dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku.
Pemerintah Israel sebelumnya juga pernah mengeluarkan bantahan serupa terhadap laporan pelecehan dari peserta misi bantuan Gaza pada armada-armada terdahulu. Hingga saat ini, konflik narasi antara kesaksian aktivis dan pernyataan resmi Israel masih terus berlanjut.