Kenya saat ini tengah melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat mengenai kerja sama kesehatan terkait virus Ebola. Negosiasi ini muncul setelah laporan media yang menyatakan rencana pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, untuk menempatkan warga Amerika yang terinfeksi virus di fasilitas karantina yang sedang dibangun militer AS di Kenya, Afrika Timur.
Setiap pengaturan yang dilakukan akan mengikuti hukum nasional Kenya, peraturan kesehatan masyarakat, dan standar biokeamanan serta biosekuriti. Hal ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan, Aden Duale, dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu. "Kenya menghargai kemitraan jangka panjangnya dengan Amerika Serikat serta mitra global lainnya dalam memperkuat sistem kesehatan dan kapasitas keamanan kesehatan," ujar Duale.
Diskusi ini menempatkan Kenya sebagai pusat respons terhadap wabah Ebola yang berkembang pesat dan menekan sistem kesehatan di Kongo timur. Selain itu, wabah ini juga telah menyebar ke Uganda dan menimbulkan kekhawatiran akan penyebaran yang lebih luas secara internasional.
Baca Juga
- Thailand Terapkan Karantina 21 Hari untuk Pelancong Wilayah Ebola
- Konflik dan Kekerasan Hambat Upaya Penanggulangan Ebola di Kongo
- Uganda Konfirmasi 3 Kasus Baru Ebola: Sopir - Tenaga Kesehatan
Artikel Terkait
- AS Kembali Gempur Pangkalan Militer Iran di Tengah Dialog Damai
- Trump Sebut Selat Hormuz Jalur Internasional, Tolak Kendali Iran
- Thailand Terapkan Karantina 21 Hari untuk Pelancong Wilayah Ebola
- AS-Israel Gempur Kapal Iran di Hormuz, Korban Jiwa Berjatuhan
- Kesepakatan Kian Dekat, Trump Puji Dialog Damai AS-Iran
- Sinyal Damai AS-Iran Cetak Rekor Baru Bursa Saham
Baca Juga
- Menkes: Daging Kurban Setara Whey Protein Mahal
- MGBKI Soroti Dugaan Manipulasi Riset dari RI Demi Travel Grant
- Survei: 4 dari 10 Baby Boomer Kaya Asia Tak Punya Rencana Suksesi
- Separuh Anak Indonesia Terpapar Konten Seksual di Media Sosial