Jutaan jamaah haji dari berbagai penjuru dunia mulai memadati Kota Makkah setelah menyelesaikan rangkaian ibadah mabit di Mina. Gelombang manusia ini terlihat mengalir deras dari kawasan Jamarat sejak Jumat siang, 29 Mei 2026, waktu setempat.
Keputusan untuk mengambil nafar awal tampaknya menjadi pilihan mayoritas jamaah pada musim haji kali ini, termasuk jamaah asal Indonesia. Arus kedatangan para tamu Allah ini terpantau tidak terputus sejak dini hari atau bertepatan dengan tanggal 12 Zulhijjah.
Kepadatan di Kawasan Jamarat dan Kota Makkah
Kepadatan luar biasa terjadi di sepanjang jalanan Kota Makkah yang mengarah ke area Jamarat. Kemacetan total tidak terhindarkan karena volume kendaraan yang terjebak di tengah lautan jamaah yang sedang bergerak.
Para jamaah haji tersebut melaksanakan prosesi melontar jumrah terakhir bagi mereka yang mengambil nafar awal dengan membawa seluruh perlengkapan. Tas dan perbekalan yang sebelumnya dibawa ke tenda Mina, kini turut dibawa serta menuju Makkah.
Penting bagi jamaah untuk memahami perbedaan durasi mabit di Mina agar tidak terjadi kekeliruan dalam menjalankan rukun ibadah tersebut. Berikut adalah rincian mengenai perbedaan antara nafar awal dan nafar tsani dalam ibadah haji:
Detail mengenai pilihan durasi mabit di Mina bagi jamaah haji:
- Nafar Awal: Jamaah menyelesaikan ibadah mabit dan melontar jumrah pada 12 Zulhijjah, kemudian meninggalkan Mina menuju Makkah sebelum matahari terbenam.
- Nafar Tsani: Jamaah tetap tinggal di Mina hingga 13 Zulhijjah untuk melaksanakan satu putaran lagi melontar jumrah sebelum kembali ke Makkah.
- Aturan Waktu: Apabila jamaah masih berada di area Mina atau Jamarat setelah matahari terbenam pada 12 Zulhijjah, maka mereka diwajibkan melakukan nafar tsani.
- Logistik: Jamaah yang mengambil nafar awal umumnya langsung menuju hotel di Makkah tanpa kembali lagi ke tenda pemukiman di Mina.
Penjelasan di atas menggambarkan fleksibilitas dalam ibadah haji bagi jamaah yang memiliki keterbatasan waktu atau kondisi fisik tertentu. Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensi teknis dan waktu yang harus dipatuhi secara tertib.
Testimoni Jamaah Haji Indonesia
Banyak jamaah merasa lega setelah berhasil menyelesaikan fase berat di Mina, yang sering disebut sebagai fase krusial karena risiko kelelahan dan jamaah terpisah dari rombongan. Salah satu jamaah yang telah tiba di hotel Makkah adalah Reni Kustanti.
Reni, yang merupakan anggota kelompok terbang (kloter) SUB 112, menyatakan rasa syukurnya karena telah menuntaskan nafar awal dengan lancar. Ia mengaku pelayanan yang diterima selama berada di tenda-tenda Mina sangat memuaskan bagi para jamaah.
“Alhamdulillah, proses nafar awal kami sudah selesai dan sekarang sudah sampai di hotel,” tutur Reni saat menceritakan pengalamannya setelah kembali dari Mina. Jamaah asal Nganjuk ini juga membagikan rincian fasilitas yang ia rasakan selama menginap di tenda pemukiman.
Fasilitas dan pelayanan yang diterima jamaah selama di Mina:
- Ketersediaan Konsumsi: Pasokan makanan bagi para jamaah sangat melimpah dan mencukupi kebutuhan energi selama beribadah.
- Kenyamanan Tenda: Ruang istirahat tergolong nyaman dan tidak terjadi kepadatan yang berlebihan atau berdesak-desakan.
- Suhu Ruangan: Fasilitas pendingin ruangan (AC) berfungsi sangat baik, bahkan suhunya terkadang terasa sangat dingin bagi sebagian jamaah.
Kondisi yang nyaman ini membantu jamaah menjaga kebugaran tubuh sebelum mereka melanjutkan rangkaian ibadah haji berikutnya di Masjidil Haram. Meskipun cuaca di Arab Saudi dikenal ekstrem, fasilitas akomodasi yang memadai menjadi faktor kunci keselamatan jamaah.
Tantangan Selama Fase Mina
Walaupun pengalaman beberapa jamaah terasa positif, fase di Mina dan Jamarat tetap dianggap sebagai periode paling menantang. Banyaknya jumlah orang dalam satu lokasi secara bersamaan membuat jamaah rawan kehilangan arah atau terpisah dari kelompoknya.
Petugas haji terus berjaga di berbagai titik strategis untuk mengarahkan jamaah agar tetap berada di jalur yang benar. Koordinasi yang ketat diperlukan untuk mengatur jutaan orang yang bergerak dari tenda ke Jamarat dan berlanjut menuju hotel di Makkah.
Ibadah melontar jumrah sendiri merupakan simbol perlawanan terhadap godaan setan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Nabi Ibrahim. Dengan selesainya nafar awal ini, sebagian besar jamaah haji kini mulai bersiap untuk melaksanakan tawaf ifadah dan sai sebagai penutup rangkaian ibadah mereka.