Militer Israel secara resmi mengumumkan perluasan skala operasi darat mereka di wilayah Lebanon Selatan. Langkah agresif ini diklaim bertujuan untuk melumpuhkan kekuatan kelompok Hizbullah yang selama ini mendapat dukungan dari Iran.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa sejumlah besar tentara darat telah memulai serangan ofensif untuk memperluas garis pertahanan depan. Operasi ini kini menjangkau wilayah baru yang lebih luas dari sebelumnya.
Pasukan Israel Seberangi Sungai Litani
Laporan dari AFP menyebutkan bahwa militer Israel telah mengonfirmasi pergerakan pasukannya yang kini telah menyeberangi Sungai Litani. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan pencapaian militer tersebut pada Jumat lalu.
Sungai Litani sendiri terletak sekitar 30 kilometer di sebelah utara perbatasan antara Israel dan Lebanon. Penyeberangan ini menandakan eskalasi serius dalam dinamika konflik di kawasan tersebut.
Sebenarnya, kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah sempat diresmikan pada 17 April. Namun, pada kenyataannya kesepakatan tersebut tidak pernah benar-benar ditaati oleh kedua belah pihak.
Baik Israel maupun Hizbullah saling melontarkan tuduhan terkait pelanggaran gencatan senjata tersebut. Masing-masing pihak menggunakan klaim pelanggaran lawan sebagai alasan untuk membenarkan serangan yang mereka lakukan.
Fokus Serangan dan Evakuasi Warga
Pihak militer Israel menjelaskan bahwa operasi terbaru ini sudah dimulai sejak beberapa hari lalu. Fokus serangan darat ini menyasar kawasan Beaufort Ridge dan Wadi al-Saluki di wilayah selatan.
Serangan tersebut diklaim sebagai upaya untuk menghilangkan ancaman terhadap komunitas warga di Galilea Panhandle dan Metula. Israel juga terus berusaha memperkuat kendali operasional mereka di area Lebanon Selatan.
Perintah evakuasi bagi warga sipil :
- Warga yang tinggal di sebelah selatan Sungai Zahrani diperintahkan segera meninggalkan rumah mereka.
- Militer Israel menginstruksikan penduduk untuk segera bergerak menuju arah utara demi keamanan.
- Peringatan ini disampaikan secara terbuka melalui media sosial oleh juru bicara militer Israel.
Avichay Adraee selaku juru bicara militer berbahasa Arab menegaskan bahwa warga harus segera mengungsi. Hal ini dilakukan seiring dengan meningkatnya intensitas operasi militer terhadap basis-basis Hizbullah.
Dampak Kemanusiaan dan Tuduhan Politik
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, memberikan respons keras terhadap tindakan militer Israel tersebut. Ia melayangkan tuduhan bahwa Israel sedang menjalankan kebijakan "bumi hangus" di wilayah selatan Lebanon.
Kondisi di lapangan menunjukkan dampak yang sangat memprihatinkan bagi penduduk sipil. Berikut adalah rincian data korban yang dihimpun oleh pihak berwenang di Lebanon.
Data dampak serangan militer di Lebanon :
| Kategori Informasi | Detail Keterangan |
|---|---|
| Jumlah Korban Tewas | Lebih dari 3.371 jiwa |
| Titik Awal Eskalasi | 2 Maret |
| Pihak yang Terlibat | Israel dan Hizbullah |
| Wilayah Operasi | Lebanon Selatan dan sekitarnya |
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat ribuan nyawa melayang sejak Hizbullah terseret dalam konflik Timur Tengah ini pada awal Maret. Situasi keamanan di perbatasan hingga kini masih terus bergejolak dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.