Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini mengeluarkan instruksi strategis mengenai kurikulum pendidikan di tanah air. Kepala Negara meminta agar sekolah-sekolah di Indonesia mulai memperkenalkan bahasa asing di luar bahasa Inggris.
Arahan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden dalam rangkaian kunjungan kenegaraan resminya. Kebijakan ini bertujuan untuk memperluas cakrawala pelajar Indonesia dalam menghadapi dinamika global yang terus berubah.
Ekspansi Bahasa Prancis di Sekolah Indonesia
Instruksi terbaru yang diberikan oleh Prabowo adalah mewajibkan pembelajaran Bahasa Prancis bagi siswa di seluruh tingkatan sekolah. Keputusan ini diungkapkan di sela-sela pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron.
Prabowo menilai bahwa hubungan kerja sama antara Indonesia dan Prancis selama ini sudah terjalin sangat harmonis. Kerja sama tersebut mencakup berbagai sektor krusial seperti pertahanan, ilmu pengetahuan, hingga pengembangan teknologi.
Berikut adalah poin utama kerja sama yang melatarbelakangi kebijakan tersebut:
- Memperkuat sinergi di bidang pertahanan yang selama ini sudah berjalan dengan baik antara kedua negara.
- Mengembangkan kolaborasi di sektor ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi fondasi kemajuan masa depan.
- Mendorong integrasi budaya melalui penguatan sektor pendidikan di semua jenjang sekolah di Indonesia.
- Menyiapkan sumber daya manusia Indonesia agar mampu bersaing di panggung internasional dengan penguasaan bahasa asing yang lebih variatif.
Melalui langkah ini, Presiden berharap kedekatan hubungan diplomatik kedua negara dapat menyentuh aspek pendidikan secara lebih mendalam. Hal ini dianggap penting untuk membekali generasi muda dengan kompetensi global yang kompetitif.
“Saat ini saya telah menginstruksikan agar seluruh jenjang sekolah di Indonesia mempelajari Bahasa Prancis. Langkah ini diambil dengan mempertimbangkan arah perkembangan dunia di masa depan,” kata Prabowo pada Jumat (29/5/2026).
Fokus pada Bahasa Portugis Selain Prancis
Ternyata, instruksi mengenai penguasaan bahasa asing ini bukan pertama kalinya diberikan oleh Presiden. Sebelumnya, pada Oktober 2025, Prabowo juga telah menekankan pentingnya penguasaan Bahasa Portugis bagi pelajar Indonesia.
Instruksi tersebut secara spesifik ditujukan kepada dua menteri yang membidangi sektor pendidikan. Mereka adalah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, serta Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto.
Dalam arahannya, Presiden meminta agar Bahasa Portugis dimasukkan sebagai salah satu bahasa prioritas dalam sistem pendidikan nasional. Kebijakan ini merupakan bagian dari visi besar pemerintah untuk memperluas jaringan komunikasi internasional bangsa.
Ringkasan instruksi bahasa asing oleh Presiden Prabowo:
| Bahasa Asing | Status Instruksi | Target Implementasi |
|---|---|---|
| Bahasa Prancis | Terbaru (Mei 2026) | Semua tingkatan sekolah |
| Bahasa Portugis | Instruksi Oktober 2025 | Sistem pendidikan nasional |
Tabel di atas merangkum daftar bahasa yang kini menjadi prioritas baru bagi pemerintah dalam pengembangan kurikulum sekolah. Perubahan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melakukan diversifikasi kemampuan linguistik pelajar.
Tanggapan Pakar Terhadap Wacana Bahasa Asing
Meskipun memiliki tujuan positif untuk masa depan, rencana mewajibkan Bahasa Prancis ini tidak lepas dari perhatian para ahli. Sejumlah pakar mulai memberikan kritik serta catatan kritis terkait rencana implementasi kebijakan tersebut.
Beberapa pihak mempertanyakan kesiapan sumber daya pengajar serta infrastruktur pendidikan untuk mendukung program tersebut secara nasional. Perdebatan ini menjadi sorotan utama di tengah masyarakat dan kalangan akademisi saat ini.
Di sisi lain, kunjungan Prabowo ke Prancis sendiri merupakan bentuk pemenuhan undangan resmi dari Presiden Emmanuel Macron. Setelah agenda di Prancis berakhir, Presiden dijadwalkan akan melanjutkan perjalanan kenegaraannya ke beberapa negara lain di Eropa.
Beberapa negara yang disebut-sebut menjadi tujuan berikutnya adalah Austria dan Hungaria. Perjalanan maraton ini menegaskan komitmen Indonesia dalam memperkuat posisi tawarnya di kawasan Uni Eropa dan sekitarnya.