Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memproyeksikan impor bijih nikel akan mencapai angka 25 juta ton sepanjang tahun 2026. Hal ini menunjukkan peningkatan dibandingkan capaian impor tahun 2025 yang sebesar 15,33 juta ton.
"Sekitar 25 juta [ton] untuk tahun ini impornya [bijih nikel]. Hitungan kami," ujar Ketua FINI Arif Perdana Kusumah dalam acara Indonesia Critical Minerals Conference & Expo 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/2026). Sejauh ini, hingga Mei 2026, Indonesia telah mengimpor 5 juta ton bijih dari Filipina.
Peningkatan volume impor bijih nikel pada tahun ini dipengaruhi oleh keputusan dari Kementerian ESDM. Mereka memutuskan untuk mengurangi kuota produksi bijih nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang ditetapkan pada kisaran 260 juta hingga 270 juta ton, lebih rendah daripada tahun lalu yang mencapai 320 juta ton.
Baca Juga
- ESDM Respons Tambang Lesu hingga Kurangi Pegawai Imbas RKAB Habis Energi | 33 menit yang lalu
- Skema Gross Split Tambang Minerba Diputuskan di Sidang Kabinet Energi | 1 jam yang lalu
- Aturan Ekspor 1 Pintu Dirilis, Harga Jual SDA Ditentukan PT DSI Energi | 1 jam yang lalu
- Pemerintah Diminta Cari Pasokan Sulfur Baru dari Australia-Eropa Energi | 6 jam yang lalu
- Kisi-kisi Revisi RKAB 2026: Q1 Produksi Turun, Penerimaan Aman Energi | 6 jam yang lalu
Pemberitaan terkait industri nikel lainnya menunjukkan dinamika yang beragam. Beberapa isu mencuat seperti kebutuhan reformasi kebijakan ekspor hingga revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk menjaga keseimbangan produksi dan penerimaan negara di sektor ini.
Sementara itu, perubahan kebijakan juga berdampak pada sektor lain, termasuk penyesuaian produksi di smelter dan strategi ekspor yang dikendalikan lebih terfokus. Hal ini menuntut industri untuk menyesuaikan operasionalnya guna menghadapi permintaan dan kebijakan pemerintah yang dinamis.
```