Pemerintah Kota Milan, Italia, kembali melakukan tindakan penyelamatan terhadap salah satu ikon wisatanya yang paling ikonik. Restorasi besar-besaran ini menyasar mosaik lantai yang berada di Galleria Vittorio Emanuele II.
Penyebab kerusakan ini tergolong cukup unik karena dipicu oleh perilaku para pelancong yang mencari peruntungan. Kebiasaan tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun hingga mengakibatkan keausan yang signifikan pada struktur karya seni tersebut.
Galleria Vittorio Emanuele II sendiri merupakan pusat perbelanjaan bersejarah yang lokasinya berada sangat dekat dengan Katedral Duomo. Di sana, terdapat sebuah ritual tak tertulis yang dianggap wajib dilakukan oleh para wisatawan mancanegara.
Para pengunjung biasanya akan memutar tumit mereka tepat di bagian testis pada gambar mosaik banteng tersebut. Tradisi ini dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan dan menjamin seseorang akan bisa menginjakkan kaki kembali di Kota Milan suatu hari nanti.
Dampak Tradisi Terhadap Kelestarian Karya Seni
Antusiasme wisatawan terhadap ritual ini sering kali menciptakan antrean panjang di tengah galeri. Banyak orang yang rela menunggu giliran hanya demi melakukan putaran di satu titik pusat yang dianggap membawa hoki.
Sayangnya, popularitas tradisi ini justru membawa dampak buruk bagi kelestarian lantai galeri yang dibangun pada abad ke-19 tersebut. Gesekan yang terjadi terus-menerus dari ribuan pasang sepatu setiap harinya telah merusak permukaan mosaik secara perlahan.
Pernyataan resmi dari pemerintah setempat mengenai kondisi mosaik tersebut:
- Akibat putaran tumit wisatawan yang dilakukan secara masif di Milan, kepingan mosaik merah muda pada bagian testis banteng kini telah terkikis.
- Gesekan yang intens itu menciptakan cekungan kecil yang merusak detail asli dari karya seni bersejarah tersebut.
Kutipan informasi tersebut disampaikan oleh otoritas kota melalui laporan dari The Guardian pada Rabu (3/6/2026). Gambar banteng pada lantai tersebut sejatinya melambangkan Kota Turin yang sempat menjadi ibu kota Italia di masa lalu.
Proses Restorasi Oleh Ahli
Gianluca Galli merupakan sosok restorator yang dipercaya untuk memimpin proses perbaikan mosaik tersebut. Meskipun sedang ada pengerjaan, suasana di sekitar lokasi tetap dipadati oleh turis yang berlalu-lalang di kawasan pertokoan mewah.
Galli menyadari bahwa tradisi memutar tumit ini memang menjadi daya tarik magnetis bagi pariwisata Milan. Namun, di sisi lain, ia juga menyoroti betapa merusaknya kebiasaan tersebut terhadap sebuah benda cagar budaya.
Tahapan teknis yang dilakukan oleh Gianluca Galli dalam memperbaiki mosaik:
- Memotong batu secara manual dengan tetap mengacu pada desain asli dari periode pembuatannya dahulu.
- Membuat cetakan khusus dari sisa bagian mosaik yang ada guna menjamin hasil restorasi tetap akurat sesuai bentuk semula.
- Menggunakan resin epoksi sebagai material perekat baru yang lebih modern dan tahan lama.
- Menggantikan penggunaan campuran kapur dan mortar pasir yang sebelumnya digunakan pada restorasi terdahulu.
Penggunaan material resin epoksi dipilih secara sengaja agar struktur mosaik memiliki ketahanan yang lebih baik. Harapannya, bagian tersebut bisa lebih kuat dalam menahan tekanan serta gesekan dari tumit para pelancong di masa depan.
Tingginya Angka Kunjungan Wisatawan
Selama proses perbaikan berlangsung, akses wisatawan untuk melakukan ritual pada gambar banteng tersebut ditutup sementara. Namun, para pengunjung ternyata tetap mencari cara lain dengan berputar di atas mosaik serigala betina yang berada di dekatnya.
Mosaik serigala betina itu merupakan simbol dari Kota Roma yang letaknya tidak jauh dari lokasi banteng tersebut. Pihak otoritas mencatat bahwa mosaik banteng ini sebenarnya baru saja mengalami perbaikan pada tahun 2017 silam.
Data mengenai frekuensi dan alasan kerusakan yang dialami oleh mosaik ikonik ini:
| Aspek Informasi | Keterangan Detail |
|---|---|
| Waktu Restorasi Terakhir | Tahun 2017 |
| Penyebab Utama Kerusakan | Gesekan tumit wisatawan dan tingginya jumlah pengunjung harian |
| Lokasi Simbolik | Galleria Vittorio Emanuele II, Milan |
| Pejabat yang Menanggapi | Emmanuel Conte dan Marco Granelli (Anggota Dewan Kota) |
Emmanuel Conte dan Marco Granelli menekankan bahwa kondisi keausan ini tidak lepas dari beban kapasitas pengunjung yang sangat tinggi setiap tahunnya. Tingkat kunjungan yang luar biasa besar membuat pemeliharaan fisik galeri menjadi tantangan yang sangat berat.
Pentingnya Profesi Restorator di Italia
Gianluca Galli mengungkapkan rasa bangganya karena bisa terlibat langsung dalam menyelamatkan warisan budaya Kota Milan ini. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar memperbaiki lantai, melainkan menjaga identitas sejarah sebuah bangsa.
Ia juga melayangkan pesan kepada generasi muda agar mulai melirik profesi sebagai restorator seni. Menurutnya, Italia yang kaya akan situs bersejarah saat ini sedang sangat membutuhkan tenaga ahli di bidang konservasi tersebut.
Galli mengakui bahwa menjadi seorang restorator menuntut fleksibilitas yang tinggi karena mereka harus sering berpindah lokasi kerja. Meski begitu, profesi ini dipandang sebagai sebuah kehormatan besar dan memiliki nilai istimewa di mata masyarakat Italia.
Pelestarian mosaik di Galleria Vittorio Emanuele II menjadi pengingat penting bagi para turis di seluruh dunia. Wisatawan diharapkan tetap bisa menikmati tradisi lokal namun tanpa harus merusak keindahan karya seni yang telah bertahan selama ratusan tahun.