Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kontraksi hebat pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026) kemarin. Kondisi ini membawa indeks kembali terpuruk ke zona terendah seperti yang terjadi pada tahun 2025 silam.
Liza Camelia Suryanata, selaku Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, mencatat bahwa IHSG sempat menyentuh level 5.882. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah juga melemah hingga menembus angka Rp 17.950 per dollar AS.
Tekanan semakin berat lantaran investor asing terus melakukan aksi jual bersih atau net sell. Sepanjang tahun berjalan, total modal asing yang keluar dari pasar domestik sudah mencapai Rp 66,20 triliun.
Situasi pasar modal Indonesia ini terlihat sangat kontras dibandingkan dengan bursa saham global lainnya. Ketika IHSG merosot tajam, beberapa bursa dunia justru berhasil mencatatkan rekor tertinggi yang baru.
Liza berpendapat bahwa persoalan utama saat ini bukan lagi soal potensi pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, para pelaku pasar kini mulai meragukan tingkat kredibilitas Indonesia di mata internasional.
Data Penurunan IHSG dan Sentimen Pasar
Pada penutupan perdagangan kemarin, IHSG terkoreksi sangat dalam sebesar 4,11 persen atau anjlok 254,36 poin. Indeks berhenti di level 5.941,066 setelah sebelumnya sempat merosot ke titik terendah harian di 5.841,996.
Pergerakan indeks terpantau sudah berada di zona merah sejak pembukaan pasar dan gagal bangkit hingga sesi berakhir. Padahal, indeks sempat dibuka pada posisi 6.207,102 dengan titik tertinggi hanya mencapai 6.213,801.
Terdapat beberapa faktor krusial yang saat ini menghantui kepercayaan para investor di pasar modal. Berikut adalah rincian lima poin utama yang memicu kekhawatiran besar bagi investor saat ini:
- Kredibilitas Kebijakan: Adanya outlook negatif dari lembaga pemeringkat internasional seperti Moody's dan Fitch terkait tata kelola kebijakan.
- Tekanan Nilai Tukar: Posisi rupiah yang semakin terdesak dan terus mendekati level psikologis Rp 18.000 per dollar AS.
- Arus Modal Keluar: Fenomena hengkangnya dana asing atau capital outflow dari pasar keuangan dalam negeri yang terjadi secara masif.
- Penurunan Kelas Menengah: Menyusutnya jumlah kelompok kelas menengah yang selama ini berperan sebagai penggerak utama konsumsi domestik.
- Risiko Komunikasi Kepemimpinan: Meningkatnya risiko komunikasi kebijakan dan kepemimpinan yang menjadi perhatian serius bagi investor global.
Poin-poin di atas menjadi landasan mengapa sentimen negatif begitu mendominasi pergerakan pasar saham belakangan ini. Para investor cenderung mengambil sikap waspada terhadap stabilitas ekonomi dalam jangka panjang.
Perbandingan Performa dengan Negara Berkembang
Walaupun tekanan sangat terasa, Liza menilai Indonesia belum sepenuhnya masuk ke dalam fase penurunan peringkat struktural. Namun, ia tidak menutup kemungkinan hal tersebut bisa terjadi jika kondisi tidak segera membaik.
Saat ini pasar mulai memberikan perlakuan yang berbeda terhadap Indonesia dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. Indikator minat asing yang terlihat melalui Indonesia ETF (EIDO) menunjukkan kinerja yang memprihatinkan.
Tabel perbandingan performa pasar modal Indonesia dengan pasar negara berkembang lainnya sejak awal 2025:
| Kategori/Negara | Performa Pengembalian (Return) |
|---|---|
| Indonesia ETF (EIDO) | -28,6% |
| Emerging Markets (Rata-rata) | +64,6% |
| Vietnam | +63,2% |
| Taiwan | +107,2% |
Data tersebut memperlihatkan ketertinggalan yang cukup jauh antara pasar modal dalam negeri dengan negara tetangga. Hal ini menunjukkan adanya tantangan besar bagi pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan investor global.