Pemerintah Iran saat ini tengah melakukan peninjauan mendalam terhadap proposal perdamaian yang diajukan oleh Amerika Serikat tanpa adanya batasan tenggat waktu resmi yang ditetapkan. Meskipun demikian, laporan terbaru menyebutkan bahwa Teheran diharapkan segera menyerahkan tanggapan resmi mereka kepada Pakistan yang bertindak sebagai pihak mediator pada hari ini.
Kepastian mengenai pengiriman draf jawaban tersebut dikonfirmasi oleh seorang anggota parlemen Iran yang juga merupakan mantan menteri luar negeri negara tersebut. Ia menegaskan bahwa seluruh proses komunikasi diplomatik ini akan diarahkan secara langsung kepada pihak Amerika Serikat melalui perantara yang telah ditunjuk.
Pada tahap diplomasi saat ini, Iran menekankan bahwa prioritas utama mereka bukanlah mengenai negosiasi program nuklir, melainkan upaya penghentian konflik di seluruh lini pertempuran. Teheran menuntut adanya jaminan langsung dari Dewan Keamanan PBB serta pencabutan sanksi ekonomi sebelum bersedia membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.
Apabila persyaratan awal tersebut berhasil dipenuhi oleh komunitas internasional, Iran menyatakan kesiapannya untuk memasuki fase kedua yang mencakup pembahasan mengenai program nuklir mereka. Terkait pengawasan di wilayah perairan, Iran telah membentuk badan baru bernama "Otoritas Selat Teluk Persia" yang kini memiliki kendali penuh atas regulasi maritim di kawasan strategis tersebut.
Melalui otoritas baru ini, Iran menetapkan aturan bahwa setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz diwajibkan untuk berkomunikasi dan berkoordinasi langsung dengan pihak berwenang mereka. Perubahan rezim maritim ini menunjukkan posisi tawar Iran yang semakin kuat di tengah upaya Amerika Serikat yang memberikan sinyal keseriusan dalam mengejar kesepakatan damai.
Seorang analis bernama Mohamad Elmasry dari Institut Studi Pascasarjana Doha memberikan catatan bahwa isi detail dari proposal 14 poin milik AS tersebut masih belum diketahui publik secara pasti. Meskipun AS terlihat lebih serius, publik masih mempertanyakan kompromi apa saja yang bersedia diambil oleh Washington untuk mencapai stabilitas keamanan dengan Teheran.
Di sisi lain, dinamika politik internal Iran tetap berjalan dengan adanya pertemuan antara Presiden Iran dan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei yang memberikan apresiasi terhadap kebijakan yang diambil. Sementara itu, negosiator utama Iran sempat melontarkan sindiran terhadap kebijakan Donald Trump terkait keputusan AS yang batal mengawal kapal-kapal internasional yang melintasi Selat Hormuz.