Harga Pertamax Tak Naik di 2026, Kompensasi Negara Tembus Rp2,3 Triliun per Bulan

Harga Pertamax Tak Naik di 2026, Kompensasi Negara Tembus Rp2,3 Triliun per Bulan
Foto: Harga Pertamax Tak Naik di 2026, Kompensasi Negara Tembus Rp2,3 Triliun per Bulan. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Pemerintah Indonesia masih mengambil langkah untuk menahan harga jual bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax meskipun harga pasar aslinya sudah jauh lebih tinggi. Hingga memasuki bulan Juni 2026, harga bensin dengan angka oktan RON 92 milik PT Pertamina (Persero) ini tetap dibanderol senilai Rp12.300 per liter.

Padahal, jika merujuk pada perhitungan nilai keekonomian saat ini, harga jual Pertamax seharusnya sudah menyentuh angka Rp16.427 per liter. Keputusan untuk tidak menaikkan harga ini tentu berdampak pada beban finansial negara yang harus menanggung selisih harga tersebut melalui mekanisme kompensasi.

Beban Kompensasi Energi Mencapai Triliunan Rupiah

Sejumlah ekonom mulai memberikan proyeksi terkait besarnya dana yang perlu disiapkan pemerintah untuk menutupi selisih harga jual Pertamax. Berdasarkan data terbaru, kebutuhan anggaran untuk menanggung biaya tersebut diperkirakan berada di angka yang cukup fantastis setiap bulannya.

Berikut adalah estimasi rincian biaya kompensasi yang harus ditanggung pemerintah:

  • Kebutuhan dana untuk menambal selisih harga Pertamax diprediksi mencapai Rp2,2 triliun hingga Rp2,3 triliun per bulan.
  • Besaran kompensasi ini muncul karena selisih antara harga jual eceran Rp12.300 dengan harga keekonomian Rp16.427 per liter.
  • Kebijakan penahanan harga ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga energi global.

Estimasi biaya bulanan yang mencapai Rp2,3 triliun tersebut menunjukkan betapa besarnya subsidi terselubung yang diberikan pemerintah agar harga BBM nonsubsidi tetap terjangkau bagi konsumen di dalam negeri.

Faktor Pengaruh Harga Minyak dan Kurs Rupiah

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa angka keekonomian Pertamax tersebut didapat dari hasil pemantauan dinamika pasar minyak dunia dan pergerakan mata uang. Menurutnya, ada dua variabel utama yang menjadi indikator penentu harga BBM di pasar domestik.

Beberapa faktor utama yang memengaruhi perhitungan nilai keekonomian Pertamax saat ini antara lain:

  • Harga minyak mentah jenis Brent yang bergerak stabil di level rata-rata US$88,5 per barel sejak Januari hingga akhir Mei 2026.
  • Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terpantau masih berada di posisi yang cukup lemah, yakni di atas Rp17.000 per dolar AS.
  • Rata-rata kurs rupiah selama periode tersebut tercatat berada di level Rp17.057 per dolar AS.

Kombinasi antara harga minyak dunia yang belum melandai di bawah US$80 dan melemahnya kurs rupiah menjadi alasan utama mengapa harga pasar Pertamax melambung tinggi melampaui harga jualnya di SPBU.

Analisis Perbandingan Harga Keekonomian

Dalam penjelasannya lebih lanjut, Josua Pardede memberikan simulasi perbandingan mengenai bagaimana variabel makroekonomi sangat menentukan harga jual BBM di Indonesia. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan skenario harga minyak yang lebih tinggi pada masa sebelumnya.

Simulasi perbandingan harga keekonomian Pertamax berdasarkan variabel kurs dan harga minyak:

Indikator Ekonomi Skenario Harga Keekonomian
Minyak US$88,5/bbl & Kurs Rp17.057 Rp16.427 per liter
Minyak US$100/bbl & Kurs Rp17.000 Rp17.800 per liter

Tabel di atas menunjukkan bahwa meskipun harga minyak dunia saat ini belum menyentuh angka US$100 per barel, nilai keekonomian tetap tinggi karena faktor pelemahan nilai tukar rupiah yang signifikan.

Josua menegaskan bahwa rujukan sebelumnya memperlihatkan jika harga minyak mentah Indonesia (ICP) mencapai US$100 dengan kurs Rp17.000, maka harga Pertamax bisa melonjak hingga Rp17.800 per liter. Dengan kondisi saat ini, nilai Rp16.427 per liter dianggap sebagai angka paling realistis yang mencerminkan harga pasar sesungguhnya.

Situasi ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi ketahanan fiskal negara, terutama jika harga minyak dunia kembali mengalami gejolak atau rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Pemerintah pun terus memantau situasi ini untuk menentukan langkah kebijakan energi ke depannya.

Di sisi lain, pergerakan harga BBM di Indonesia pada bulan Juni 2026 menunjukkan tren yang bervariasi untuk jenis bahan bakar lainnya. Sementara harga Pertamax tetap ditahan, beberapa produk seperti Pertamax Turbo dilaporkan mengalami kenaikan harga, sedangkan produk Dexlite justru mengalami penurunan harga.

Artikel terkait

Rekomendasi