Keberadaan spesies mangrove langka asal Indonesia, Camptostemon philippinensis, kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Tanaman ini telah masuk ke dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) sebagai spesies yang terancam punah.
Meskipun pemerintah Indonesia sudah menetapkan jenis mangrove ini sebagai flora yang dilindungi, risiko kepunahannya tetap tinggi. Hal ini disebabkan oleh jumlah populasinya yang sangat terbatas dan hanya tersebar di lokasi-lokasi tertentu.
Temuan Riset dan Populasi di Teluk Balikpapan
Kondisi kritis ini terungkap melalui riset yang didanai oleh BRIN dan LPDP melalui skema ekspedisi tahun 2022 hingga 2024. Tim peneliti melakukan penelusuran sepanjang 200 kilometer di kawasan Teluk Balikpapan untuk mendata populasi yang tersisa.
Dari hasil survei lapangan tersebut, peneliti berhasil mendata jumlah individu yang ditemukan di habitat aslinya. Data ini mencakup berbagai tahap pertumbuhan tanaman mulai dari bibit hingga pohon dewasa.
Rincian data populasi mangrove langka di kawasan Pantai Lango:- Semaian (Anakan Muda): Ditemukan sebanyak 452 individu yang mendominasi populasi.
- Pohon Dewasa: Tercatat sebanyak 49 pohon yang sudah tumbuh besar.
- Pancang: Terdapat 26 individu pada tahap pertumbuhan menengah.
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Istiana Prihatini, menyebutkan bahwa kemampuan regenerasi alami spesies ini sebenarnya masih tergolong baik. Namun, sebaran lokasinya yang sempit menjadikan status keberadaannya sangat rentan terhadap gangguan luar.
Kondisi Habitat dan Ekosistem Pendukung
Di Teluk Balikpapan, spesies ini biasanya tumbuh di zona mangrove lapis kedua dengan tekstur tanah yang didominasi pasir. Lingkungan ini secara rutin tergenang air saat fenomena pasang tinggi terjadi.
Mangrove langka ini tidak tumbuh sendirian, melainkan hidup berdampingan dengan berbagai vegetasi pesisir lainnya. Beberapa di antaranya meliputi Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, hingga Xylocarpus granatum.
Ancaman Aktivitas Manusia dan Pembangunan
Faktor utama yang mengancam kelestarian Camptostemon philippinensis justru berasal dari aktivitas manusia di sekitar pesisir. Letaknya yang berdekatan dengan pemukiman penduduk membuat tanaman ini sangat mudah terkena dampak negatif.
Istiana menekankan bahwa alih fungsi lahan dan pencemaran lingkungan menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup spesies ini. Selain itu, proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan pembalakan liar turut menambah daftar risiko kerusakan habitat.
Berikut adalah beberapa faktor utama yang dapat memicu kepunahan lokal mangrove langka tersebut:
| Kategori Ancaman | Dampak Terhadap Spesies |
|---|---|
| Pembangunan Infrastruktur | Hilangnya ruang tumbuh akibat proyek pembangunan di kawasan IKN. |
| Alih Fungsi Lahan | Perubahan area hutan mangrove menjadi lahan pemukiman atau industri. |
| Pencemaran Limbah | Penurunan kualitas air dan tanah yang mengganggu pertumbuhan mangrove. |
| Pembalakan Liar | Kerusakan fisik tanaman akibat aktivitas penebangan tidak resmi. |
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa kerusakan sekecil apa pun di habitat yang terbatas dapat berdampak fatal bagi populasi secara keseluruhan. Tanpa perlindungan ketat, risiko hilangnya spesies ini dari alam liar akan semakin nyata.
Habitat Penting Bagi Bekantan
Fungsi mangrove ini tidak hanya sebagai penahan abrasi, tetapi juga diduga kuat menjadi rumah bagi Bekantan (Nasalis larvatus). Dugaan ini muncul setelah peneliti menemukan bekas gigitan primata endemik Kalimantan tersebut pada dedaunan mangrove.
Kesaksian dari nelayan setempat juga memperkuat laporan mengenai keberadaan kelompok Bekantan di sekitar lokasi penelitian. Temuan ini menegaskan betapa pentingnya menjaga ekosistem Teluk Balikpapan demi keberlangsungan banyak spesies dilindungi.
BRIN merekomendasikan langkah-langkah konservasi mendesak, seperti restorasi kawasan yang rusak dan penyimpanan materi genetik. Selain itu, pengembangan konservasi di luar habitat asli (ex-situ) perlu dilakukan untuk memperbanyak jumlah tanaman secara terkontrol.
Penelitian lanjutan mengenai keragaman genetik dan peran ekologis spesies ini masih sangat diperlukan ke depannya. Pemahaman mendalam tersebut akan menjadi fondasi utama dalam menyusun strategi konservasi jangka panjang di Indonesia.