Gus Ipul Usulkan Pesantren Ploso Jadi Lokasi Munas dan Konbes NU 2026, Banyak Dicari!

Gus Ipul Usulkan Pesantren Ploso Jadi Lokasi Munas dan Konbes NU 2026, Banyak Dicari!
Foto: Gus Ipul Usulkan Pesantren Ploso Jadi Lokasi Munas dan Konbes NU 2026, Banyak Dicari!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf, secara resmi mengajukan usul terkait lokasi pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Alim Ulama NU tahun 2026. Pria yang akrab disapa Gus Ipul ini merekomendasikan Pondok Pesantren Al Falah Ploso yang terletak di Mojo, Kediri, Jawa Timur sebagai tempat utama agenda besar tersebut.

Usulan ini ia sampaikan langsung dalam forum Rapat Pleno PBNU yang digelar di Lantai 8 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta. Gus Ipul menilai bahwa Pesantren Ploso memiliki akar sejarah dan tradisi keilmuan yang sangat kuat, sehingga sangat layak menjadi pertimbangan dalam khazanah pesantren NU.

Pertimbangan Historis dan Amanah Para Ulama

Gus Ipul menjelaskan bahwa usulan ini bukan tanpa alasan, melainkan bentuk tindak lanjut dari aspirasi para tokoh ulama di Jawa Timur. KH Nurul Huda Djazuli serta Gus Muhammad Alkautsar sebelumnya telah menyampaikan keinginan mereka agar Pesantren Ploso bisa menjadi tuan rumah ajang permusyawaratan ulama NU tersebut.

Gus Ipul mengaku sudah berkomunikasi langsung dengan KH Huda dan Gus Kautsar terkait kesiapan pesantren tersebut untuk menyambut para peserta Munas dan Konbes. Beliau menyatakan bahwa pihak pesantren sudah siap lahir batin jika nantinya ditunjuk secara resmi oleh organisasi untuk menggelar acara berskala nasional ini.

Rencana pembukaan dan lokasi kegiatan utama yang diusulkan oleh Gus Ipul :

  • Kawasan Makbarah Syaikhona Kholil Bangkalan: Diusulkan sebagai lokasi upacara pembukaan Munas dan Konbes sebagai bentuk penghormatan spiritual.
  • Pondok Pesantren Al Falah Ploso: Diusulkan menjadi pusat rangkaian sidang, diskusi komisi, serta forum permusyawaratan ulama selama kegiatan berlangsung.

Langkah memulai pembukaan dari Makbarah Syaikhona Muhammad Kholil di Madura memiliki makna simbolis sebagai bentuk tabarruk atau mencari keberkahan. Hal ini dipandang penting sebagai cara menyambung sanad perjuangan NU kepada salah satu guru besar para ulama di Nusantara.

Setelah prosesi pembukaan yang khidmat di Bangkalan selesai, seluruh peserta nantinya akan bergeser ke Kediri untuk melanjutkan agenda inti. Di Pesantren Ploso, para ulama akan merumuskan berbagai pandangan penting terkait masalah keagamaan, kebangsaan, maupun internal organisasi.

Nilai Strategis Pesantren Ploso dan Bangkalan

Menurut Gus Ipul, Munas dan Konbes bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan forum strategis untuk merumuskan arah masa depan Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu, pemilihan lokasi harus memiliki kekuatan simbolik dan kedekatan emosional dengan dunia pesantren sebagai basis utama NU.

Pesantren Ploso dipilih karena reputasinya sebagai institusi pendidikan besar yang konsisten mencetak kader ulama dan kiai berpengaruh di Indonesia. Selain itu, pesantren ini telah lama menjadi pusat rujukan pendidikan Islam tradisional di wilayah Jawa Timur dengan disiplin keilmuan yang mumpuni.

Sementara itu, Makbarah Syaikhona Kholil memiliki posisi sentral dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama. Syaikhona Kholil merupakan mahaguru yang mendidik para pendiri NU, sehingga kehadirannya menjadi mata rantai spiritual yang tidak bisa dipisahkan dari jati diri organisasi.

Gus Ipul berharap dengan dimulainya acara dari Bangkalan, keputusan-keputusan yang lahir nantinya tetap berpijak pada nilai adab dan ruh perjuangan para leluhur. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa usulan ini belum bersifat final karena masih harus melewati mekanisme rapat internal PBNU lebih lanjut.

Progres Lokasi Muktamar Ke-35 NU

Selain membahas Munas dan Konbes, rapat pleno tersebut juga memaparkan perkembangan pencalonan tuan rumah untuk Muktamar Ke-35 NU. Gus Ipul mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada tiga Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) yang secara resmi mengajukan diri sebagai kandidat pelaksana.

Daftar wilayah yang telah masuk dalam bursa calon tuan rumah Muktamar :

Wilayah Calon Tuan Rumah Status Kesiapan dan Dukungan
Nusa Tenggara Barat (NTB) Sangat aktif, mendapat dukungan resmi dari PWNU dan Gubernur setempat.
DKI Jakarta Sudah mengirim surat resmi, namun belum ada koordinasi teknis lebih lanjut.
Sumatera Barat Telah mengusulkan secara resmi, komunikasi sedang berjalan meski belum intens.
Jawa Timur Muncul sebagai aspirasi kuat (Lirboyo, Bangkalan, Situbondo) meski tanpa surat formal.

Dari daftar di atas, NTB dinilai menjadi wilayah yang paling progresif dan menunjukkan keseriusan tinggi dalam mempersiapkan diri. Dukungan dari pemerintah daerah setempat menjadi nilai tambah yang sangat signifikan dalam proses penilaian kelayakan oleh panitia pusat.

Gus Ipul menambahkan bahwa meskipun Jawa Timur belum mengirimkan surat resmi, namun dinamika di sana sangat menarik untuk diikuti. Beberapa nama pesantren besar seperti Lirboyo dan Situbondo terus diperbincangkan oleh banyak pihak untuk menjadi lokasi alternatif penyelenggaraan Muktamar.

Sebagai Ketua Panitia Pelaksana, Gus Ipul mengakui bahwa wacana di Jawa Timur merupakan yang paling ramai dan penuh semangat. Ia menutup pernyatannya dengan menekankan bahwa segala keputusan mengenai lokasi tetap akan didasarkan pada hasil musyawarah dan kesepakatan jajaran pimpinan PBNU.

Artikel terkait

Rekomendasi