Perjalanan eksplorasi manusia dari Bumi menuju Mars selama ini dikenal sebagai misi yang memakan waktu sangat lama dan melelahkan. Dengan keterbatasan teknologi serta jalur penerbangan yang ada saat ini, sebuah misi pulang-pergi ke Planet Merah tersebut bahkan bisa menghabiskan waktu hampir tiga tahun lamanya.
Namun, sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Acta Astronautica dan dikutip oleh Live Science menunjukkan adanya potensi besar untuk memangkas durasi tersebut secara signifikan. Seorang ilmuwan menemukan peluang jalur perjalanan yang memungkinkan misi pulang-pergi ke Mars diselesaikan hanya dalam waktu sekitar lima bulan atau setara dengan 153 hari saja.
Penemuan Jalur Berawal dari Penelitian Asteroid
Penulis utama studi ini, Marcelo de Oliveira Souza, mengungkapkan bahwa dirinya tidak secara sengaja mencari jalur baru untuk menuju ke Mars. Pada tahun 2015, ia sebenarnya sedang melakukan penelitian mendalam terhadap berbagai objek asteroid yang posisinya berada di dekat Bumi.
Dalam proses riset tersebut, perhatiannya teralihkan oleh asteroid 2001 CA21 yang diketahui memiliki lintasan unik saat melintasi orbit Bumi dan Mars. Meskipun perhitungan orbit spesifik untuk asteroid itu kemudian diperbarui, lintasan awalnya memberikan petunjuk penting mengenai kemungkinan adanya rute perjalanan ruang angkasa yang jauh lebih singkat.
Souza mengakui bahwa temuan ini sangat mengejutkan karena ia sama sekali tidak memprediksi akan menemukan pola perjalanan antarplanet yang revolusioner. Ia juga menyatakan bahwa penemuan ini kemungkinan besar terjadi karena ia berada di tempat dan waktu yang tepat sebelum data orbit asteroid diperbarui menjadi lebih akurat.
Potensi Perjalanan Mars Hanya dalam 33 Hari
Berdasarkan perhitungan awal yang dilakukan Souza, secara geometris perjalanan satu arah dari Bumi menuju Mars sebenarnya dapat ditempuh hanya dalam waktu 33 hingga 34 hari. Namun, terdapat hambatan teknis yang sangat besar untuk merealisasikan jalur ekstrem tersebut dalam waktu dekat.
Rute super cepat tersebut membutuhkan kecepatan peluncuran mencapai 32,5 kilometer per detik, yang mana angka ini jauh melampaui kemampuan roket modern yang tersedia saat ini. Selain itu, pesawat ruang angkasa akan tiba di Mars dengan kecepatan yang terlalu tinggi sehingga teknologi pendaratan saat ini belum mampu mengatasinya secara aman.
Oleh karena tantangan teknis tersebut, Souza kemudian berusaha mencari alternatif rute lain yang lebih realistis untuk diimplementasikan di masa depan. Dengan menggunakan metode perhitungan lintasan ruang angkasa yang dikenal sebagai Lambert Analysis, ia mengkaji berbagai kemungkinan perjalanan cepat pada periode kesejajaran planet.
Melalui simulasi yang dilakukan untuk tahun 2027, 2029, dan 2031, ditemukan bahwa konfigurasi tahun 2031 merupakan yang paling masuk akal bagi teknologi manusia. Dalam skenario tahun tersebut, rincian misi perjalanan ruang angkasa diperkirakan akan mengikuti jadwal waktu yang sangat efisien sebagai berikut:
| Tahapan Misi | Keterangan Jadwal / Durasi |
|---|---|
| Keberangkatan dari Bumi | 20 April 2031 |
| Kedatangan di Planet Mars | 23 Mei 2031 (setelah 33 hari perjalanan) |
| Durasi Tinggal di Mars | Kurang lebih 30 hari |
| Kepulangan ke Bumi | Tiba kembali pada 20 September 2031 |
| Total Durasi Misi Pulang-Pergi | Sekitar 153 hari atau 5 bulan |
Souza juga menemukan opsi rute lain dengan kebutuhan energi yang lebih rendah namun tetap efisien dibandingkan metode konvensional saat ini. Jalur alternatif kedua ini memungkinkan total perjalanan dilakukan dalam waktu sekitar 226 hari atau setara dengan 7,5 bulan perjalanan.
Status Teoretis dan Harapan Masa Depan
Meskipun konsep perjalanan ini terdengar sangat futuristik, Souza menekankan bahwa penelitian ini masih bersifat teoretis dan belum dapat langsung diterapkan sekarang. Banyak faktor teknis yang masih harus dipertimbangkan secara matang, mulai dari desain struktur pesawat, berat muatan, hingga kemampuan mesin roket yang digunakan.
Meski demikian, pencapaian kecepatan yang dibutuhkan dalam studi ini dinilai bukan merupakan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan di masa mendatang. Sebagai perbandingan historis, misi New Horizons milik NASA pernah mencapai kecepatan luar biasa sekitar 16,26 kilometer per detik saat diluncurkan menuju Pluto pada tahun 2006.
Menurut pandangan Souza, kehadiran roket generasi baru seperti SpaceX Starship serta Blue Origin New Glenn kemungkinan besar dapat membuka jalan bagi perjalanan super cepat. Jika riset ini terus dikembangkan, durasi perjalanan ke Mars yang tadinya memakan waktu bertahun-tahun mungkin suatu hari nanti hanya akan menjadi hitungan bulan.
Perkembangan Teknologi Pendukung Lainnya
Selain riset mengenai lintasan, NASA juga dilaporkan sedang mengembangkan teknologi mesin propulsi plasma (MPD) dan Pulsed Plasma Rocket untuk memangkas waktu tempuh. Teknologi mesin plasma ini diharapkan mampu mempersingkat perjalanan ke Mars dari sembilan bulan menjadi hanya sekitar 60 hari saja.
Uji coba electric thruster untuk misi berawak juga terus dilakukan demi meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar dibandingkan dengan roket kimia konvensional. Inovasi-inovasi ini menunjukkan bahwa fokus dunia kedirgantaraan saat ini memang tertuju pada upaya mempercepat mobilitas manusia di luar angkasa.
Dengan berbagai eksperimen dan simulasi yang terus berjalan, visi manusia untuk menjadi spesies multi-planet tampak semakin mendekati kenyataan. Tantangan besar yang ada saat ini justru menjadi pemantik bagi para ilmuwan untuk terus menemukan solusi cerdas dalam menaklukkan jarak antarplanet.