Falcon dan Sutradara Miracle in Cell No. 7 Resmi Garap Film Ayah Terbaru 2026

Falcon dan Sutradara Miracle in Cell No. 7 Resmi Garap Film Ayah Terbaru 2026
Foto: Falcon dan Sutradara Miracle in Cell No. 7 Resmi Garap Film Ayah Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Sutradara kondang asal Korea Selatan, Lee Hwan-kyung, bersiap kembali ke layar lebar melalui sebuah proyek film terbaru yang berlatar di Indonesia. Sosok di balik kesuksesan film orisinal Miracle in Cell No. 7 (2013) ini akan mengeksplorasi kembali tema hubungan emosional antara orang tua dan anak.

Dalam proyek bertajuk Gasigogi ini, Lee menggandeng Falcon Pictures sebagai rumah produksi yang menaungi karyanya. Proses pengambilan gambar direncanakan akan segera dimulai dalam beberapa bulan ke depan.

Kolaborasi Internasional Berbasis Emosi

Lee Hwan-kyung mengungkapkan bahwa alasannya memilih bermitra dengan Falcon Pictures didasari oleh adanya kesamaan visi emosional. Ia merasa produser Frederica dan HB Naveen memiliki komitmen kuat terhadap esensi dari sebuah cerita.

"Untuk kisah yang sangat intim ini, saya mencari kemitraan yang dibangun atas dasar resonansi perasaan, bukan sekadar nilai komersial," ujar Lee dalam laporan Variety pada Kamis (21/5).

Dukungan penuh dari pihak produser terhadap inti pembuatan film menjadi alasan utama Lee mempercayakan proyek ini kepada Falcon Pictures. Baginya, dedikasi tersebut menjadikan rumah produksi tersebut tempat paling tepat untuk menghidupkan kisah Gasigogi.

Filosofi di Balik Judul Gasigogi

Nama Gasigogi sendiri diambil dari istilah bahasa Korea yang merujuk pada ikan Stickleback amur. Spesies ikan punggung duri ini memiliki karakteristik unik dalam cara mereka berkembang biak dan menjaga keturunan.

Ikan yang banyak ditemukan di perairan Asia Timur ini dikenal karena pengorbanan luar biasa dari sang pejantan. Setelah induk betina pergi, ikan jantan akan menjaga telur-telurnya sendirian tanpa bantuan siapa pun.

Karakteristik unik ikan Stickleback amur yang menjadi inspirasi film ini:

  • Memiliki ukuran tubuh yang kecil, berkisar antara 6,5 hingga 9 centimeter.
  • Ditemukan di berbagai ekosistem perairan seperti air tawar, payau, hingga laut.
  • Pejantan bertanggung jawab penuh mulai dari membangun sarang hingga menghalau pemangsa.
  • Ikan jantan akan menjaga telurnya hingga kelelahan dan akhirnya merelakan tubuhnya menjadi santapan pertama bagi anak-anaknya.

Karakteristik alamiah ikan ini menjadi simbol pengorbanan tanpa batas yang akan menjadi napas utama dalam alur cerita film tersebut.

Sentuhan Budaya dan Tradisi Indonesia

Lee Hwan-kyung mengaku sempat ragu untuk membawa ide cerita ini ke layar lebar karena muatan emosinya yang sangat berat. Namun, ia akhirnya memutuskan untuk menggarapnya dengan menyesuaikan konteks budaya di Indonesia.

Berbeda dengan karya sebelumnya, Lee ingin film ini benar-benar menyatu dengan tradisi lokal Indonesia. Ia menyoroti pentingnya nilai keluarga, agama, dan ikatan sosial yang sangat kuat di tengah masyarakat Indonesia.

Sutradara tersebut menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar memindahkan perasaan dari budaya Korea ke Indonesia. Sebaliknya, ia menciptakan karya baru yang berakar pada gaya penceritaan serta nilai-nilai tradisional setempat.

Target yang ingin dicapai Lee melalui film ini adalah membangun koneksi yang jujur dengan para penonton. Ia berharap film ini mampu menggerakkan hati siapa pun yang menyaksikannya.

"Tujuannya sederhana, saya ingin penonton langsung terpikir untuk menelepon ayah mereka setelah film berakhir," pungkas Lee. Melalui karya ini, ia ingin publik memahami sisi diam para orang tua sebelum semuanya terlambat.

Artikel terkait

Rekomendasi