Sineas sekaligus produser ternama Ernest Prakasa akhirnya memberikan tanggapan terkait isu hangat mengenai dugaan monopoli layar bioskop oleh rumah produksi (PH) raksasa. Melalui sebuah video di akun Instagram pribadinya pada Minggu (24/5/2026), ia mencoba mengurai polemik ini dari sudut pandang pelaku industri.
Isu ini kembali mencuat ke publik setelah Nicki R.V. selaku produser dari 786 Production melayangkan kritik dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII DPR RI. Ia menyoroti adanya kecenderungan jadwal penayangan di bioskop yang didominasi oleh PH-PH tertentu saja.
Analogi Warung dan Keterbatasan Layar Bioskop
Ernest Prakasa menggunakan perumpamaan yang sangat sederhana untuk menjelaskan situasi yang terjadi di lapangan. Ia mengibaratkan jaringan bioskop sebagai sebuah warung yang memiliki rak dagangan dalam jumlah yang sangat terbatas.
Menurut Ernest, keterbatasan jumlah layar inilah yang memaksa pihak bioskop untuk bertindak sangat selektif dalam memilih film. Mereka harus memastikan film yang diputar benar-benar mampu menarik minat masyarakat untuk datang dan menonton.
Pria berusia 44 tahun tersebut juga mengingatkan bahwa mengelola operasional bioskop memerlukan biaya yang sangat besar setiap harinya. Kondisi finansial ini membuat manajemen bioskop berupaya keras mengoptimalkan pendapatan dari setiap jatah layar yang mereka kelola.
Ia menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah hasil dari praktik suap atau kecurangan terselubung di balik layar. Baginya, bioskop memiliki tujuan bisnis yang logis, yakni mengisi layar terbatas tersebut dengan film yang sanggup menjual tiket sebanyak-banyaknya.
Ernest mengklarifikasi bahwa pandangannya ini bukan semata-mata untuk membela pihak bioskop secara membabi buta. Ia hanya ingin menyampaikan kenyataan objektif yang selama ini dihadapi oleh para pengusaha eksibisi film di Indonesia.
Alasan Rumah Produksi Besar Lebih Diunggulkan
Dalam penjelasannya, Ernest menguraikan mengapa film hasil produksi label besar lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari pihak bioskop. Faktor reputasi dan rekam jejak menjadi kunci utama mengapa mereka lebih sering dilirik dibandingkan pemain baru.
Faktor keunggulan yang dimiliki oleh rumah produksi besar meliputi:
- Kepercayaan Publik: Penonton cenderung lebih mudah mengenali dan mempercayai kualitas film yang dirilis oleh brand atau label yang sudah ternama.
- Rekam Jejak Promosi: PH besar biasanya memiliki strategi pemasaran yang sudah teruji dan terencana dengan sangat matang sebelum film dirilis.
- Alokasi Anggaran: Dukungan dana yang kuat memungkinkan PH besar melakukan kampanye iklan secara masif di berbagai platform media sosial maupun luar ruang.
- Konsistensi Kualitas: Pengalaman dalam memproduksi berbagai judul film membuat bioskop merasa lebih aman saat memberikan slot penayangan bagi karya mereka.
Membangun kepercayaan publik terhadap sebuah brand baru memang bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Namun, Ernest mengakui bahwa menumbuhkan rasa percaya tersebut memerlukan waktu dan proses yang tidak singkat.
Ia menambahkan bahwa tugas seorang produser tidak berhenti begitu proses produksi film selesai dilakukan. Strategi distribusi yang meliputi pemasaran, manajemen ide kreatif, hingga pengelolaan media sosial merupakan rangkaian panjang yang sangat krusial.
Pihak bioskop melihat bahwa label-label besar selalu serius dalam menggarap aspek promosi ini tanpa main-main. Hal inilah yang membuat bioskop merasa lebih terjamin karena promosi yang kuat berbanding lurus dengan potensi jumlah penonton.
Menuju Sistem Distribusi yang Lebih Ideal
Terkait kondisi persaingan saat ini, Ernest menilai bahwa apa yang terjadi bukanlah sebuah bentuk kelicikan. Ia melihat fenomena ini sebagai bentuk kapitalisme yang murni dan dijalankan secara adil dalam koridor bisnis.
Meskipun menganggap persaingan tersebut wajar, Ernest tidak menampik bahwa sistem distribusi film saat ini masih jauh dari kata ideal. Masih banyak aspek yang menurutnya perlu diperbaiki agar industri perfilman tanah air bisa semakin berkembang pesat.
Berikut adalah ringkasan pandangan Ernest mengenai kondisi distribusi film saat ini:
| Aspek Penilaian | Kondisi Saat Ini | Harapan di Masa Depan |
|---|---|---|
| Dasar Pemilihan Film | Didominasi oleh nama besar PH dan potensi komersial. | Fokus utama pada kualitas karya dan nilai artistik film. |
| Peluang PH Independen | Sangat kompetitif dan cenderung sulit menembus pasar. | Memiliki ruang yang lebih luas untuk tayang di layar reguler. |
| Orientasi Penayangan | Mengutamakan film yang laku secara penjualan tiket. | Keseimbangan antara film populer dan film berkualitas bagus. |
Tabel di atas merangkum bagaimana Ernest membedakan antara realitas industri yang ada sekarang dengan visi ideal yang diperjuangkan. Ia berharap ke depannya penilaian film tidak lagi hanya terpaku pada popularitas rumah produksinya saja.
Jika standar kualitas karya menjadi tolok ukur utama, maka rumah produksi independen akan memiliki kesempatan yang sama besarnya. Hal ini tentu akan memperkaya ragam tontonan berkualitas yang bisa dinikmati oleh masyarakat luas.
Ernest bersama para rekan sineas lainnya mengaku masih terus berjuang demi mewujudkan ekosistem bioskop yang lebih sehat. Mereka ingin bioskop dipenuhi oleh film-film yang tidak hanya laku keras, tetapi juga memiliki standar estetika dan cerita yang baik.
Menurutnya, setiap produser dan sutradara memiliki visi tentang apa yang disebut sebagai film bagus. Perbedaan visi inilah yang seharusnya mendapatkan ruang lebih banyak agar industri kreatif Indonesia semakin dinamis dan tidak monoton.