Skema ekspor satu pintu melalui Danantara Sumber Daya Indonesia mengancam arus kas perusahaan tambang, menurut laporan terbaru. Skema ini diperkirakan akan meningkatkan jumlah piutang yang tidak tertagih, yang berdampak negatif pada kemampuan perusahaan dalam melunasi utang dalam dolar AS yang segera jatuh tempo.
Riset dari CreditSights menunjukkan bahwa mekanisme baru ini dapat memengaruhi likuiditas perusahaan melalui hambatan birokrasi, penundaan prosedural, dan keterlambatan penagihan piutang dari Danantara. Hal ini berpotensi memperlambat aliran kas, terutama dalam mata uang dolar AS, sehingga mempersempit fleksibilitas keuangan perusahaan tambang.
"Perubahan mekanisme ini berpotensi memperlambat perputaran kas, khususnya dalam dolar AS, yang pada akhirnya dapat memengaruhi fleksibilitas keuangan perusahaan," demikian dinyatakan dalam riset CreditSights yang dirilis pada Jumat (22/5/2026).
Risiko dan Dampak Skema Baru
Dalam skenario ini, perusahaan tambang berada di posisi yang lebih menantang untuk menyeimbangkan operasional dan kewajiban finansial. Hal ini menambah tekanan pada sektor yang sudah harus menghadapi dinamika pasar global yang fluktuatif.
Dalam beberapa kasus, pergeseran ke skema ini dapat menambah waktu yang dibutuhkan untuk mengamankan pembayaran. Situasi ini tidak hanya memengaruhi cash flow secara langsung tetapi juga dapat memicu peningkatan biaya operasional karena ketidakpastian dalam penagihan piutang.
Perhatian dan Persiapan
Para pelaku industri diharapkan untuk mempersiapkan strategi yang lebih solid dalam menghadapi ketidakpastian ini. Upaya mitigasi, seperti peningkatan efisiensi internal atau menemukan alternatif mekanisme penagihan, menjadi krusial untuk menanggulangi risiko yang timbul.
Banyak perusahaan di sektor ini kini mengamati secara cermat perkembangan kebijakan ini. Langkah yang diambil akan sangat bergantung pada bagaimana perubahan tersebut diimplementasikan dan tanggapan dari pasar internasional.
```