Bank Indonesia (BI) mencatat tren positif dalam upaya mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini tercermin dari lonjakan signifikan pada penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) atau transaksi mata uang lokal.
Hingga April 2026, nilai transaksi menggunakan skema LCT dilaporkan telah menyentuh angka US$22,61 miliar. Pencapaian ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Lonjakan Drastis Transaksi Mata Uang Lokal
Jika dibandingkan secara tahunan, total nilai transaksi tersebut mengalami kenaikan tajam hingga 309 persen. Sebagai perbandingan, pada April tahun lalu, nilai transaksi yang tercatat hanya berada di level US$7,33 miliar.
Skema LCT sendiri merupakan sistem penyelesaian transaksi bilateral antara pelaku usaha di Indonesia dengan negara mitra. Proses ini dilakukan dengan menggunakan mata uang masing-masing negara melalui bank yang ditunjuk.
Bank-bank yang memfasilitasi perdagangan valuta asing ini dikenal dengan istilah Appointed Cross Currency Dealer (ACCD). Mekanisme ini sengaja dirancang oleh bank sentral untuk menciptakan stabilitas nilai tukar dengan mendiversifikasi mata uang.
Beberapa poin utama mengenai pertumbuhan penggunaan skema LCT di Indonesia antara lain:
- Mencapai nilai transaksi sebesar US$22,61 miliar hingga April 2026.
- Mengalami kenaikan drastis sebesar 309% dibandingkan tahun sebelumnya.
- Melibatkan bank mitra yang ditunjuk sebagai Appointed Cross Currency Dealer (ACCD).
- Berfungsi sebagai instrumen utama untuk mengurangi dominasi dolar AS dalam perdagangan.
- Mendorong efisiensi transaksi lintas negara bagi para pelaku usaha nasional.
Data di atas memperlihatkan bagaimana kepercayaan pelaku usaha terhadap penggunaan mata uang lokal semakin menguat. Skema ini tidak hanya menyasar transaksi perdagangan, tetapi juga mencakup sektor investasi antarnegara mitra.
Perluasan Jangkauan Transaksi Lintas Negara
Ruth Cussoy Intama, Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, memberikan penjelasan terkait fenomena ini. Beliau menyatakan bahwa lonjakan tersebut adalah bukti nyata bahwa penggunaan mata uang lokal semakin meluas.
Dalam sesi media briefing yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, Ruth menekankan keberhasilan program ini. Ia menyebutkan bahwa volume transaksi yang naik tajam berhasil mendorong diversifikasi mata uang di pasar keuangan Indonesia.
Langkah ini dianggap krusial untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional dari guncangan eksternal yang sering dipicu fluktuasi dolar. Dengan menggunakan mata uang lokal, biaya transaksi diklaim menjadi lebih efisien bagi para eksportir maupun importir.
Berikut adalah ringkasan data pertumbuhan transaksi LCT yang dilaporkan oleh Bank Indonesia:
| Kategori Data | Keterangan Statistik |
|---|---|
| Nilai Transaksi April 2026 | US$22,61 Miliar |
| Nilai Transaksi April 2025 | US$7,33 Miliar |
| Persentase Kenaikan | 309% (Year-on-Year) |
| Tujuan Utama | Mengurangi Ketergantungan Dolar AS |
Tabel tersebut merangkum bagaimana lompatan besar terjadi hanya dalam kurun waktu satu tahun kalender. Peningkatan ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam menjalin kerja sama finansial bilateral dengan banyak negara strategis.
Upaya Memperkuat Stabilitas Ekonomi Nasional
Pihak Bank Indonesia terus berkomitmen untuk memperluas cakupan kerja sama LCT dengan lebih banyak negara mitra di masa depan. Diversifikasi ini dianggap sebagai strategi jangka panjang untuk memperkokoh kedaulatan nilai tukar rupiah.
Selain fokus pada transaksi mata uang lokal, BI juga tetap memantau berbagai sentimen pasar lainnya yang memengaruhi ekonomi. Isu mengenai suku bunga dan kebijakan makroprudensial menjadi perhatian penting dalam menjaga keseimbangan pasar modal dan sektor riil.
Dukungan dari perbankan nasional, termasuk bank di luar himpunan milik negara (Himbara), juga terus dibuka aksesnya. Hal ini bertujuan agar penyerapan devisa hasil ekspor dapat dilakukan secara lebih merata dan optimal di dalam negeri.
Dengan berbagai langkah strategis ini, pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi akan tetap terjaga meski kondisi global tidak menentu. Kolaborasi antara kebijakan moneter dan partisipasi aktif pelaku usaha menjadi kunci utama dalam kesuksesan skema LCT ini.