Disamakan dengan Hewan, Roza Lisna 'Uni Bakwan' Akui Tersinggung Usai Jadi Bahan Ejekan Dokter: Viral di 2026

Disamakan dengan Hewan, Roza Lisna 'Uni Bakwan' Akui Tersinggung Usai Jadi Bahan Ejekan Dokter: Viral di 2026
Foto: Disamakan dengan Hewan, Roza Lisna 'Uni Bakwan' Akui Tersinggung Usai Jadi Bahan Ejekan Dokter: Viral di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kreator konten penyandang disabilitas, Roza Lisna, yang populer dengan nama Uni Bakwan, akhirnya memberikan respons tegas terhadap tindakan dr. Hilda Natalia Banche. Dokter tersebut baru-baru ini menjadi pusat perhatian publik setelah melontarkan ejekan fisik melalui platform media sosial Threads.

Kasus ini mencuat setelah dr. Hilda menuliskan serangkaian poin yang menyamakan kondisi fisik Uni Bakwan dengan hewan peliharaan. Dalam unggahan yang viral tersebut, sang dokter menyebut tubuh sang kreator kecil serta menambahkan sindiran mengenai fitur fisik lainnya yang dianggap sangat tidak pantas.

Ungkapan Kekecewaan Uni Bakwan

Uni Bakwan mengaku sangat terpukul saat pertama kali mengetahui dirinya dijadikan bahan olokan. Ia baru menyadari keberadaan unggahan tersebut setelah menerima banyak pesan masuk dari para pengikut setianya di media sosial.

Melalui akun pribadinya pada Senin, 18 Mei 2026, Uni Bakwan mengungkapkan rasa sedihnya yang mendalam hingga meneteskan air mata. Ia tidak menyangka bahwa kekurangan fisik seseorang bisa dijadikan bahan candaan yang merendahkan sedemikian rupa.

Kekecewaan Uni Bakwan semakin memuncak ketika mengetahui bahwa sosok di balik akun tersebut adalah seorang tenaga medis profesional. Ia mempertanyakan bagaimana seseorang dengan latar belakang pendidikan tinggi di bidang kesehatan justru memberikan rasa sakit secara emosional.

Uni Bakwan menegaskan bahwa kondisi fisik yang ia miliki bukanlah pilihannya sendiri, melainkan takdir yang harus dijalani. Ia juga menekankan betapa perihnya rasa sakit yang dirasakan oleh para penyandang disabilitas saat mendapatkan penghinaan fisik.

Permohonan Maaf dr. Hilda Natalia

Setelah mendapatkan tekanan dan kecaman luas dari warganet, dr. Hilda Natalia Banche akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Ia menuliskan permintaan maaf tersebut melalui kolom komentar pada utas yang menjadi sumber kegaduhan.

Dalam pernyataannya, dr. Hilda mengaku sangat menyesali perbuatannya dan menyadari bahwa candaan yang dilontarkan telah melewati batas. Ia juga menyatakan telah berusaha menghubungi Uni Bakwan secara personal untuk menyelesaikan masalah ini secara langsung.

Poin penting terkait respons publik atas permintaan maaf tersebut:

  • Warganet menilai permintaan maaf dr. Hilda hanya dilakukan karena adanya tekanan publik yang besar.
  • Publik menuntut adanya video klarifikasi resmi sebagai bentuk pertanggungjawaban yang lebih nyata.
  • Muncul desakan kepada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk mengevaluasi atau mencabut izin praktik dokter yang bersangkutan.
  • Banyak pihak yang menganggap tindakan dr. Hilda tidak mencerminkan etika seorang profesional kesehatan yang seharusnya beradab.

Hingga saat ini, dukungan terus mengalir deras untuk Uni Bakwan dari berbagai kalangan masyarakat. Masyarakat berharap kejadian ini menjadi pelajaran agar setiap orang, terutama para profesional, lebih bijak dalam berkomunikasi di ruang digital.

Kasus ini pun memicu diskusi lebih luas mengenai pentingnya perlindungan terhadap martabat penyandang disabilitas di media sosial. Berikut adalah ringkasan fakta terkait insiden tersebut.

Aspek Kejadian Detail Informasi
Identitas Korban Roza Lisna (Uni Bakwan), Kreator Konten Disabilitas
Identitas Pelaku dr. Hilda Natalia Banche (Tenaga Medis)
Media Sosial Threads
Jenis Pelanggaran Ejekan fisik (body shaming) dan perilaku tidak profesional
Status Terkini Pelaku sudah meminta maaf, namun publik mendesak sanksi profesi

Informasi di atas merangkum bagaimana kronologi penghinaan fisik tersebut berubah menjadi isu etik kedokteran yang serius di mata publik. Meskipun sudah ada upaya damai, masyarakat tetap menuntut adanya tindakan tegas terhadap perilaku yang dianggap diskriminatif ini.

Artikel terkait

Rekomendasi