Langkah taktis baru saja diambil oleh salah satu raksasa pengelola dana investasi global asal Amerika Serikat, Dimensional Fund Advisors LP. Perusahaan ini terpantau mulai melancarkan aksi pengurangan kepemilikan saham pada emiten batu bara raksasa tanah air, PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Keputusan divestasi besar-besaran tersebut mulai dilakukan sejak penghujung tahun 2025 yang lalu. Langkah Dimensional Fund Advisors ini menjadi sorotan lantaran terjadi di tengah tren penurunan harga saham perusahaan yang dikelola oleh kolaborasi Grup Salim dan Grup Bakrie tersebut.
Rincian Penjualan Saham BUMI oleh Dimensional Fund
Berdasarkan data terbaru dari terminal Bloomberg pada Selasa, 2 Juni 2026, strategi pengurangan porsi saham ini dilakukan secara bertahap selama dua kuartal terakhir. Pada periode kuartal IV-2025, manajer investasi besutan miliarder David Booth ini telah melepas sebanyak 91,82 juta lembar saham BUMI.
Proses penjualan aset tersebut dilakukan saat harga saham BUMI berada di level rata-rata Rp246,87 per lembar. Tren pelepasan saham ternyata tidak berhenti di situ dan terus berlanjut hingga memasuki periode awal tahun berikutnya.
Memasuki kuartal I-2026, Dimensional Fund kembali menjual sekitar 85,99 juta lembar saham BUMI ke pasar modal. Pada tahap kedua ini, harga penjualan rata-rata tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, yakni berada pada angka Rp308,67 per saham.
Akibat dari serangkaian aksi jual tersebut, porsi kepemilikan Dimensional Fund Advisors di tubuh PT Bumi Resources Tbk kini mengalami penyusutan. Saat ini, jumlah saham yang masih mereka simpan tersisa sekitar 738,01 juta lembar saham.
Berikut adalah rincian data penjualan saham yang dilakukan oleh Dimensional Fund Advisors LP dalam dua periode terakhir :
| Periode Transaksi | Jumlah Saham yang Dijual | Harga Rata-Rata Penjualan |
|---|---|---|
| Kuartal IV - 2025 | 91,82 Juta Lembar | Rp246,87 per saham |
| Kuartal I - 2026 | 85,99 Juta Lembar | Rp308,67 per saham |
Data di atas memperlihatkan konsistensi Dimensional Fund dalam mengurangi eksposur mereka pada emiten batu bara tersebut sepanjang semester terakhir. Hingga pembukaan perdagangan di awal Juni 2026, posisi kepemilikan saham mereka dilaporkan belum mengalami perubahan kembali.
Kontradiksi Strategi dengan BlackRock dan Kondisi Pasar
Langkah yang diambil Dimensional Fund Advisors terbilang menarik karena terlihat berlawanan arah dengan beberapa institusi keuangan global lainnya. Sebagai contoh, laporan sebelumnya menunjukkan bahwa institusi besar seperti BlackRock dan Goldman Sachs justru aktif memborong saham blue chip di pasar Indonesia seperti BBRI.
Fenomena ini terjadi saat kondisi ekonomi makro sedang berada dalam fase yang cukup dinamis di kuartal kedua tahun ini. Salah satu faktor yang turut memengaruhi sentimen pasar adalah rilis data inflasi Indonesia periode Mei 2026 yang menyentuh angka 3,08 persen secara tahunan (YoY).
Kenaikan tingkat inflasi ini terutama dipicu oleh lonjakan harga komoditas pangan seperti beras serta komoditas investasi seperti emas. Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi bahwa harga beras mengalami kenaikan signifikan di semua jalur distribusi hingga Mei 2026.
Di sisi lain, sektor energi dan pertambangan seperti BUMI juga tengah menghadapi tantangan regulasi ekspor dan isu pembentukan Danantara Sumberdaya. Sejumlah emiten pertambangan besar termasuk BYAN, AADI, hingga INDY juga terus memantau kebijakan ekspor batu bara melalui skema DSI Energi.
Poin-poin penting mengenai kondisi terkini emiten tambang dan pasar modal di Indonesia :
- Adanya tren akuisisi tambang di luar negeri yang dilakukan oleh beberapa emiten besar asal Indonesia secara serentak.
- Langkah strategis konglomerat besar seperti Prajogo Pangestu hingga Grup Salim dalam memperluas ekspansi ke sektor tambang emas.
- Kekhawatiran pelaku usaha mengenai tekanan margin akibat kebijakan pembentukan lembaga Danantara Sumberdaya.
- Peningkatan nilai ekspor non-migas pada April 2026 yang tumbuh hingga 21,98 persen di tengah surplus neraca dagang yang semakin menipis.
Rangkaian faktor tersebut menciptakan peta persaingan yang kompleks bagi para pengelola dana internasional dalam mengalokasikan modalnya di tanah air. Bagi Dimensional Fund, pelepasan saham BUMI mungkin merupakan bagian dari evaluasi portofolio guna memitigasi risiko di sektor komoditas yang fluktuatif.
Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk tetap menjadi salah satu fokus utama pasar mengingat statusnya sebagai pemain kunci dalam ekspor batu bara nasional. Dinamika kepemilikan saham oleh investor institusi asing ini diprediksi akan terus berlanjut seiring dengan rilis laporan keuangan dan data ekonomi makro mendatang.