Darurat Schooling without Learning: Tantangan Pendidikan Indonesia 2026 yang Banyak Dicari

Darurat Schooling without Learning: Tantangan Pendidikan Indonesia 2026 yang Banyak Dicari
Foto: Darurat Schooling without Learning: Tantangan Pendidikan Indonesia 2026 yang Banyak Dicari. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Di tengah pesatnya transformasi digital dan adopsi kecerdasan buatan di dunia pendidikan, Indonesia menghadapi situasi paradoks yang mengkhawatirkan. Meski infrastruktur pendidikan telah berkembang secara masif selama beberapa dekade, peningkatan ini belum sejalan dengan daya pikir manusia di dalamnya. Banyak sekolah dibangun dan jumlah sarjana melonjak, namun sering kali rutinitas administratif mengesampingkan tujuan utama pendidikan: memanusiakan manusia.

Fenomena "sekolah tanpa belajar" ini menjadi pokok bahasan dalam forum Ngkaji Pendidikan yang bertajuk "Membaca? See the Unseen". Acara yang diselenggarakan oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Yogyakarta pada 9 Mei 2026 ini dihadiri sekitar 500 pendidik dari berbagai daerah. Diskusi dalam forum ini tidak berfokus pada teknis kurikulum, melainkan menggali kesadaran dan kemampuan untuk melihat hal-hal "tak kasat mata" di ruang kelas.

Pendiri GSM sekaligus dosen Universitas Gadjah Mada, Muhammad Nur Rizal, memaparkan data yang mencerminkan ketidakseimbangan antara kuantitas dan kualitas pendidikan. Dari tahun 1970 hingga 2020, jumlah sekolah di Indonesia meningkat dari 100.000 menjadi lebih dari 300.000. Perguruan tinggi kini melebihi 4.000 kampus, dan lulusan sarjana melesat ke angka 1,3 juta pada 2025.

Namun, data PISA 2022 menunjukkan bahwa kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia masih jauh tertinggal dibanding negara-negara OECD. Ironisnya, literasi lulusan sarjana di Jakarta setara dengan lulusan SMP di Jepang atau negara-negara Skandinavia. "Sekolah bertambah, tetapi kemampuan berpikir tidak tumbuh," ujar Rizal.

Fenomena ini disebutnya sebagai schooling without learning, kondisi di mana sekolah lebih berfungsi mekanis tanpa menghadirkan proses belajar yang substantif. Di media sosial, hal ini semakin terlihat dengan munculnya unggahan siswa SMA yang ternyata belum menguasai perkalian dasar atau pengetahuan umum sederhana.

Ketimpangan ini mempertegas bahwa durasi seseorang menempuh sekolah tidak otomatis berbanding lurus dengan peningkatan kualitas berpikirnya. Rizal menambahkan, tantangan pendidikan di Indonesia tidak hanya terletak pada aspek kognitif, tetapi juga lemahnya struktur mental peserta didik.

Angka perundungan yang mencapai 41 persen, hampir dua kali lipat dari rata-rata global, serta rendahnya pola pikir bertumbuh menjadi indikasi bahwa lingkungan belajar belum efektif melatih ketahanan berpikir. Rizal menganalogikan situasi pendidikan saat ini dengan hukum entropi dalam termodinamika, memperingatkan bahwa "jika dibiarkan tanpa refleksi dan kesadaran, sistem akan bergerak menuju ketidakteraturan dan keruntuhan."

Artikel terkait

Rekomendasi